KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih mencatatkan defisit pada Juni 2026, melanjutkan tren negatif yang muncul pada Mei setelah 72 bulan berturut-turut mencetak surplus. Sejumlah ekonom menilai tingginya impor, terutama untuk barang modal dan produk dari China, masih menjadi faktor utama yang menekan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan neraca perdagangan Juni 2026 mengalami defisit sebesar US$ 1,46 miliar, sedikit membaik dibandingkan defisit Mei yang mencapai US$ 1,61 miliar.
Baca Juga: Neraca Dagang Indonesia Diprediksi Defisit US$ 1,46 Miliar pada Juni 2026 David memproyeksikan nilai ekspor Indonesia pada Juni tumbuh 3,3% secara tahunan (yoy) dan naik 4,33% dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, impor diperkirakan melonjak 32,79% secara tahunan dan meningkat 3,46% secara bulanan (mtm). "Neraca perdagangan diproyeksikan masih defisit akibat kenaikan impor yang cukup tinggi," ujar David. Menurutnya, penurunan harga minyak dunia sepanjang Juni belum mampu mengembalikan neraca perdagangan ke jalur surplus. Pasalnya, lonjakan impor masih cukup besar, terutama berasal dari China untuk memenuhi kebutuhan mesin, produk elektronik, dan perabotan. Tingginya impor barang-barang tersebut menjadi penahan utama perbaikan neraca perdagangan. Sementara itu, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan defisit perdagangan pada Juni lebih kecil, yakni sekitar US$ 700 juta. Irman menilai penyempitan defisit didorong oleh dua faktor.
Baca Juga: Permintaan Ekspor Melemah, Neraca Dagang Juni Diperkirakan Masih Defisit Pertama, koreksi harga minyak dunia diperkirakan menekan nilai impor migas.
Kedua, impor barang modal diproyeksikan melambat setelah meningkat tajam pada bulan sebelumnya. Meski demikian, Irman mengingatkan bahwa kinerja ekspor masih dibayangi pelemahan permintaan global. Perlambatan ekonomi di China dan Amerika Serikat pada kuartal II-2026 diperkirakan mengurangi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia. Selain itu, ketidakpastian akibat kebijakan tarif perdagangan internasional serta masih lemahnya aktivitas manufaktur global dinilai turut membatasi ruang pemulihan ekspor nasional. Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto bahkan memperkirakan defisit neraca perdagangan Juni hanya sekitar US$ 210 juta. Menurut Myrdal, meski harga minyak dunia mulai menurun, levelnya masih relatif tinggi sehingga impor migas tetap membebani neraca perdagangan.
Baca Juga: Neraca Dagang RI Terancam Defisit di April 2026, Efek Adanya Lonjakan Impor Namun, tekanan tersebut diperkirakan tertahan oleh kuatnya ekspor sejumlah komoditas unggulan seperti batubara, minyak sawit mentah (CPO), nikel, dan emas. Defisit perdagangan yang berlanjut diperkirakan memberi tekanan terhadap transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026. Namun, kondisi sektor eksternal diperkirakan tetap terjaga berkat derasnya arus masuk modal portofolio ke pasar keuangan domestik, terutama ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Irman menilai perbaikan pada sisi transaksi finansial berpotensi mengompensasi tekanan pada transaksi berjalan sehingga ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga pada kuartal II-2026. Di sisi lain, Myrdal memperkirakan defisit transaksi berjalan atau
current account deficit (CAD) mencapai sekitar 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2026. Sementara itu, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diproyeksikan masih mencatatkan defisit sekitar US$ 2,3 miliar pada periode yang sama. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News