Nilai Aktivitas Merger dan Akuisisi di Asia Tenggara Turun 16% Jadi US$ 61 Miliar



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Angka kesepakatan merger dan akuisisi di Asia Tenggara merosot 16% sepanjang 2025. Total nilainya mencapai US$ 61 miliar.

Data ini terungkap dalam laporan Global M&A Report 2026 yang dipublikasikan Bain & Company, Rabu (28/1/2026).

Kendati nilai kesepakatan M&A turun, jumlah kesepakatan yang nilainya lebih dari US$ 30 juta naik 2%.


Sementara, nilai kesepakatan pasar strategis di Asia Tenggara mencapai US$ 50 miliar sepanjang 2025. Jumlah ini turun 12% secara tahunan.

Baca Juga: Merger & Akuisisi di 2025 Naik 40%, Bain & Company Proyeksi di Tahun Ini Tetap Kuat

Volume kesepakatan strategis yang nilainya di atas US$ 30 juta tercatat naik 1%.

Kondisi kesepakatan merger dan akuisisi di Asia Tenggara berbeda dengan di kawasan Asia Pasifik dan global. Di tingkat Asia Pasifik, nilai kesepakatan strategis M&A tercatat naik 33% sepanjang 2025.

Pertumbuhan nilai kesepakatan M&A di Asia Pasifik itu hanya lebih rendah dari pertumbuhan di kawasan Amerika, yang tumbuh 52% tahun lalu.

Pertumbuhan di Asia Pasifik lebih tinggi dari pertumbuhan kesepakatan di kawasan Eropa, emerging market dan Afrika, yang sebesar 32%.

Baca Juga: Netflix Ajukan Tawaran Tunai Penuh US$82,7 Miliar untuk Akuisisi Warner Bros

Secara global, nilai kesepakatan M&A sepanjang ahun lalu mencapai US$ 4,9 triliun, naik 40% secara tahunan. Nilai kesepakatan di 2025 tersebut merupakan rekor tertinggi kedua sepanjang masa.

Nilai kesepakatan di sektor manufaktur dan jasa tingkat lanjut, yang merupakan industri terbesar di pasar Asia Tenggara, menurun sebesar 21% secara tahunan. Sementara nilai kesepakatan di sektor energi dan sumber daya alam, yang terbesar kedua, melonjak sebesar 13% secara tahunan.

Bain & Company menilai, sektor energi dan sumber daya alam masih akan menjadi pendorong aktivitas merger dan akuisisi di Asia Tenggara.

"Sektor energi dan sumber daya alam tetap merupakan industri terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai kesepakatan strategis inbound atau domestik tumbuh 8% di 2025," tutur Harshveer Singh, Partner & Head of APAC M&A Practice Bain & Company, dalam jawaban tertulis kepada KONTAN, Kamis (29/1/2026).

Baca Juga: Merger Rio Tinto–Glencore Berpotensi Harus Jual Aset demi Restu China

Selain itu, Singh juga melihat ada potensi peningkatan aktivitas M&A dari sektor kimia dan sektor kesehatan.

Bain & Company memprediksi aktivitas M&A global akan terus menemukan momentum, menyusul peningkatan aktivitas tahun ini.

Dari survei yang dilakukan Bain terhadap 300 petinggi perusahaan yang bertanggungjawab atas aktivitas M&A, 80% di antaranya berharap aktivitas kesepakatan M&A di 2026 bertahan atau meningkat.

Alasannya, kondisi saat ini menguntungkan, dengan kondisi makro yang membaik dan semakin banyaknya aset ekuitas swasta dan modal ventura yang siap untuk dilego.

Baca Juga: Goldman Sachs Pimpin Merger dan Akuisisi Global 2025, Didukung Transaksi Jumbo

“Semua unsur telah tersedia untuk tahun yang kuat selanjutnya dalam M&A setelah pemulihan yang hampir mencapai rekor tahun lalu,” kata Suzanne Kumar, Executive Vice President Global M&A & Divestitures Practice Bain & Company.

Singh menambahkan, Bain mengamati beberapa kekuatan besar memengaruhi dinamika M&A secara global dan di Asia Tenggara. "Termasuk disrupsi teknologi, pasca-globalisasi, dan pergeseran kumpulan keuntungan," papar dia.

Singh menyebut, tren struktural seperti ekonomi domestik yang lebih kuat dan kebangkitan investasi yang dipicu oleh pergeseran rantai pasokan China + 1, akan terus membentuk sentimen dan selera investor di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Cadangan Devisa RI Turun Jadi US$ 148,7 Miliar, Ekonom: Tekanan Bersifat Sementara

Di Asia Tenggara, aktivitas M&A terbesar 2025 yang tercatat adalah aksi Genting Bhd mengakuisisi 73,13% saham Genting Malaysia. Menurut catatan Bain, nilai kesepakatan ini mencapai US$ 3,1 miliar.

Sejumlah aktivitas M&A di Indonesia juga tercatat jadi yang terbesar tahun lalu. Misalnya langkah PT Chandra Asri Pacific Tbk mengakuisisi pom bensin ExxonMobil Asia Pacific Pte Ltd. Akuisisi Sampoerna Agro oleh POSCO International Corp juga jadi salah satu yang terbesar.

Selanjutnya: Kebutuhan Ramadan Aman! Indomaret Banjir Diskon Sirup dan Biskuit sampai 4 Februari

Menarik Dibaca: Kebutuhan Ramadan Aman! Indomaret Banjir Diskon Sirup dan Biskuit sampai 4 Februari