KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan tiba di Davos, Swiss, pada Rabu (21/1) untuk menghadiri World Economic Forum (WEF). Dalam kunjungan ini, Trump diperkirakan akan memanfaatkan forum ekonomi global tersebut untuk meningkatkan dorongannya mengakuisisi Greenland, langkah yang menuai protes dari negara-negara Eropa dan berpotensi memperlebar keretakan hubungan transatlantik terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Trump, yang menandai berakhirnya tahun pertamanya yang penuh gejolak di Gedung Putih pada Selasa, diperkirakan akan mendominasi pertemuan tahunan para elite global yang biasanya membahas tren ekonomi dunia di resor Alpen yang bersalju itu.
Dalam konferensi pers pada Selasa, Trump menyatakan akan mengadakan pertemuan di Davos terkait wilayah Greenland, yang merupakan teritori Denmark. Ia mengaku optimistis kesepakatan pada akhirnya dapat tercapai. “Saya pikir kami akan menemukan solusi yang membuat NATO sangat senang dan kami juga sangat senang. Namun kami membutuhkannya untuk tujuan keamanan. Kami membutuhkannya untuk keamanan nasional,” kata Trump.
Baca Juga: Ancaman Tarif Trump kepada Jerman Picu Wacana Boikot Piala Dunia 2026 Ketika ditanya sejauh mana ia bersedia melangkah untuk memperoleh Greenland, Trump memberikan jawaban singkat dan ambigu. “Anda akan mengetahuinya,” ujarnya. Menjelang kunjungannya ke Davos, Trump terus menyuarakan argumen bahwa “Amerika Serikat membutuhkan Greenland” sebagai pos penjagaan keamanan Arktik untuk menghadapi Rusia dan China. Ia bahkan mengancam akan melancarkan perang dagang terhadap negara-negara Eropa yang menentang langkah tersebut. Trump juga disebut semakin percaya diri setelah menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan mengambil alih kendali atas minyak negara itu. Ia berbicara mengenai kemungkinan tindakan terhadap Kuba, Kolombia, serta Iran. Trump bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer AS untuk merebut Greenland, yang saat ini memiliki pangkalan militer Amerika Serikat. Sumber-sumber yang mengetahui situasi tersebut sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa dorongan Trump terhadap Greenland berkaitan dengan ambisinya membangun warisan politik dengan memperluas wilayah Amerika Serikat dalam skala terbesar sejak 1959. Pada tahun itu, Alaska dan Hawaii resmi menjadi negara bagian ke-49 dan ke-50 AS di bawah Presiden Dwight Eisenhower. Para pemimpin NATO telah memperingatkan bahwa strategi Trump terkait Greenland dapat mengguncang aliansi tersebut. Trump juga mengaitkan isu Greenland dengan kekecewaannya karena tidak pernah menerima Hadiah Nobel Perdamaian.
Baca Juga: Trump dan Erdogan Bahas Suriah & Gaza, Turki Bakal Gabung Dewan Perdamaian Gaza Dalam pelanggaran terhadap protokol diplomatik, Trump merilis isi pesan pribadi dari Presiden Prancis Emmanuel Macron. Dalam pesan itu, Macron mendesak Trump untuk bergabung dengan para pemimpin G7 lainnya di Paris setelah Davos—sebuah gagasan yang ditolak Trump. “Saya tidak mengerti apa yang Anda lakukan terkait Greenland,” tulis Macron. Pemimpin Denmark dan Greenland telah menawarkan berbagai opsi untuk meningkatkan kehadiran Amerika Serikat di pulau strategis tersebut. Namun, hal itu belum meredakan sikap Trump. Pada Selasa, ia bahkan mengunggah gambar hasil suntingan di media sosial yang memperlihatkan dirinya menancapkan bendera Amerika Serikat di wilayah berpenduduk sekitar 57.000 orang tersebut.
Trump Akan Umumkan Rencana Perumahan di Davos
Tujuan awal Trump menghadiri Davos adalah untuk menyoroti kekuatan ekonomi Amerika Serikat. Ia dijadwalkan menyampaikan pidato utama pada Rabu, yang menurutnya akan membahas keberhasilan ekonomi domestik, meski jajak pendapat menunjukkan banyak warga AS tidak puas dengan penanganan ekonomi oleh pemerintahannya. Gedung Putih menyatakan Trump juga akan membahas tingginya biaya perumahan dengan mengumumkan rencana yang memungkinkan warga Amerika menggunakan dana tabungan pensiun 401(k) mereka sebagai uang muka pembelian rumah.
Baca Juga: Pesawat Trump Alami Gangguan Listrik, Perjalanan ke Davos Tetap Dilanjutkan “Presiden Trump akan mengumumkan inisiatif untuk menurunkan biaya perumahan, mempromosikan agenda ekonominya yang telah mendorong Amerika Serikat memimpin pertumbuhan ekonomi global, serta menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Eropa harus meninggalkan stagnasi ekonomi dan kebijakan yang menyebabkannya,” ujar seorang pejabat Gedung Putih. Selama berada di Davos, Trump juga berencana menggelar pertemuan terpisah dengan para pemimpin Swiss, Polandia, dan Mesir. Pada Kamis, Trump dijadwalkan memimpin sebuah seremoni yang merayakan Board of Peace, sebuah kelompok yang ia bentuk untuk bertujuan membangun kembali Gaza di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas.
Pernyataan Trump bahwa Board of Peace dapat menangani krisis global di luar Gaza memicu kekhawatiran, karena peran tersebut secara tradisional dijalankan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Trump mengatakan ia menyukai PBB, namun menilai lembaga itu “tidak pernah mencapai potensi penuhnya”. Trump dijadwalkan kembali ke Washington pada Kamis malam.