KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan mata uang Garuda mengalami tekanan pada awal pekan ini. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (13/10). Pelaku pasar mencermati ketidakpastian terkait evaluasi
Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia serta sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis pekan ini. Melansir Bloomberg pada Senin (12/10/2026). Mata uang garuda ditutup turun 0,08% secara harian ke level Rp 17.913 per dolar AS.
Baca Juga: Mirae Prediksi MSCI Masih Bekukan Saham RI, BREN, DSSA & AMMN Perlu Penuhi Syarat Sejalan dengan itu, rupiah berdasarkan kurs JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) ditutup di level Rp 17.899 per dolar AS, atau melemah 0,8% dibandingkan penutupan akhir pekan. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen yang membayangi pasar domestik adalah kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi
frontier market hingga kemungkinan pembekuan (
freeze) oleh MSCI. "Jika solusi dapat diterapkan dengan cepat, maka perlakuan khusus bakal tuntas dalam waktu sekitar satu tahun," terang Ibrahim, Senin (12/10/2026). Sebaliknya, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, pembekuan berpotensi berlangsung selama bertahun-tahun atau berkembang menjadi penurunan klasifikasi pasar. Di sisi lain, sejumlah indikator domestik menunjukkan perbaikan. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 sebesar 226,5, tumbuh 1,3% secara tahunan
(year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,1% pada bulan sebelumnya. Secara bulanan (
month to month/mtm), penjualan eceran pada Agustus 2026 tumbuh 0,8%, berbalik dari kontraksi 0,1% pada Juli 2026. Peningkatan tersebut ditopang oleh kelompok bahan bakar kendaraan bermotor serta makanan, minuman, dan tembakau yang masing-masing tumbuh 3,8% dan 1,7% secara bulanan. BI juga memperkirakan penjualan eceran pada September 2026 tumbuh 1,4% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 1,3% pada Agustus 2026. Meski demikian, pergerakan rupiah pada pekan ini juga akan dipengaruhi perkembangan ekonomi AS. Ibrahim menyebut pelaku pasar akan mencermati data inflasi konsumen dan produsen, data penjualan ritel, serta pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed).
Rangkaian data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS dan pergerakan dolar AS. Untuk perdagangan Selasa (13/10), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.910-Rp 17.960 per dolar AS.
Baca Juga: Serapan SBR015 Masih Lambat, Tenor 2 Tahun Tetap Jadi Primadona Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News