New York Gugat Polymarket, Legalitas Pasar Prediksi Jadi Sengketa



KONTAN.CO.ID - Perselisihan mengenai legalitas pasar prediksi di Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru.

Jaksa Agung New York Letitia James menggugat platform prediksi Polymarket, sementara Polymarket mengajukan gugatan balik terkait kewenangan pemerintah negara bagian dalam mengatur bisnis tersebut.

Mengutip Reuters, gugatan James diajukan ke pengadilan negara bagian di Manhattan pada Kamis (24/9).


Baca Juga: Harga Minyak Turun, Pasar Cermati Prospek Gencatan Senjata AS dengan Iran

Langkah ini memperluas upaya New York untuk menertibkan platform pasar prediksi yang memungkinkan pengguna memasang taruhan atas hasil suatu peristiwa.

New York menilai Polymarket beroperasi tanpa lisensi yang diwajibkan New York State Gaming Commission.

Pemerintah negara bagian juga menuduh platform tersebut mendorong perilaku perjudian bermasalah, khususnya di kalangan pengguna berusia di bawah 21 tahun, serta berpotensi membahayakan kondisi finansial, emosional dan fisik pengguna.

"Dengan menjalankan operasi perjudian tanpa izin, Polymarket bukan hanya dengan sengaja melanggar hukum negara bagian, tetapi juga menempatkan warga New York dalam risiko," kata Gubernur New York Kathy Hochul.

Gugatan New York meminta pengenaan denda perdata, penyitaan keuntungan yang diperoleh secara ilegal serta pengembalian dana kepada pelanggan.

Baca Juga: Ini Daftar Tamu yang Hadiri Jamuan Makan Malam Kenegaraan Trump-Xi

Polymarket gugat balik

Beberapa jam setelah gugatan New York diajukan, Polymarket melawan melalui gugatan di pengadilan federal Manhattan.

Perusahaan tersebut berargumen bahwa Commodity Futures Trading Commission (CFTC) memiliki kewenangan eksklusif untuk mengatur pasar prediksi.

Polymarket juga menyatakan New York menempatkan perusahaan pada pilihan yang sulit, yakni mematuhi regulator negara bagian yang dinilai dapat mengganggu hak perusahaan untuk beroperasi secara nasional berdasarkan hukum federal, atau tetap beroperasi dan menghadapi potensi tuntutan pidana.

"Ini merupakan klaim kewenangan negara bagian yang luar biasa dan secara tegas dilarang oleh hukum federal," kata Polymarket dalam gugatannya.

Chief Legal Officer Polymarket Neal Kumar mengatakan perusahaan sebelumnya telah berupaya menyelesaikan perbedaan dengan pejabat New York. Namun, menurut dia, pemerintah negara bagian memilih membawa persoalan tersebut ke ruang publik.

Polymarket meminta pengadilan menyatakan New York tidak berwenang menerapkan aturan perjudian perdata maupun pidana negara bagian terhadap perusahaan tersebut.

Baca Juga: Bursa Australia Turun Jumat (25/9), Harga Minyak Picu Kekhawatiran Suku Bunga

Sengketa kewenangan regulator

Kasus ini menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai siapa yang berwenang mengawasi pasar prediksi di AS dan apakah aktivitas tersebut masuk kategori perjudian ilegal.

New York sebelumnya telah mengambil langkah hukum terhadap sejumlah perusahaan lain, termasuk Kalshi, Coinbase Financial Markets dan Gemini Titan, dengan tuduhan serupa terkait operasi tanpa lisensi perjudian negara bagian.

Pasar prediksi berkembang pesat setelah sejumlah platform dinilai mampu menghasilkan prediksi yang lebih akurat dibandingkan jajak pendapat dalam pemilihan presiden AS 2024. Perkembangan tersebut kemudian mendorong sejumlah negara bagian memperketat pengawasan.

Di sisi lain, pemerintah negara bagian menghadapi perbedaan pandangan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump dan CFTC mengenai kewenangan atas industri tersebut.

Pengadilan banding federal di AS juga telah memiliki pandangan yang berbeda mengenai regulator yang seharusnya mengawasi pasar prediksi.

Perbedaan tersebut membuka kemungkinan persoalan ini pada akhirnya dibawa ke Mahkamah Agung AS.

Didirikan pada 2020, Polymarket menyebut dirinya sebagai pasar prediksi terbesar di dunia. Platform tersebut sempat tidak beroperasi di pasar AS selama lebih dari tiga tahun sebelum kembali pada Desember 2025, setelah memperoleh persetujuan CFTC tiga bulan sebelumnya.

Baca Juga: Trump dan Xi Bertemu di Gedung Putih, Belum Ada Terobosan Dagang dan AI

Sorotan pada usia pengguna

Salah satu keberatan utama New York berkaitan dengan batas usia pengguna. James menyoroti keputusan Polymarket mengizinkan pengguna berusia 18 hingga 20 tahun mengakses platform, sementara batas usia untuk taruhan olahraga melalui perangkat seluler di New York adalah 21 tahun.

James menilai pasar prediksi pada dasarnya merupakan perjudian karena pengguna mempertaruhkan uang pada hasil suatu peristiwa yang berada di luar kendali mereka dan memperoleh pembayaran apabila prediksinya benar.

Dalam gugatannya, New York mencontohkan kontrak prediksi mengenai pertandingan bisbol antara Los Angeles Dodgers dan New York Mets pada 24 Juli 2026, termasuk taruhan apakah Dodgers akan menang dengan selisih lebih dari 1,5 run. Dodgers akhirnya menang 4-2.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Jumat (25/9), Pasar Timbang Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

Kasus Polymarket juga memiliki dimensi politik dan bisnis. Perusahaan tersebut menerima investasi pada tahun lalu dari 1789 Capital, perusahaan modal ventura yang didukung Donald Trump Jr., putra tertua Presiden Trump. Trump Jr. merupakan partner di perusahaan tersebut sekaligus penasihat Polymarket.

Pemerintah New York menyebut nilai bisnis Polymarket dilaporkan telah melampaui US$20 miliar.

Sengketa antara New York dan Polymarket kini menjadi salah satu kasus penting bagi masa depan industri pasar prediksi di AS.

Putusan pengadilan dapat mempengaruhi model bisnis platform sejenis, sekaligus menentukan batas kewenangan regulator negara bagian dan federal terhadap pasar prediksi.