Nikkei Melonjak 37%, Investor Jepang Berburu Saham AI Generasi Ketiga



KONTAN.CO.ID - Reli bersejarah pasar saham Jepang memasuki babak baru. Jika sebelumnya lonjakan indeks Nikkei didorong saham-saham semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) yang sudah mapan, kini investor mulai memburu emiten baru yang memasok komponen penting bagi pusat data AI.

Mengutip Reuters, indeks Nikkei telah melonjak 37% sepanjang tahun ini, jauh mengungguli kenaikan indeks saham utama di Amerika Serikat, Eropa, maupun China.

Gelombang pertama reli AI di Jepang ditopang oleh nama-nama besar seperti SoftBank Group, Advantest, dan Tokyo Electron.


Baca Juga: Venezuela Lumpuh Diguncang Gempa Kembar M 7,5, Korban Diperkirakan Terus Bertambah

Selanjutnya, investor mulai mengincar pemasok infrastruktur pendukung AI, termasuk produsen kabel serat optik Fujikura dan Furukawa Electric.

Kini, reli memasuki fase ketiga dengan fokus pada perusahaan yang memproduksi komponen kelistrikan dan infrastruktur daya yang menjadi kebutuhan utama pusat data AI.

Produsen komponen AI jadi primadona baru

Perhatian investor kini beralih ke Murata Manufacturing dan Taiyo Yuden, dua produsen multi-layer ceramic capacitors (MLCC), komponen penting yang berfungsi mengatur aliran listrik pada server AI.

Saham Murata telah melonjak 268% sejak awal tahun.

Sementara itu, saham Taiyo Yuden melesat 438%, menjadi salah satu emiten dengan kenaikan terbesar di indeks Nikkei.

Baca Juga: Bos Kripto China Buron, Diduga Terkait Penipuan Investasi dan Judi Online

Posisi tersebut hanya berada di bawah Kioxia, produsen memori yang bulan ini berhasil menyalip Toyota Motor sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Jepang.

Kepala Strategi IwaiCosmo Securities Kazuaki Shimada menilai, reli saham AI Jepang masih jauh dari selesai.

"Ini baru awal dari reli mereka. Investor akan terus berburu saham-saham yang berkaitan dengan pusat data AI," ujarnya.

Panasonic ikut terdongkrak

Emiten lain yang turut menikmati lonjakan permintaan AI adalah Ibiden, pemasok utama bagi Nvidia, yang sahamnya telah naik 292% sepanjang tahun ini.

Sementara itu, Panasonic Holdings juga mencatatkan rekor harga saham tertinggi setelah mengumumkan rencana memproduksi massal sel baterai untuk pusat data di fasilitasnya di Kansas, Amerika Serikat.

Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Mingguan Keempat Jumat (26/6), Dolar AS Perkasa

Menurut Senior Portfolio Manager GCI Asset Management, Takamasa Ikeda, saham-saham terkait semikonduktor seperti Tokyo Electron, Advantest, dan Kioxia kini menyumbang sekitar 25% bobot indeks Nikkei.

Jika digabungkan dengan perusahaan teknologi lain seperti Murata Manufacturing, Sony Group, dan Kyocera, kontribusinya mencapai sekitar 35% dari keseluruhan indeks.

Risiko konsentrasi mulai meningkat

Di balik reli tersebut, analis mulai mengingatkan adanya risiko konsentrasi yang semakin besar.

Ikeda menyoroti bahwa Philadelphia Semiconductor Index (SOX), yang menjadi acuan saham semikonduktor di Amerika Serikat, diperdagangkan lebih dari 70% di atas rata-rata pergerakan 200 harinya hingga pekan lalu.

Kondisi tersebut dinilai mengindikasikan pasar mulai memasuki fase yang terlalu panas (overheated).

Baca Juga: Harga Minyak Bersiap Catat Penurunan Mingguan 7%, Pasokan dari Selat Hormuz Mengalir

Menurutnya, apabila indeks SOX mengalami koreksi dalam jangka menengah hingga panjang, pasar saham Jepang berpotensi mengalami tekanan serupa.

"SOX kemungkinan akan sulit mempertahankan momentum seperti sekarang dalam jangka menengah dan panjang. Jika indeks itu terkoreksi, Nikkei hampir pasti akan mengalami nasib yang sama," kata Ikeda.

Meski demikian, untuk saat ini antusiasme investor terhadap rantai pasok AI masih menjadi pendorong utama reli pasar saham Jepang, dengan fokus yang semakin bergeser dari produsen chip menuju perusahaan penyedia komponen dan infrastruktur pendukung pusat data.