KONTAN.CO.ID - TOKYO. Indeks Nikkei melonjak melewati level 65.000 untuk pertama kalinya pada perdagangan Senin (25/5/2026). Kenaikan ini terjadi didorong optimisme tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Iran. Indeks Nikkei 225 tercatat melonjak 2,87% pada perdagangan Senin (25/5/2026) dan ditutup di level 65.158,19. Indeks saham acuan Jepang ini bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi
intraday di 65.408,87. Dalam tiga hari perdagangan terakhir, indeks Nikkei tercatat mengalami kenaikan 8,95%. Ini merupakan kenaikan tiga hari terbesar dalam lebih dari enam tahun.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Kamis (26/2) Usai Nvidia Lampaui Ekspektasi, Nikkei Cetak Rekor Terdapat 141 saham yang naik di indeks Nikkei pada perdagangan Senin (25/5/2026), dibandingkan dengan 83 saham yang turun. Saham-saham yang terkait dengan sektor akal imitasi (AI) yang sedang
booming termasuk yang naik paling tajam. Selain itu, saham yang rentan terhadap harga minyak juga mengalami kenaikan harga tajam. Saham produsen kabel dan serat optic Fujikura dan produsen cip Kioxia melonjak lebih dari 14%. Saham yang mengalami penurunan terbesar adalah Archion, turun 8,4%, diikuti oleh Pan Pacific International, turun 4,9%, dan Aeon, yang merosot 4,8%.
Baca Juga: Bank Sentral Singapura Gandeng Industri, Permudah Aplikasi Rekening Bank Swasta Reuters melaporkan, para pelaku pasar saham di Jepang kembali optimistis usai melihat perkembangan terakhir di Timur Tengah. Sebelum ini, pelaku pasar pesimistis karena ketergantungan Jepang pada energi impor sangat tinggi. Ketergantungan tinggi tersebut membuat ekonomi Jepang rentan terhadap lonjakan harga minyak, yang disebabkan oleh konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada akhir pekan lalu, Washington dan Iran telah menegosiasikan sebagian besar nota kesepahaman tentang perdamaian.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik 1% di Tengah Harapan Damai AS–Iran Bila terwujud, harapannya ini akan membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, sehingga ekspor impor minyak kembali berjalan. Tapi Trump juga masih mengatakan ia telah memberi tahu tim negosiator AS untuk tidak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan apa pun. Perkembangan di Timur Tengah tersebut memicu penurunan harga minyak, bersamaan dengan kenaikan obligasi pemerintah Jepang dan yen. Maki Sawada, ahli strategi ekuitas Nomura Securities, mengatakan,sebagaimana dikutip
Reuters, perkembangan tersebut menambah tanda-tanda membaiknya sentimen risiko . "Tapi bahkan jika kesepakatan tercapai, masih ada ketidakpastian mengenai apakah kesepakatan itu akan dipatuhi, karena pemerintah Iran mungkin tidak bersatu dalam masalah ini," kata Sawada.