Nikel dan Aluminium Menguat, Timah Ambles 23%, Analis Beberkan Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga logam industri menunjukkan tren beragam sepanjang pekan ini. Aluminium dan nikel menguat, sedangkan timah terkoreksi tajam.

Melansir data Trading Economics pada penutupan perdagangan hari Jumat (27/3), aluminium dalam sepekan naik 2,53% menjadi US$ 3.275 per ton. Adapun, nikel secara mingguan menguat 0,06% ke level US$ 17.215 per ton. Sementara, timah dalam seminggu terkoreksi 23,56% menjadi US$ 44.125 per ton. 

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai arah pergerakan harga logam ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat.


"Kepastian langkah pemangkasan suku bunga The Fed (Fed Funds Rate) akan sangat menentukan kekuatan Indeks Dolar (DXY) karena Dolar yang lebih lemah biasanya menjadi bensin bagi kenaikan harga logam," kata Wahyu kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).

Baca Juga: Harga Logam Industri Variatif, Nikel dan Aluminium Menguat di Tengah Tekanan Global

Selain itu, tren permintaan struktural dari sektor teknologi dan energi hijau juga diperkirakan akan tetap menjadi penopang kuat harga logam. 

Aluminium dan nikel banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur energi terbarukan, sementara timah menjadi komponen penting dalam industri semikonduktor yang mendukung revolusi kecerdasan buatan (AI).

Di tingkat domestik, pelaku pasar harus mencermati realisasi kuota produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Kebijakan pembatasan produksi oleh Indonesia berpotensi memengaruhi pasokan global yang pada akhirnya berdampak pada harga nikel di pasar internasional.

Wahyu memproyeksikan pergerakan harga logam industri di semester I-2026 akan lebih dipengaruhi oleh dinamika pasokan dibandingkan pertumbuhan ekonomi global.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Angkat Harga Aluminium dan Nikel, Harga Timah Masih Tertekan

Ia memperkirakan harga aluminium tetap tangguh di kisaran US$ 3.000 - US$ 3.500 per ton seiring adanya defisit global sebesar 360.000 ton untuk tahun ini.

Untuk nikel, Wahyu memproyeksikan berada di rata-rata US$ 16.000 - US$ 19.000 per ton. Namun, jika pengetatan pasokan Indonesia lebih ekstrem dari perkiraan, harga berpotensi melonjak ke US$ 20.000 per ton.

Adapun, harga timah diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi di rentang US$ 40.000 - US$ 50.000 per ton karena permintaan dari sektor teknologi akan menahan pelemahan lebih lanjut.

Sejalan dengan itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan harga logam industri pada semester I-2026 cenderung stabil dengan asumsi ketegangan geopolitik berlanjut.

Ia memproyeksikan harga nikel berada di kisaran US$ 15.500 - US$ 17.000 per ton, aluminium US$ 3.000 - US$ 3.200 per ton, dan timah US$ 40.000 - US$ 43.000 per ton.

Baca Juga: Harga Nikel dan Aluminium Naik, Biaya Industri Otomotif Berpotensi Terkerek

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News