KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar dolar Australia terhadap rupiah (AUD/IDR) mencatatkan lonjakan signifikan dan memimpin imbal hasil (
return) pasar valuta asing sepanjang September 2026. Kenaikan tajam mata uang Negeri Kanguru tersebut didorong oleh kombinasi tekanan depresiasi rupiah, penguatan harga komoditas global, hingga divergensi kebijakan moneter antarbank sentral. Berdasarkan data laporan kinerja portofolio investasi September 2026, AUD/IDR berhasil melesat 12,59% secara
month on month (MoM) dari level Rp 12.685,4 per dolar Australia pada Agustus menjadi Rp 14.281,96 per dolar Australia pada akhir September.
Performa tersebut menempatkan dolar Australia sebagai aset dengan penguatan tertinggi di sektor valas, melampaui mata uang utama lainnya seperti yen Jepang (JPY/IDR) yang tumbuh 2,77% MoM serta dolar AS (USD/IDR) yang menguat tipis 0,97% MoM ke Rp 17.894 per dolar AS.
Baca Juga: Dolar Australia Diproyeksi Jadi Mata Uang Komoditas Terkuat hingga Akhir Tahun Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menjelaskan, lonjakan tajam AUD terhadap Rupiah tidak terlepas dari tekanan depresiasi ekstrem yang dialami mata uang Garuda. Menurutnya, rupiah mengalami pelemahan signifikan di pasar valas akibat pengetatan likuiditas global dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield). Selain itu, fundamental ekonomi Australia mendapat sokongan kuat dari tingginya harga komoditas pertambangan dan energi di tengah eskalasi geopolitik dunia. Sebagai negara eksportir komoditas utama, penguatan harga komoditas memberikan dorongan positif bagi pergerakan AUD. Faktor penentu lainnya terletak pada divergensi kebijakan moneter. Wahyu mengungkapkan bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) baru saja menaikkan suku bunga acuan dari 4,35% menjadi 4,60%, sementara Bank Indonesia (BI) masih memilih untuk menahan suku bunga utamanya.
Baca Juga: Efek Dolar AS Menguat, Dolar Australia Terjun Bebas, Keputusan RBA Ditunggu! "Di saat mata uang kawasan Asia mengalami tekanan terberat akibat arus modal keluar (capital outflow), fundamental ekonomi Australia serta dinamika suku bunga domestiknya menjaga ketahanan AUD, membuatnya mampu mencatatkan performa penguatan yang solid dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya," kata Wahyu kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Secara tahunan (
year to date/YtD), kinerja AUD/IDR juga mendominasi seluruh instrumen portofolio dengan akumulasi penguatan mencapai 27,03% sejak akhir Desember 2025. Ketahanan ekonomi Australia serta tren suku bunga yang ketat diproyeksikan masih menjadi penopang utama pergerakan dolar Australia di pasar valas global menyongsong akhir tahun.
Baca Juga: Rupiah Tertekan pada Mei 2026, Franc Swiss&Dolar Australia Jadi Pilihan Diversifikasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News