KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap profitabilitas perbankan masih berlanjut pada Maret 2026. Namun, bank-bank yang fokus pada segmen ritel dan UMKM masih mampu mempertahankan margin yang relatif tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rata-rata
net interest margin (NIM) industri perbankan berada di level 4,38% pada Maret 2026, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,51%.
Baca Juga: Margin Laba Bank Turun, Tapi Bank Fokus Ritel dan UMKM Justru Makin Moncer Meski demikian, sejumlah bank tetap mampu mencatat kinerja NIM yang solid, terutama bank dengan fokus bisnis di segmen ritel. Salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) ata BRI yang mencatat NIM sebesar 7,7% pada periode tersebut. Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyebut, kinerja tersebut ditopang oleh fokus perseroan pada segmen UMKM dan ritel. BRI juga mencatat pendapatan bunga bersih (
net interest income/NII) sebesar Rp 40,155 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 11,9% secara tahunan. Dari sisi pendanaan, biaya dana (
cost of fund/CoF) juga turun menjadi 2,3%. Kekuatan margin BRI turut ditopang oleh tingginya porsi dana murah (CASA). Total dana pihak ketiga (DPK) BRI tercatat mencapai Rp 1.555 triliun, dengan porsi CASA sebesar 68%.
Baca Juga: Marketplace Asuransi Makin Relevan, Konsumen Kini Lebih Rasional Pilih Polis “Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, struktur bisnis BRI berbasis UMKM memberikan tingkat resiliensi yang relatif baik,” ujar Hery. Selain BRI, PT Allo Bank Indonesia Tbk (
BBHI) juga mencatat NIM tinggi di level 10,4% pada Maret 2026. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan NII sebesar 21% secara tahunan menjadi Rp 378 miliar. “Posisi NIM ini mencerminkan efektivitas aset dan manajemen liabilitas, terutama di segmen
retail banking,” kata Plt Direktur Utama Allo Bank, Ari Yanuanto Asah. Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, bank dengan model bisnis ritel dan UMKM cenderung memiliki NIM lebih tinggi dibanding bank korporasi. Hal ini terjadi karena kredit ritel dan UMKM umumnya memiliki risiko lebih tinggi, sehingga bank menetapkan bunga pinjaman yang lebih besar. Selain itu, nasabah ritel juga relatif kurang sensitif terhadap perubahan suku bunga dibandingkan nasabah korporasi yang memiliki posisi tawar lebih kuat. “Meski risiko lebih tinggi, pendapatan bunga yang dihasilkan mampu mengompensasi, sehingga NIM tetap tinggi,” jelas Rahma.
Baca Juga: Transaksi Valas Melesat, BI Perketat Transaksi Dolar Tanpa Underlying Ia menambahkan, struktur pendanaan juga menjadi faktor penting. Bank dengan porsi dana murah yang besar cenderung memiliki biaya dana yang lebih stabil, sehingga mampu menjaga margin. Sebaliknya, bank dengan ketergantungan pada deposito berjangka lebih rentan terhadap kenaikan suku bunga global. “Bank ritel domestik juga umumnya memiliki eksposur valas yang rendah, sehingga lebih terlindungi dari volatilitas global,” tambahnya. Dari kelompok bank lain, PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) atau OK Bank mencatat NIM di atas 5% hingga Maret 2026. Perseroan menargetkan NIM tetap terjaga di atas level tersebut hingga akhir tahun, dengan strategi penyaluran kredit selektif serta peningkatan porsi dana murah.
Baca Juga: ACC Catat Pertumbuhan Piutang Pembiayaan, NPF Tetap di Bawah 1% Sementara itu, PT Bank KB Indonesia Tbk (
BBKP) atau KB Bank mengakui adanya tekanan pada NIM akibat kondisi ekonomi global, kenaikan biaya dana, serta persaingan penghimpunan dana di industri. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, pihaknya terus melakukan optimalisasi struktur pendanaan, termasuk meningkatkan porsi dana murah dan penyesuaian pricing kredit secara selektif. “Meski tekanan masih ada, kami memperkirakan NIM akan tetap stabil hingga akhir 2026,” ujarnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News