NexAI (MGLV) Keluar dari Daftar HSC, Prospek Saham Masih Dibayangi Risiko Ekspansi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) berpeluang memperoleh tambahan minat investor setelah keluar dari kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Meski porsi saham publik meningkat, prospek pergerakan saham MGLV masih akan bergantung pada realisasi ekspansi bisnis pusat data atau data center berbasis kecerdasan buatan (AI) serta perbaikan kinerja keuangan.

Berdasarkan pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 Oktober 2026, MGLV tidak lagi masuk kategori HSC berdasarkan kajian per 30 September 2026. Porsi saham free float atau saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publik meningkat menjadi 37,29% dari sebelumnya 32,92%. Sementara itu, kepemilikan pengendali tercatat sebesar 62,71%.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai, peningkatan porsi saham publik berpotensi memperluas basis investor dan memperbaiki likuiditas perdagangan MGLV. Namun, perubahan status tersebut tidak serta-merta menjamin kenaikan harga saham.


Baca Juga: BUMI Pacu Transformasi Bisnis dan Tata Kelola

“Keluarnya MGLV dari daftar HSC berpotensi meningkatkan kepercayaan investor karena free float naik menjadi 37,29%. Kondisi ini dapat memperluas basis investor dan memperbaiki likuiditas perdagangan. Namun, dampaknya terhadap harga saham tetap bergantung pada minat beli dan persepsi pasar terhadap valuasi perusahaan,” ujar Alrich kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).

Menurut dia, prospek MGLV juga menarik dari sisi pertumbuhan industri AI dan data center. Perusahaan menargetkan kapasitas data center mencapai 102 megawatt (MW) di Jababeka dan Batang pada kuartal II-2027.

Meski demikian, realisasi ekspansi tersebut masih menjadi faktor penting yang perlu dicermati investor. Alrich menilai, kemampuan perusahaan mengonversi tambahan kapasitas menjadi pendapatan akan menentukan prospek bisnis MGLV ke depan.

“Untuk long term prospeknya memang menarik, tetapi risikonya masih tinggi karena transformasi bisnis belum sepenuhnya tercermin dalam kinerja keuangan,” katanya.

Dari sisi kinerja keuangan, MGLV masih menghadapi tekanan. Pada semester I-2026, perusahaan membukukan pendapatan Rp 26,1 miliar, turun 74,6% secara tahunan, serta mencatat rugi bersih Rp 14,1 miliar.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, besarnya peluang di industri data center belum cukup menjadi dasar optimisme terhadap kinerja perusahaan apabila belum disertai realisasi pembangunan, utilisasi kapasitas, dan kontrak pelanggan.

“Artinya, potensi bisnis ke depan cukup besar, tetapi kontribusi pendapatan dari bisnis baru perlu dibuktikan melalui realisasi pembangunan, utilisasi kapasitas, dan kontrak pelanggan,” ujar Elandry.

Baca Juga: Belanja Eksplorasi Berlanjut, Simak Prospek Saham BRMS, ARCI, EMAS, ENRG, DEWA

Menurut dia, meningkatnya kebutuhan komputasi AI, ekspansi layanan cloud, dan permintaan infrastruktur data center menjadi peluang bagi MGLV. Namun, perusahaan juga menghadapi tantangan berupa kebutuhan belanja modal yang besar, kepastian pendanaan, kecepatan pembangunan, serta kemampuan mengamankan pelanggan dengan kontrak jangka panjang.

Elandry menambahkan, investor perlu membedakan antara rencana ekspansi dan pertumbuhan bisnis yang sudah terealisasi. Ekspektasi terhadap perkembangan industri AI dan data center juga berpotensi telah tercermin dalam valuasi saham.

“Katalis berikutnya bukan sekadar perubahan status HSC atau narasi AI, melainkan bukti bahwa ekspansi tersebut mampu menghasilkan pendapatan dan arus kas yang berkelanjutan,” katanya.

Terkait strategi investasi, Alrich menilai saham MGLV masih dapat dipertimbangkan untuk perdagangan jangka pendek dengan memperhatikan level teknikal. Ia menyebut area support di Rp 12.500 per saham, dengan target Rp 15.000 per saham. Investor juga perlu membatasi risiko apabila harga menembus ke bawah level Rp 12.300 per saham.

Sementara itu, Elandry cenderung menyarankan pendekatan wait and see bagi investor konservatif. Adapun investor dengan toleransi risiko tinggi dapat mencermati MGLV secara spekulatif dengan pengelolaan risiko yang ketat.

Elandry belum menetapkan target harga baru untuk saham MGLV. Menurut dia, penilaian valuasi perlu mempertimbangkan proyeksi arus kas, kebutuhan pendanaan, dan realisasi kapasitas data center.

Pada penutupan perdagangan Rabu (14/10/2026), saham MGLV melemah 1,14% ke level Rp 13.000 per saham.

Baca Juga: Harga Aset Kripto Masuk Fase Konsolidasi, Dominasi Bitcoin Tetap Kokoh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News