KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya Nike Inc. untuk memulihkan pertumbuhan bisnisnya masih menghadapi tantangan besar. Hal ini tercermin dari penurunan harga saham perusahaan pada perdagangan Rabu (1/7/2026), setelah investor menilai proses transformasi yang dijalankan produsen perlengkapan olahraga terbesar di dunia itu berlangsung lebih lambat dari yang diharapkan. Saham Nike (NYSE: NKE) turun sekitar 2% pada perdagangan awal setelah perusahaan menyampaikan proyeksi bahwa penjualan masih akan melemah pada paruh pertama tahun fiskal 2027. Prospek tersebut membayangi capaian laporan keuangan kuartal IV yang sebenarnya mampu melampaui ekspektasi pasar dari sisi pendapatan.
Meski demikian, penurunan tajam penjualan di China serta lemahnya permintaan di sejumlah pasar internasional memunculkan keraguan investor terhadap kecepatan strategi pemulihan yang dipimpin Chief Executive Officer (CEO) Elliott Hill. Analis Telsey Advisory Group, Cristina Fernandez, menilai transformasi yang dilakukan Nike masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan perbaikan kinerja yang signifikan.
Baca Juga: Taylor Swift dan Travis Kelce Dikabarkan Segera Menikah, Lokasi Masih Rahasia "Proses pemulihan Nike berjalan secara perlahan. Tren penjualan masih lemah di sebagian besar lini bisnis seperti sportswear maupun di pasar internasional, dan kemungkinan baru akan benar-benar pulih sebelum tahun fiskal 2028," ujar Fernandez. Sentimen negatif terhadap Nike turut menyeret saham para pesaingnya di Eropa. Saham Adidas dan Puma masing-masing terkoreksi sekitar 1% pada perdagangan yang sama. Sepanjang tahun ini, saham Nike telah kehilangan sekitar 35% nilainya. Perusahaan masih berupaya merebut kembali pangsa pasar yang sebelumnya tergerus oleh para pesaing seperti Anta, Li Ning, dan Hoka.
Strategi "Win Now" Belum Berbuah Optimal
Sejak mengambil alih kepemimpinan perusahaan, Elliott Hill menjalankan strategi bertajuk "Win Now" yang berfokus mengembalikan identitas Nike sebagai perusahaan olahraga melalui percepatan inovasi produk, penguatan kerja sama dengan mitra grosir, serta efisiensi operasional. Analis Morningstar David Swartz mengatakan berbagai langkah restrukturisasi memang telah dilakukan, namun dampaknya terhadap kinerja bisnis masih terbatas. "Program 'Win Now' yang diluncurkan satu setengah tahun lalu telah menghasilkan pengurangan biaya, pengelolaan persediaan yang lebih efisien, serta reorganisasi perusahaan agar pengembangan produk dan pemasaran lebih berfokus pada olahraga. Namun, perbaikan hasil bisnis sejauh ini masih terbatas," kata Swartz. Pada kuartal IV, pendapatan Nike turun 4% menjadi US$ 10,97 miliar. Perusahaan juga memperkirakan pendapatan pada paruh pertama tahun fiskal 2027 masih akan turun pada kisaran persentase satu digit rendah hingga menengah.
Penjualan di China Masih Menjadi Beban
Salah satu tantangan terbesar Nike berasal dari pasar China. Chief Financial Officer (CFO) Matthew Friend yang akan segera mengakhiri masa jabatannya mengatakan tekanan terhadap penjualan di negara tersebut diperkirakan masih berlanjut. Menurutnya, Nike masih bekerja sama dengan para mitra ritel untuk mengurangi kelebihan stok produk yang menumpuk di pasar. Wilayah Greater China menyumbang sekitar 15% dari total pendapatan tahunan Nike, menjadikannya pasar terbesar ketiga perusahaan setelah Amerika Utara serta kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Baca Juga: Trump Akan Perkenalkan Air Force One Baru saat Resmikan Museum Theodore Roosevelt Meski demikian, sejumlah analis mulai melihat sinyal positif. Penurunan penjualan kuartal IV di China ternyata tidak sedalam proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan sekitar 20%. Hal tersebut dinilai menjadi indikasi awal bahwa strategi restrukturisasi Nike di kawasan tersebut mulai menunjukkan hasil.
Siapkan Belasan Model Sepatu Baru
Untuk memperkuat pertumbuhan bisnis, Nike berencana meluncurkan lebih dari selusin model sepatu baru dalam beberapa waktu ke depan. Namun, CEO Elliott Hill mengingatkan bahwa produk-produk baru tersebut memerlukan waktu sebelum mampu memberikan pertumbuhan penjualan yang berkelanjutan.
Perusahaan juga menyebut peningkatan aktivitas pemasaran yang berkaitan dengan ajang Piala Dunia, percepatan peluncuran produk baru, serta pulihnya permintaan produk sepak bola setelah sempat melemah pada April menjadi sinyal membaiknya momentum bisnis. Selain itu, Nike memperkirakan margin laba kotor pada kuartal pertama akan mengalami sedikit peningkatan. Analis Jefferies menilai bisnis inti Nike mulai menunjukkan stabilisasi meskipun tantangan masih besar pada lini produk sportswear dan Jordan Streetwear. "Segmen sportswear dan Jordan Streetwear masih menjadi beban dan membutuhkan waktu untuk pulih. Namun, bisnis inti Nike mulai menunjukkan stabilisasi," tulis analis Jefferies.