Nilai Transaksi Kripto Domestik Melonjak, Investor Mulai Beralih ke Altcoin



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai transaksi aset kripto di Indonesia melonjak pada Juni 2026 meski harga Bitcoin (BTC), aset kripto dengan kapitalisasi terbesar, masih cenderung bergerak sideways beberapa bulan terakhir. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran minat investor ke sejumlah aset kripto alternatif (altcoin).

Melansir Coin Market Cap pada Minggu (9/8) pukul 15.00 WIB, harga Bictoin (BTC) bertengger di level US$ 64.778,16 atau melemah 0,21% dalam 24 jam terakhir, tetapi masih mencatat kenaikan 1,33% sebulan terakhir.

Kendati demikian, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi aset kripto domestik pada Juni 2026 mencapai Rp 28,58 triliun, meningkat 24,20% secara bulanan.


Terkait hal ini, CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis, berpandangan bahwa kenaikan tajam nilai transaksi aset kripto pada Juni 2026 di tengah harga Bitcoin yang stagnan di kisaran US$ 60.000-an dinilai lebih disebabkan oleh rotasi likuiditas ke aset-aset alternatif ketimbang penguatan harga Bitcoin itu sendiri. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Kawasan Industri Beragam, Simak Rekomendasi Sahamnya

Yudhono bilang, sepanjang paruh pertama 2026, sejumlah altcoin justru mencatatkan lonjakan signifikan saat Bitcoin melemah atau bergerak datar, sebuah pola yang oleh sejumlah analis pasar kripto domestik dibaca sebagai perpindahan minat investor ke aset dengan narasi dan fundamental yang lebih spesifik, bukan sinyal hilangnya selera risiko secara keseluruhan.

“Sepanjang Juni 2026, altcoin lebih banyak menjadi penggerak volume transaksi dibandingkan Bitcoin. Sejumlah token seperti HYPE, memecoin dan token-token berbasis narasi AI/RWA mencatat lonjakan harga puluhan hingga ratusan persen dalam hitungan hari, jauh melampaui pergerakan Bitcoin yang relatif datar,” ujar Yudhono kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).

Tak hanya itu saja, tingginya frekuensi trading dalam rentang harga yang sempit turut mendorong volume transaksi. Fase konsolidasi pasar kripto yang berlangsung sejak awal Juni 2026 membuat trader lebih aktif memanfaatkan volatilitas jangka pendek di dalam rentang harga tersebut.

Sehingga nilai transaksi tetap bisa melonjak meskipun harga penutupan bulanan Bitcoin relatif tidak banyak berubah.

Terakhir, faktor domestik juga memberikan andil. Pertumbuhan jumlah investor aset kripto di Indonesia mencapai 22,69 juta akun per Juni 2026 atau meningkat 21,32% dibandingkan periode sebelumnya.

Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Menguat pada Perdagangan Senin (10/8), Cek Rekomendasi Sahamnya

Menurutnya, hal ini membuktikan terjaganya kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital di tengah ketidakpastian ekonomi global, turut menopang aktivitas perdagangan di pasar domestik.

Lebih lanjut, Yudhono berpandangan, fenomena ini berpotensi mendorong munculnya perputaran dana yang aktif dari investor yang mengejar momentum harga jangka pendek pada aset-aset berkapitalisasi lebih kecil, bukan pada Bitcoin sebagai aset dengan likuiditas paling stabil.

Stablecoin juga diperkirakan berkontribusi terhadap tingginya volume transaksi, meski secara nilai kapitalisasi tidak mengalami kenaikan harga. 

Stablecoin seperti USDT umumnya digunakan sebagai instrumen keluar-masuk pasar (entry exit point) saat investor melakukan rotasi antar aset, sehingga volume transaksinya cenderung tinggi justru pada periode volatilitas atau ketidakpastian arah pasar seperti yang terjadi pada Juni 2026. 

“OJK telah menyebut pengembangan stablecoin sebagai salah satu arah kebijakan yang terus didorong ke depan,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News