Krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008 menjadi titik balik perjalanan usaha Ngadi Raharja. Bisnis ekspor mebelnya yang mandek, lantaran minim pembeli di tengah kondisi ekonomi dunia yang memburuk, membuat Ngadi harus banting setir usaha. Agar sisa bahan baku kayu untuk pembuatan mebel tidak terbuang percuma, dia pun memiliki ide untuk membuat mainan anak-anak dari kayu-kayu tersebut. Satu hal yang membuatnya langsung berkomitmen di bidang ini karena bahan baku yang dibutuhkan tidak perlu terbuat dari jenis kayu yang berkualitas bagus, seperti jati atau mahoni. Dia bilang, untuk membuat mainan ini masih bisa menggunakan jenis jenis kayu apa pun. Bahkan, limbah kayu dari tukang kayu juga bisa digunakan. "Kami ikut mendaur ulang kayu bekas, daripada dibakar dan dibuang, " kata Ngadi. Awal memasarkan produknya ini, Ngadi kerap datang dari rumah ke rumah. Pada saat itu, belum banyak yang tertarik dengan mainan kayunya, karena waktu itu banyak orang yang lebih tertarik dengan mainan anak yang berbahan baku dari plastik. Sementara, permintaan dari sekolah-sekolah seperti taman kanak-kanak dan taman bermain juga tidak bisa datang setiap bulan, Biasanya permintaan dari sekolah akan ramai pada saat tahun ajaran baru di pertengahan tahun.
Ngadi kerap mendatangi rumah ke rumah (2)
Krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008 menjadi titik balik perjalanan usaha Ngadi Raharja. Bisnis ekspor mebelnya yang mandek, lantaran minim pembeli di tengah kondisi ekonomi dunia yang memburuk, membuat Ngadi harus banting setir usaha. Agar sisa bahan baku kayu untuk pembuatan mebel tidak terbuang percuma, dia pun memiliki ide untuk membuat mainan anak-anak dari kayu-kayu tersebut. Satu hal yang membuatnya langsung berkomitmen di bidang ini karena bahan baku yang dibutuhkan tidak perlu terbuat dari jenis kayu yang berkualitas bagus, seperti jati atau mahoni. Dia bilang, untuk membuat mainan ini masih bisa menggunakan jenis jenis kayu apa pun. Bahkan, limbah kayu dari tukang kayu juga bisa digunakan. "Kami ikut mendaur ulang kayu bekas, daripada dibakar dan dibuang, " kata Ngadi. Awal memasarkan produknya ini, Ngadi kerap datang dari rumah ke rumah. Pada saat itu, belum banyak yang tertarik dengan mainan kayunya, karena waktu itu banyak orang yang lebih tertarik dengan mainan anak yang berbahan baku dari plastik. Sementara, permintaan dari sekolah-sekolah seperti taman kanak-kanak dan taman bermain juga tidak bisa datang setiap bulan, Biasanya permintaan dari sekolah akan ramai pada saat tahun ajaran baru di pertengahan tahun.