KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan menerima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Rabu (11/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu diperkirakan akan mendorong agar pembicaraan AS dengan Iran tidak hanya berfokus pada program nuklir, tetapi juga mencakup pembatasan persenjataan rudal Teheran serta ancaman keamanan lainnya. Ini merupakan pertemuan ketujuh kedua pemimpin sejak Trump kembali menjabat hampir 13 bulan lalu.
Baca Juga: Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Thailand 2026 Jadi 1,6% Netanyahu berupaya memengaruhi arah putaran lanjutan diplomasi AS-Iran setelah pembicaraan nuklir yang berlangsung di Oman pekan lalu, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran jika kesepakatan tidak tercapai. Teheran membalas dengan ancaman akan melakukan pembalasan, memicu kekhawatiran perang regional yang lebih luas. Meski demikian, Trump berulang kali menegaskan dukungannya terhadap keamanan Israel, sekutu dekat Washington dan musuh utama Iran di kawasan. Dalam sejumlah wawancara media pada Selasa, Trump kembali memperingatkan bahwa ia siap mengambil langkah “sangat keras” jika Iran menolak mencapai kesepakatan. Ia juga mengungkapkan kemungkinan pengiriman kelompok kapal induk kedua sebagai bagian dari peningkatan besar kehadiran militer AS di sekitar Iran.
Baca Juga: Anggaran Militer US$40 Miliar Taiwan Mandek, Menteri Pertahanan Soroti Ancaman China Kekhawatiran Israel atas Kesepakatan “Sempit” Israel khawatir Washington akan menyepakati perjanjian nuklir yang terbatas dan tidak mencakup pembatasan program rudal balistik Iran maupun penghentian dukungan Teheran terhadap kelompok proksi bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah. “Saya akan menyampaikan kepada presiden pandangan kami mengenai prinsip-prinsip dalam negosiasi,” kata Netanyahu sebelum bertolak ke AS. Selain diplomasi, kedua pemimpin juga dapat membahas opsi aksi militer jika perundingan AS-Iran gagal. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menegaskan bahwa pembicaraan seharusnya mencakup isu rudal Iran, dukungan terhadap kelompok proksi, serta isu hak asasi manusia.
Baca Juga: Tarif AS Tekan Industri Bunga Kolombia di Tengah Lonjakan Permintaan Valentine Namun Iran menyatakan bahwa pertemuan di Oman hanya membahas isu nuklir dan menolak pembatasan terhadap program rudalnya. Iran menegaskan program nuklirnya bertujuan damai. Sementara AS dan Israel menuduh Teheran pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir. Pada Juni lalu, AS bahkan bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dalam konflik singkat selama 12 hari. Gaza dan Isu Palestina Agenda pertemuan juga akan mencakup situasi Gaza. Trump berupaya mendorong implementasi kesepakatan gencatan senjata yang ia bantu fasilitasi. Namun kemajuan masih terhambat perbedaan tajam, termasuk soal pelucutan senjata Hamas dan penarikan bertahap pasukan Israel. Rencana Gaza Trump juga membuka kemungkinan pembentukan negara Palestina di masa depan, gagasan yang lama ditentang Netanyahu dan koalisi pemerintahannya yang paling kanan dalam sejarah Israel.
Baca Juga: Bitcoin Rontok 45%, Dekati Dasar Bear Market Baru-baru ini, kabinet keamanan Israel menyetujui langkah yang mempermudah pemukim Israel membeli tanah di Tepi Barat yang diduduki, keputusan yang menuai kecaman internasional. Trump sendiri menegaskan penolakannya terhadap aneksasi wilayah. “Saya menentang aneksasi. Kita sudah memiliki cukup banyak hal untuk dipikirkan saat ini,” ujarnya kepada Axios. Iran yang Melemah Namun Masih Diwaspadai Pengaruh regional Iran dinilai melemah setelah serangan Israel pada Juni serta pukulan terhadap kelompok proksi Teheran, termasuk Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi di Irak. Kejatuhan Presiden Suriah Bashar al-Assad, sekutu dekat Iran, juga mengurangi posisi strategis Teheran.
Baca Juga: ByteDance Kembangkan Chip AI Sendiri, Jajaki Kerja Sama Produksi dengan Samsung Namun Israel tetap mewaspadai kemungkinan Iran membangun kembali kemampuan pertahanan udara dan persenjataan rudalnya, yang dianggap sebagai ancaman strategis jangka panjang. Meski hubungan Trump dan Netanyahu selama ini relatif selaras dan AS tetap menjadi pemasok utama senjata Israel, pertemuan kali ini berpotensi memunculkan perbedaan pandangan, khususnya terkait arah diplomasi dengan Iran dan masa depan Palestina.