KONTAN.CO.ID - Indeks saham Jepang bergerak melemah pada perdagangan Selasa (2/6/2026) setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Pelaku pasar memilih mengambil sikap hati-hati di tengah ketidakpastian perkembangan negosiasi perdamaian di Timur Tengah yang masih rapuh.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Tekan Mata Uang Asia, Rupiah Sentuh Level Terendah Baru Melansir
Reuters, Indeks Nikkei 225 turun 1,46% ke level 65.991,21 pada pukul 01.46 GMT. Sementara itu, indeks yang lebih luas, TOPIX, melemah 1,18% ke posisi 3.894,29. Sehari sebelumnya, Nikkei sempat mencetak rekor intraday di level 67.231,28 dan ditutup pada rekor tertinggi 66.934,33. Posisi tersebut sekitar 7% di atas rata-rata pergerakan 25 hari, yang dinilai sebagai indikasi pasar mulai mengalami kondisi jenuh beli (overheated). “Pasar mulai mewaspadai reli tajam Nikkei. Optimisme terhadap berakhirnya konflik Timur Tengah dalam waktu dekat juga mulai memudar, sementara harga minyak kembali naik,” ujar Daisuke Hashizume, Senior Strategist di Daiwa Securities.
Baca Juga: Pendiri Citron Research Andrew Left Terbukti Lakukan Manipulasi Saham Ketidakpastian Timur Tengah Tekan Sentimen Tekanan terhadap pasar saham Jepang muncul setelah munculnya sinyal yang saling bertentangan terkait negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Namun, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Teheran telah menghentikan sementara negosiasi tidak langsung dengan Washington. Ketidakpastian tersebut membuat harga minyak dunia tetap bertahan di level tinggi karena pasar masih mencermati peluang pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global.
Baca Juga: Blackstone Himpun US$13,1 Miliar, Bukti Investor Masih Percaya Prospek Asia Saham Teknologi dan AI Tertekan Saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu penyumbang terbesar pelemahan pasar Jepang. Saham konglomerasi teknologi Jepang, SoftBank Group, turun 1,3%. Sementara itu, produsen kabel serat optik Fujikura Ltd. anjlok 5,64% akibat aksi jual yang meluas pada saham-saham teknologi. Saham produsen chip memori Kioxia Holdings Corporation juga berbalik melemah 1,5% setelah sempat menguat di awal perdagangan. Investor cenderung menahan diri menjelang pertemuan perusahaan dengan investor yang dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama.
Baca Juga: Bursa Australia Turun 0,9% Selasa (2/6), Sentimen Timur Tengah Tekan Saham Perbankan Saham Energi dan Pelayaran Menguat Di tengah pelemahan pasar secara keseluruhan, saham-saham energi justru mencatatkan kenaikan seiring penguatan harga minyak dunia.
Saham perusahaan energi Jepang Inpex Corporation melonjak 5,1%. Sektor pertambangan menjadi sektor dengan kinerja terbaik di Bursa Efek Tokyo setelah menguat 4,35%, sedangkan saham-saham pelayaran naik sekitar 1% karena ekspektasi kenaikan tarif angkutan laut. Dari hampir 1.500 saham yang diperdagangkan di papan utama Bursa Efek Tokyo, sekitar 20% saham mencatat kenaikan, 77% melemah, dan sisanya bergerak stagnan. Pelemahan Nikkei menunjukkan investor masih berhati-hati terhadap risiko geopolitik global, meskipun pasar saham Jepang sebelumnya sempat mencatat reli kuat hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.