KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Aneka Tambang Tbk (
ANTM) dinilai semakin solid memasuki paruh kedua 2026. Penguatan kontribusi bisnis nikel diperkirakan mampu mengimbangi normalisasi momentum bisnis emas yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama kinerja perseroan. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Hasan Barakwan dalam riset 2 September 2026 mempertahankan rekomendasi buy saham ANTM dengan target harga tetap di level Rp 4.700 per saham. Hasan menilai kualitas laba ANTM terus membaik, didukung kontribusi nikel yang semakin kuat serta margin grup yang lebih sehat. Menurut dia, lonjakan profitabilitas bisnis nikel menunjukkan manfaat dari portofolio ANTM yang terintegrasi.
Baca Juga: Asing Net Buy Rp 1,85 Triliun Sepekan, Saham The Big Four Bank Banyak Diburu Di sisi lain, aktivitas pembelian emas yang mulai melandai dinilai dapat mengurangi risiko investor terlalu mengandalkan kinerja luar biasa Antam pada paruh pertama 2026. "Kami melihat komposisi laba saat ini lebih seimbang dan berkelanjutan memasuki paruh kedua 2026," tulis Hasan. Pada semester I 2026, ANTM membukukan kinerja yang kuat. Pendapatan perseroan naik 6% secara tahunan menjadi Rp 62,7 triliun. Pertumbuhan lebih signifikan terlihat pada EBITDA yang melesat 33% menjadi Rp 8,98 triliun. Sementara itu, laba bersih meningkat 36% menjadi Rp 6,39 triliun. Realisasi tersebut jauh melampaui perkiraan Maybank Sekuritas maupun konsensus pasar. Pencapaian laba bersih ANTM tercatat sekitar 67,8% dari proyeksi Maybank Sekuritas dan 61,5% dari konsensus untuk tahun berjalan. Memasuki kuartal II 2026, pendapatan ANTM meningkat 14% secara kuartalan dan 2% secara tahunan menjadi Rp 33,4 triliun. Namun, EBITDA dan laba bersih masing-masing turun 13% dan 12% secara kuartalan menjadi Rp 4,19 triliun dan Rp 2,98 triliun. Meski mengalami normalisasi dibandingkan kuartal sebelumnya, keduanya masih tumbuh masing-masing 12% dan 16% secara tahunan. Laba usaha pada kuartal II 2026 juga tetap solid di Rp 3,94 triliun, meski menurun dari basis yang tinggi pada kuartal I 2026.
Nikel mulai jadi mesin pertumbuhan
Hasan melihat tren operasional ANTM semakin mendapat dukungan dari bisnis nikel. Penjualan feronikel pada kuartal II 2026 melonjak 71% secara kuartalan dan 420% secara tahunan menjadi 4.802 ton nikel (tNi). Dengan demikian, penjualan feronikel sepanjang semester I 2026 tumbuh 32% secara tahunan menjadi 7.605 tNi.
Baca Juga: Aktivitas Perdagangan BEI Sepekan Makin Ramai, Volume Transaksi Naik 35,9% Kinerja juga ditopang kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) bijih nikel. Pada kuartal II 2026, ASP bijih nikel meningkat 22% secara kuartalan dan 50% secara tahunan menjadi US$81,6 per wet metric ton (wmt). "Penguatan tajam profitabilitas nikel menyoroti manfaat portofolio ANTM yang terintegrasi," jelas Hasan. Sementara itu, bisnis emas mulai menunjukkan normalisasi. Penjualan emas pada kuartal II 2026 memang pulih 14% secara kuartalan menjadi 309 ribu troy ounce (koz), tetapi masih turun 38% secara tahunan. Alhasil, volume penjualan emas pada semester I 2026 juga masih tertekan 38% secara tahunan. Meski begitu, ANTM masih memperoleh tambahan dukungan dari bisnis non-emas lainnya. Penjualan bauksit pada semester I 2026 tumbuh 23% secara tahunan, sementara volume produk chemical grade alumina (CGA) meningkat 10%. Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, Maybank Sekuritas mempertahankan proyeksi kinerja ANTM untuk periode 2026-2028 meskipun realisasi semester I 2026 jauh lebih kuat dari perkiraan. Hasan memperkirakan lonjakan pembelian emas yang sebelumnya mendorong aktivitas perdagangan ANTM akan mereda pada semester II 2026. Kondisi tersebut berpotensi menormalisasi pendapatan dan margin dari bisnis logam mulia setelah mencapai level tinggi pada semester I. Namun, normalisasi tersebut diperkirakan sebagian besar dapat diimbangi oleh peningkatan volume dan harga nikel. "Volume dan harga nikel yang membaik seharusnya sebagian mengimbangi normalisasi tersebut, menjaga tren laba jangka menengah kami secara umum tetap utuh dan mendukung valuasi yang tidak berubah," kata Hasan.
Hingga akhir 2026, Hasan memperkirakan Antam bisa mengantongi pendapatan sebesar Rp 130,53 triliun dan laba bersih mencapai Rp 9,26 triliun. Adapun pendapatan dan laba bersih di 2027 masing-masing akan mencapai Rp 136,54 triliun dan Rp 10,14 triliun.
Baca Juga: Gugatan Wanprestasi Masih Berjalan, Cakra Buana (CBRE) Pastikan Kewajiban Sudah Lunas Harga saham ANTM ditutup melemah 0,95% di level Rp 3.120 per saham pada Jumat (4/9/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News