KONTAN.CO.ID – NEW YORK. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggunakan pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membela tindakan Israel di kawasan Timur Tengah sekaligus menghadapi kritik internasional yang semakin tajam. Pidato Netanyahu pada Kamis (24/9/2026) berlangsung di tengah tekanan diplomatik terhadap Israel terkait perang di Gaza. Puluhan delegasi meninggalkan ruang sidang saat Netanyahu mulai menyampaikan pidatonya sebagai bentuk protes. Netanyahu menyebut para delegasi yang meninggalkan ruang sidang tersebut sebagai "pengecut moral". Sementara itu, para pendukung Israel yang berada di balkon meneriakkan slogan dalam bahasa Ibrani yang berarti, "Bangsa Israel Masih hidup."
Dalam pidatonya, Netanyahu juga menyerang sejumlah pihak yang menurutnya menyebarkan tuduhan terhadap Israel. Ia secara khusus mengkritik Wali Kota New York Zohran Mamdani yang sebelumnya menyebut Netanyahu sebagai penjahat perang. "Kalian mencoba menghentikan saya datang ke sini. Kalian mencoba. Kalian mencoba membungkam saya. Tetapi kalian tidak bisa membungkam saya. Kalian tidak bisa membungkam kebenaran," kata Netanyahu.
Baca Juga: Populasi Singapura Tembus Rekor 6,21 Juta, Warga Asing Naik 3,7% Mamdani sebelumnya berkampanye dengan janji akan menangkap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang apabila perdana menteri Israel tersebut datang ke New York. Namun, Mamdani kemudian mengatakan dirinya tidak memiliki kewenangan hukum untuk melakukan penangkapan tersebut. Pada pekan ini, Mamdani kembali menyebut Netanyahu sebagai "arsitek genosida mengerikan terhadap rakyat Palestina." Dalam kunjungan pertamanya ke New York sejak Mamdani menjabat sebagai wali kota pada Januari 2026, Netanyahu membantah tuduhan tersebut. "Berikut adalah kebenaran sederhana: Israel tidak melakukan genosida. Israel mencegah genosida," ujar Netanyahu. Netanyahu juga menuduh Mamdani mendukung kelompok militan Hamas, tuduhan yang telah dibantah oleh wali kota New York tersebut. "Kepada semua pihak yang menyebarkan kebohongan tentang negara saya dan tentang para prajurit kami yang berani, baik mereka duduk di ruangan ini maupun di kantor wali kota New York yang antisemit, saya katakan: Malu kepada kalian!" kata Netanyahu.
Mamdani Balas Tuduhan Netanyahu
Mamdani menanggapi pidato Netanyahu melalui sebuah pernyataan. Ia menilai Netanyahu kembali menyampaikan tuduhan yang tidak berdasar untuk membela tindakan Israel di Palestina. "Seperti yang telah dilakukannya berkali-kali, Perdana Menteri Netanyahu menggunakan pidatonya untuk mengulangi kebohongan tidak berdasar yang dimaksudkan untuk memutihkan genosidanya terhadap rakyat Palestina," kata Mamdani.
Baca Juga: Poundsterling Tertekan, Dolar AS Menguat di Tengah Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga "Namun, tidak ada kebohongan yang dapat mengubah fakta bahwa ia tetap menjadi subjek surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional yang menuduhnya melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan," lanjutnya. Perdebatan mengenai tuduhan genosida tersebut berlangsung di tengah proses hukum internasional terkait konflik Gaza. Sekretaris Jenderal PBB sebelumnya mengatakan Mahkamah Internasional telah mengeluarkan langkah-langkah sementara yang mengikat secara hukum dalam perkara terkait Konvensi Genosida di Gaza. Israel sendiri menolak tuduhan genosida dan menyatakan operasi militernya ditujukan kepada Hamas.
Netanyahu Kritik Qatar dan Turki
Netanyahu juga mengkritik Qatar dan Turki dalam pidatonya. Ia menuduh kedua negara tersebut menyebarkan informasi yang menurutnya tidak benar mengenai Israel. Qatar membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan serangan Netanyahu terhadap Doha berulang kali digunakan untuk mengalihkan perhatian dari tanggung jawab atas kebijakan dan tindakan di lapangan. Turki juga menolak tuduhan Netanyahu terhadap Presiden Tayyip Erdogan dan pemerintah Turki. Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki Burhanettin Duran menyebut pernyataan Netanyahu tidak berdasar. "Pernyataan Netanyahu yang lancang dan tercela yang ditujukan kepada Presiden kami tidak dapat mengaburkan pembantaiannya, bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung di Gaza, maupun proses hukum yang berlangsung berdasarkan hukum internasional," kata Duran.
Pidato Netanyahu Bernuansa Kampanye
Pidato Netanyahu berlangsung kurang dari lima pekan sebelum pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026. Ia berbicara sekitar 40 menit dalam pidato yang bernuansa kampanye dan disiarkan secara langsung pada jam tayang utama malam hari oleh empat stasiun televisi utama Israel. Reuters melaporkan jajak pendapat menunjukkan blok Netanyahu tertinggal dari para pesaingnya menjelang pemilu. Sebelum pidato berlangsung, kantor Netanyahu mengatakan pemerintah Israel membayar pemasangan sekitar 500 papan reklame pro-Israel dan anti-Iran serta puluhan truk dengan pesan dukungan terhadap Israel di berbagai lokasi di Manhattan.
Baca Juga: GM dan Ford Kehilangan Pangsa Pasar AS, Konsumen Beralih Mobil Irit BBM Dalam pidatonya, Netanyahu menyoroti apa yang disebutnya sebagai perjuangan Israel di tujuh front, termasuk konflik dengan Iran yang dimulai setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Netanyahu juga menggunakan sejumlah alat peraga, termasuk sebuah pager yang dikaitkan dengan serangan terhadap anggota Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon dan perangkat penerima internet satelit Starlink. Ia mengatakan perangkat Starlink tersebut akan ditinggalkan untuk delegasi Iran. "Jadi, ketika mereka akhirnya membelot, mereka juga akan dapat menceritakan kisah mereka secara bebas di media sosial," ujar Netanyahu. Ia juga mengatakan hanya masalah waktu sebelum pemerintah Iran digulingkan oleh rakyatnya.
Demonstrasi di Sekitar Markas PBB
Di luar gedung PBB di New York, beberapa ratus demonstran berkumpul untuk memprotes kebijakan Israel. Puluhan demonstran dilaporkan memblokir lalu lintas sambil meneriakkan seruan, "Hentikan mempersenjatai Israel, biarkan Gaza hidup" dan "Hentikan mempersenjatai Israel, biarkan Iran hidup." Polisi kemudian menahan sejumlah demonstran. Dalam kunjungan singkatnya ke Amerika Serikat untuk menghadiri Sidang Umum PBB, Netanyahu tidak memiliki agenda pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump. Namun, ia tetap memberikan pujian terhadap Trump dalam pidatonya. "Kami akan terus mempertahankan negara kami. Kami akan terus menang karena kami tidak punya pilihan lain. Dalam pertempuran melawan kaum barbar ini, kami tidak memiliki mitra yang lebih besar daripada Presiden Trump. Saya berterima kasih kepadanya. Saya berterima kasih atas kepemimpinannya yang berani," kata Netanyahu.
Israel Hadapi Tekanan Diplomatik
Israel menghadapi tekanan diplomatik yang semakin besar sejak melancarkan perang di Gaza sebagai respons terhadap serangan Hamas pada Oktober 2023. Konflik tersebut telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas dan menjadi salah satu isu utama dalam agenda Sidang Umum PBB tahun ini.
Baca Juga: Tesla Mulai Kirim Truk Listrik Semi, Bidik Pasar Angkutan Jarak Jauh Netanyahu juga menghadapi pembatasan perjalanan ke sejumlah negara setelah Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya dan mantan menteri pertahanan Israel serta komandan militer Hamas pada 2024. Pada awal September, Inggris, Prancis, dan Kanada mengumumkan sanksi yang menargetkan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Langkah tersebut mendapat respons terbatas dari Washington. Netanyahu mengkritik kebijakan negara-negara Barat tersebut.
"Para pemimpin negara-negara ini memilih untuk tunduk kepada massa antisemit. Mereka memilih kelemahan. Mereka memilih kebijakan appeasement," kata Netanyahu. Ia juga mengecilkan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat dengan menyebut pelakunya sebagai kelompok kecil anak muda yang melakukan tindakan kriminal. "Mereka hanya segelintir anak muda yang nakal, sekitar 150 orang, yang melempar batu dan menebang pohon zaitun," ujarnya. "Sesekali mereka juga membakar sesuatu. Saya tidak tahan dengan itu. Saya tidak akan membiarkan aksi main hakim sendiri. Kami adalah negara yang berdasarkan hukum," kata Netanyahu.