KONTAN.CO.ID - Sejumlah mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (4/5/2026). Rupiah Indonesia memimpin pelemahan di kawasan, seiring penguatan dolar AS yang masih membayangi pasar emerging markets. Berdasarkan data
Reuters pada pukul 02.07 GMT, rupiah tercatat melemah 0,20% secara harian ke level Rp 17.340 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya Rp 17.305 per dolar AS. Pelemahan rupiah menjadi yang terdalam di antara mata uang Asia lainnya pada hari tersebut.
Tabel 1. Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS (4 Mei 2026)
| Mata uang | Latest bid | Previous | Perubahan harian (%) |
| Jepang (Yen) | 157,110 | 157,03 | -0,05% |
| Singapura (SGD) | 1,273 | 1,2733 | +0,02% |
| Taiwan (TWD) | 31,588 | 31,648 | +0,19% |
| Korea Selatan (Won) | 1.473,100 | 1.477,5 | +0,30% |
| Thailand (Baht) | 32,510 | 32,45 | -0,18% |
| Filipina (Peso) | 61,397 | 61,284 | -0,18% |
| Indonesia (Rupiah) | 17.340,000 | 17.305 | -0,20% |
| India (Rupee) | 94,910 | 94,91 | 0,00% |
| Malaysia (Ringgit) | 3,955 | 3,967 | +0,30% |
| China (Yuan) | 6,831 | 6,843 | - |
Sumber: Reuters, 4 Mei 2026 (02.07 GMT) Baca Juga: Pengeluaran Rumah Tangga: Hitung Cermat Selisih Beras Medium & Premium Rupiah sudah turun hampir 4% sepanjang 2026
Tak hanya melemah harian, rupiah juga tercatat mengalami depresiasi cukup dalam secara year-to-date (YTD). Data Reuters menunjukkan rupiah telah melemah sekitar 3,86% sepanjang 2026, dari posisi akhir 2025 di level Rp 16.670 per dolar AS menjadi Rp 17.340 per dolar AS. Pelemahan ini menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan tekanan terbesar sepanjang tahun berjalan. Tabel 2. Perubahan mata uang Asia sepanjang 2026 (YTD)
| Mata uang | Latest bid | End 2025 | Perubahan YTD (%) |
| Jepang (Yen) | 157,110 | 156,650 | -0,29% |
| Singapura (SGD) | 1,273 | 1,2855 | +0,97% |
| Taiwan (TWD) | 31,588 | 31,438 | -0,47% |
| Korea Selatan (Won) | 1.473,100 | 1.439,500 | -2,28% |
| Thailand (Baht) | 32,510 | 31,45 | -3,26% |
| Filipina (Peso) | 61,397 | 58,800 | -4,23% |
| Indonesia (Rupiah) | 17.340,000 | 16.670,00 | -3,86% |
| India (Rupee) | 94,910 | 89,870 | -5,31% |
| Malaysia (Ringgit) | 3,955 | 4,056 | +2,55% |
| China (Yuan) | 6,831 | 6,9879 | +2,30% |
Catatan: tanda minus menunjukkan mata uang melemah terhadap dolar AS. Secara regional, tekanan terhadap mata uang Asia menunjukkan pasar masih sensitif terhadap sentimen global, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve), pergerakan imbal hasil obligasi AS, serta volatilitas harga minyak dunia.
Tonton: Rupiah Pecah Rekor Terlemah, Analis Prediksi Tekanan Berlanjut hingga Mei Di tengah kondisi tersebut, pergerakan rupiah menjadi perhatian karena berada di level psikologis Rp 17.300 per dolar AS, yang dapat memicu kekhawatiran lanjutan terhadap stabilitas nilai tukar di pasar domestik.
Sudah diprediksi analis
Pelemahan rupiah sudah diprediksi sebelumnya oleh sejumlah analis. Salah satunya adalah Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono. Dia mengatakan, pelemahan ini dinilai dipicu kombinasi faktor domestik dan global yang membentuk "badai sempurna" di pasar keuangan. Dari sisi domestik, sorotan terhadap tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi salah satu pemicu kekhawatiran investor global. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menilai struktur pelaporan yang terlalu terpusat meningkatkan risiko tata kelola. "Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga di tengah tekanan nilai tukar juga dinilai pasar kurang agresif," kata Wahyu kepada Kontan, Kamis (30/4/2026). Di sisi global, eskalasi konflik Timur Tengah serta dinamika di pasar minyak turut memperburuk tekanan yang membuat harga minyak Brent naik sehingga meningkatkan beban impor energi Indonesia. Wahyu memperkirakan, rupiah masih berada dalam tekanan, terutama pada awal bulan Mei. Sejumlah sentimen negatif yang membayangi antara lain rilis data inflasi domestik yang berpotensi meningkat akibat kenaikan harga BBM non-subsidi, serta faktor musiman berupa aliran dividen ke investor asing yang mendorong arus keluar modal. Di sisi global, sikap hawkish Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama
(higher for longer) juga menjadi faktor penekan tambahan. Dalam skenario terburuk, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut ke kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.800 per dolar AS jika tekanan eksternal dan domestik tidak mereda.
Baca Juga: Simak Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Senin (4/5) Produk UBS, GALERI 24 "Rupiah bisa berbalik arah jika terdapat intervensi BI yang lebih agresif, data perdagangan Mei menunjukkan surplus yang kembali melebar, dan meredanya tensi geopolitik global yang menurunkan harga minyak ke bawah US$ 90," kata Wahyu.
Sejauh ini, kebijakan stabilisasi melalui skema triple intervention, pasar spot, DNDF, dan obligasi, dinilai cukup efektif dalam meredam volatilitas. Namun, langkah tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah. Cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran US$ 148 miliar masih tergolong memadai, tetapi pasar mulai mencermati kecepatan penggunaannya dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News