KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang kembali melemah pada perdagangan Selasa (7/7). Mengutip
Reuters pada perdagangan Asia hari Selasa pagi, yen bergerak di kisaran 162 yen per dolar AS, mendekati level terlemahnya dalam hampir empat dekade. Terhadap pound sterling, yen juga berada di sekitar 217,09 yen per pound, tidak jauh dari posisi terendah sejak 2007.
Sementara itu, euro diperdagangkan di level 185,47 yen, setelah menguat sekitar 0,5% pada sesi sebelumnya. Pergerakan Nilai Tukar Yen
| Indikator | Posisi Terbaru | Keterangan |
| Yen terhadap dolar AS | 162 yen per US$ | Mendekati level terendah dalam hampir 40 tahun |
| Yen terhadap pound sterling | 217,09 yen per pound | Terendah sejak 2007 |
| Yen terhadap euro | 185,47 yen per euro | Euro menguat 0,5% terhadap yen pada sesi sebelumnya |
Baca Juga: Inflasi Filipina Melambat Jadi 6,4% pada Juni, di Bawah Ekspektasi Pasar Pasar Menanti Intervensi Pemerintah Jepang
Analis mata uang senior MUFG, Lee Hardman, mengatakan sebelumnya sempat muncul spekulasi bahwa pemerintah Jepang akan melakukan intervensi ketika pasar Amerika Serikat libur sehingga likuiditas perdagangan lebih rendah. Namun hingga kini langkah tersebut belum dilakukan. "Ada spekulasi pada akhir pekan lalu bahwa Jepang akan kembali melakukan intervensi untuk mendukung yen selama libur di Amerika Serikat ketika kondisi pasar lebih sepi. Namun, tidak ada tindakan yang dilakukan sehingga yen kembali kehilangan sebagian penguatannya," kata Hardman, seperti dikutip Reuters. Pekan lalu yen sempat menguat tajam karena pasar menduga pemerintah Jepang mengubah strategi intervensinya. Namun, para pelaku pasar menilai pergerakan tersebut bukan berasal dari aksi resmi otoritas Jepang.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup di Level Sebelum Perang Iran, Pasokan Global Kian Melimpah Pelemahan Dolar AS Belum Mampu Mengangkat Yen
Di sisi lain, dolar Amerika Serikat justru bergerak melemah terhadap mayoritas mata uang utama setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan. Data tersebut membuat pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini. Euro naik tipis ke US$ 1,1442, sedangkan pound sterling menguat ke US$ 1,34005, level tertinggi dalam lebih dari dua pekan. Sementara itu, indeks dolar AS turun ke 100,86.
Pasar Tunggu Hasil Rapat The Fed
Strategis mata uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, mengatakan pasar kemungkinan masih meremehkan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Menurutnya, bank sentral AS masih berpotensi mulai menaikkan suku bunga pada Desember meski pasar memperkirakan siklus pengetatan kebijakan akan lebih terbatas.
"Saya menilai harga yang tercermin di pasar saat ini masih sedikit terlalu rendah. Kami masih memperkirakan Federal Open Market Committee (FOMC) akan mulai menaikkan suku bunga pada Desember. Pasar mungkin memperkirakan waktu kenaikan yang lebih cepat, tetapi besarnya kenaikan masih di bawah proyeksi kami," ujar Kong. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni yang akan dirilis Rabu (8/7). Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang. Baca Juga:
Harga Emas Spot Kembali Melemah Selasa (7/7), Semua Mata Tertuju pada Risalah The Fed