Nilai Tukar Pound Sterling Stabil di Tengah Pergantian PM Inggris



KONTAN.CO.ID - LONDON. Nilai tukar pound sterling bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin (20/7/2026) seiring dengan persiapan Andy Burnham untuk mengambil alih jabatan Perdana Menteri Inggris dari Keir Starmer. Pelaku pasar juga menantikan kepastian mengenai sosok yang akan ditunjuk sebagai menteri keuangan baru.

Pound sterling terakhir tercatat tidak banyak berubah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level US$ 1,3457. Sementara terhadap euro, mata uang Inggris tersebut menguat 0,1% menjadi 84,94 pence per euro.

Setelah Starmer menyampaikan pidato perpisahan di depan kantor resminya di Downing Street Nomor 10 dan secara resmi menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Raja Charles, Burnham—mantan Wali Kota Greater Manchester—akan bertemu dengan sang raja untuk dilantik sebagai perdana menteri.


Burnham akan menghadapi berbagai tantangan dalam peran barunya. Sejumlah persoalan yang berpotensi memengaruhi pasar antara lain perlambatan ekonomi hingga kekhawatiran terkait disiplin fiskal pemerintah.

Baca Juga: China Hentikan Ekspor Mineral Tanah Jarang ke Jepang, Industri Tertekan

Penunjukan menteri keuangan menjadi salah satu perhatian utama investor dalam beberapa pekan terakhir. Aset-aset Inggris mendapat dukungan pada pekan lalu setelah muncul laporan bahwa Burnham kemungkinan besar akan menunjuk Shabana Mahmood, yang dipandang sebagai figur sentris, sebagai menteri keuangannya dibandingkan kandidat yang lebih condong ke kiri.

Pasar menafsirkan langkah tersebut sebagai sinyal bahwa Burnham tidak berencana meningkatkan belanja pemerintah secara agresif, sebagaimana yang sebelumnya dikhawatirkan sebagian investor.

Sepanjang pekan lalu, pound sterling mencatat kenaikan mingguan ketiga berturut-turut terhadap dolar AS. Mata uang tersebut juga membukukan penguatan selama empat pekan berturut-turut terhadap euro.

Selain dinamika politik domestik, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting Inggris yang dijadwalkan rilis sepanjang pekan ini. Data pasar tenaga kerja, inflasi, serta penjualan ritel diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar selanjutnya.