Nikkei Jepang Melonjak Jumat (10/4), Optimisme Laba dan Stabilnya Harga Minyak



KONTAN.CO.ID - Indeks saham utama Jepang menguat tajam pada perdagangan Jumat (10/4/2026), didorong optimisme kinerja emiten dan stabilisasi harga minyak menjelang perundingan damai Iran.

Melansir Reuters, Indeks Nikkei 225 naik 1,65% ke level 56.817,54 dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan sebesar 6,8%, terbesar sejak pertengahan Agustus. Sementara itu, indeks Topix hanya naik tipis 0,05% ke 3.743,17.

Baca Juga: Bank Sentral Korea Selatan Tahan Suku Bunga, Waspadai Inflasi akibat Perang Iran


Sentimen positif dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar setelah harga minyak stabil di bawah US$100 per barel, serta harapan terhadap kelanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Pelaku pasar kini menanti hasil pembicaraan kedua negara yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan di Islamabad guna memfinalisasi kesepakatan damai.

Di pasar global, penguatan juga terjadi di Wall Street, dengan indeks semikonduktor Philadelphia mencetak rekor tertinggi setelah naik selama tujuh sesi berturut-turut.

Ekonom senior Sony Financial Group Hiroshi Watanabe menyebut, stabilnya harga minyak di kisaran US$90-an serta reli saham semikonduktor menjadi faktor pendukung utama bagi pasar saham Jepang.

Baca Juga: Baht Thailand Paling Lemah di Tengah Pergerakan Campuran Mata Uang Asia Jumat (10/4)

Di tengah musim laporan keuangan, saham Fast Retailing menjadi sorotan setelah membukukan kinerja yang solid. Saham perusahaan ini melonjak hingga 10,2% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Selain itu, saham pemasok industri teknologi Fujikura naik 10,9%, sementara produsen chip Kioxia Holdings menguat 6,7%.

Namun, tidak semua saham menguat. Perusahaan teknologi SHIFT turun 5,3%, diikuti BayCurrent yang melemah 5%, serta platform e-commerce Mercari yang turun 4,8%.

Baca Juga: Harga Pabrik China Berbalik Naik pada Maret, Dampak Perang Iran Picu Tekanan Inflasi

Strategis Nomura Securities Maki Sawada menilai, penguatan pasar saat ini didorong oleh aksi beli selektif pada saham-saham yang mencatat kinerja positif.

Meski demikian, ia mengingatkan potensi tekanan di level tinggi masih terbuka, mengingat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.