Nippon Steel Bakal Rilis Obligasi Konversi Senilai Rp 53,7 Triliun



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Perusahaan baja Jepang Nippon Steel sedang mempertimbangkan penerbitan obligasi konversi senilai sampai ¥ 500 miliar (sekitar Rp 53,6 triliun) sebagai langkah pembiayaan, menurut dua sumber yang mengetahui rencana tersebut. Jika jadi dilakukan, ini akan menjadi penerbitan obligasi konversi terbesar dalam sejarah Jepang. 

Sumber-sumber tersebut mengatakan keputusan final dapat diambil secepatnya bulan ini, namun mereka tidak bersedia disebut namanya karena informasi tersebut belum dipublikasikan. Reuters melaporkan rencana ini untuk pertama kalinya. 

Dalam pernyataannya, Nippon Steel mengatakan bahwa belum ada keputusan yang dibuat terkait penerbitan obligasi tersebut. Saham perusahaan ditutup turun 2% setelah kabar ini. 


Baca Juga: Dana Pensiun Kanada Siap Lepas Aset Pelabuhan Inggris

Menurut data LSEG, penerbitan obligasi konversi sebesar ¥500 miliar akan menjadi yang terbesar di Jepang. Namun, jumlah tersebut masih mungkin dikurangi atau rencana dapat ditinjau ulang, kata salah satu sumber. 

Nippon Steel memilih opsi obligasi konversi untuk menghindari peningkatan modal yang langsung mendilusi sahampemegang saham saat ini. Dengan suku bunga domestik yang meningkat, perusahaan juga dapat menerbitkan obligasi ini sebagai obligasi tanpa kupon (zero-coupon). Obligasi konversi sendiri dapat dikonversi menjadi saham pada harga yang telah ditetapkan. 

Perusahaan memerlukan modal tambahan untuk ekspansi bisnis di luar negeri termasuk di Amerika Serikat dan India, serta untuk mendukung inisiatif dekarbonisasi. Selain itu, Nippon Steel juga membutuhkan pendanaan jangka panjang untuk menggantikan pinjaman jembatan (bridge loan) sekitar ¥2 triliun yang diambil untuk akuisisi U.S. Steel tahun lalu. 

Kinerja bisnis Nippon Steel menurun akibat tarif impor baja AS dan persaingan dari ekspor baja China. 

Sumber lain mengatakan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) juga sedang mempertimbangkan pemberian pinjaman kepada Nippon Steel sekitar ¥1 triliun (sekitar Rp 107,7 triliun). JBIC menyatakan tidak akan berkomentar mengenai kasus spesifik. 

Selanjutnya: ESDM Sebut Rekomendasi Impor BBM Shell 2026 Masih Dievaluasi

Menarik Dibaca: NotebookLM Android: Buat Video dan Infografis Cuma dengan AI Google