Nilai pasar TLKM menggeser BBCA



JAKARTA. Dalam rentang waktu setahun terakhir, peta kapitalisasi pasar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedikit bergeser.

Per Rabu (1/3), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencetak kapitalisasi pasar Rp 388,08 triliun. Emiten halo-halo ini menduduki posisi dua emiten berkapitalisasi jumbo.

TLKM menggeser posisi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun ke posisi tiga dengan nilai Rp 380,92 triliun. Di akhir Desember 2015, BBCA masih di posisi kedua emiten berkapitalisasi jumbo. Posisi pertama masih diduduki PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) dengan kapitalisasi Rp 450,15 triliun.


Dari 10 besar emiten berkapitalisasi besar, sektor perbankan dan konsumsi masing-masing menyumbang empat emiten, diikuti telekomunikasi dan otomotif masing-masing satu emiten (lihat tabel).

Saat ini, pergerakan harga TLKM cukup atraktif. Emiten ini punya keunggulan, yakni pemimpin pasar telekomunikasi di Indonesia. "Berdasarkan persepsi pelaku pasar, Telkom tahun ini baik. Indikatornya adalah peningkatan pelanggan dan average revenue per user (ARPU)," ujar analis senior Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada, kemarin.

Meski demikian, industri telekomunikasi mempunyai kue pelanggan sama dan produk penawaran serupa. Misalnya, layanan data, panggilan dan pesan singkat. Menurut Reza, yang akan menjadi pembeda adalah kualitas layanannya. Nah, TLKM cukup unggul lantaran memiliki infrastruktur yang cukup kuat di pelosok negeri.

Kepala Riset Investa Saran Mandiri Agustina Hamid berpendapat, kapitalisasi pasar menjadi salah satu pertimbangan investor dalam berinvestasi saham. Tapi pertimbangan utama adalah fundamental emiten. Jika saham itu overvalued, maka investor cenderung menghindari dulu.

Terkait kapitalisasi BBCA yang digeser TLKM, Agustina menilai, hal ini hanya sentimen sesaat. Ke depan, sektor perbankan masih cukup menarik, di mana investor asing tetap melirik. Adapun TLKM punya potensi setelah emiten ini fokus memperkuat bisnis layanan data.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie