KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih mencatatkan defisit pada Juni 2026. Namun, besarnya defisit diproyeksikan jauh lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya, seiring mulai meredanya tekanan dari impor migas akibat penurunan harga minyak dunia.
Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Juni mengalami defisit sebesar US$ 210 juta, lebih rendah dibandingkan Mei yang defisit US$ 1,61 miliar. "Proyeksi perdagangan untuk bulan Juni masih defisit, tetapi defisitnya turun menjadi sekitar US$ 210 juta," ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (2/8/2026). Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Diprediksi Defisit US$ 1,46 Miliar pada Juni 2026 Menurut Myrdal, meskipun harga minyak dunia mulai menurun pada Juni, level harganya masih relatif tinggi sehingga nilai impor migas tetap memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan. Selain itu, impor bahan baku (raw material) juga diperkirakan masih tumbuh kuat. Hal ini didorong oleh permintaan domestik yang dinilai masih cukup solid, meskipun aktivitas manufaktur menunjukkan perlambatan yang tercermin dari penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur. Myrdal menyebut, kebutuhan impor tidak hanya berasal dari sektor manufaktur, tetapi juga didukung oleh konsumsi rumah tangga. "Permintaan untuk impor bahan baku manufaktur maupun kebutuhan konsumsi masih cukup kuat, terutama impor pangan dan peralatan otomotif," jelasnya. Di sisi lain, kinerja ekspor masih memperoleh dukungan dari sejumlah komoditas unggulan Indonesia. Myrdal menilai ekspor batu bara, minyak sawit mentah (CPO), nikel, dan emas masih menjadi penopang utama sehingga membantu menahan pelebaran defisit perdagangan. Lebih lanjut, Myrdal memperkirakan defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) pada kuartal II 2026 akan mencapai sekitar 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, neraca pembayaran Indonesia alias balance of payments (BOP) juga diperkirakan masih mengalami defisit sekitar US$ 2,3 miliar pada kuartal II 2026. Meski demikian, ia menilai kondisi sektor eksternal masih relatif terjaga. Salah satu penopangnya adalah derasnya aliran masuk modal asing ke instrumen keuangan domestik, terutama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). "Arus masuk ke SRBI dan obligasi pemerintah masih cukup besar sehingga menjadi penopang sektor eksternal," katanya. Baca Juga: Kawasan Transmigrasi Didorong Jadi Pusat Pertumbuhan Baru Myrdal juga mengingatkan bahwa ketahanan eksternal Indonesia masih tercermin dari posisi cadangan devisa yang meningkat menjadi US$ 145,6 miliar pada Juni 2026, dibandingkan US$ 144,9 miliar pada Mei 2026. Kenaikan tersebut dinilai memberikan bantalan bagi stabilitas eksternal meskipun neraca pembayaran masih diperkirakan mengalami defisit. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News