NIPS genjot bisnis baterai industri



JAKARTA. PT Nipress Tbk (NIPS) bakal mengembangkan bisnis dengan menggenjot produksi baterai untuk industri di tahun depan. Produsen baterai dan aki ini telah menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) Rp 300 miliar.

Dana tersebut sebagian besar untuk membangun pabrik baterai industri. Pabrik baru itu akan memproduksi baterai untuk pemancar sinyal operator telepon seluler alias base transceiver station (BTS).

Nipress akan memenuhi anggaran belanja modal melalui penjualan saham baru alias rights issue. "Setengahnya dari rights issue," ujar Richard Taniono, Direktur Operasional Nipress. Sementara sisanya dari pinjaman bank. Maklum, kas dan setara kas NIPS per akhir kuartal III-2013 cuma Rp 13,23 miliar.


Kelak, NIPS berniat melepas 742,86 juta saham baru di harga Rp 350-Rp 450 per saham. Dus, NIPS berpotensi mengantongi dana Rp 260,01 miliar-Rp 334,29 miliar. Sekitar 57% hasil rights issue untuk membangun pabrik baterai industri. Sedangkan sisanya untuk modal kerja.

Pabrik baru NIPS ini akan dibangun di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, sama dengan lokasi pabrik yang sudah ada. Di sana, Nipress memiliki lahan seluas 11 hektare (ha) yang baru dimanfaatkan separuhnya. Pabrik ini akan mulai dibangun pada April 2014 dan beroperasi di 2015.

Pabrik Nipress yang anyar akan berkapasitas 550.000 unit baterai industri per tahun. Richard bilang, pihaknya saat ini memiliki pabrik baterai dengan kapasitas 200.000 unit per tahun. Kapasitas tersebut untuk memproduksi baterai otomotif dan baterai industri.

Baterai otomotif

Jika pabrik baru tersebut berdiri, maka pabrik lama akan fokus memproduksi baterai otomotif. Sedangkan, pabrik baru memproduksi baterai industri. Alhasil, kapasitas produksi NIPS akan meningkat, baik baterai otomotif maupun industri.

"Awalnya kami memang fokus memproduksi baterai otomotif tapi pada perkembangannya kami melakukan diversifikasi," kata Richard. Apalagi, persaingan baterai otomotif juga semakin ketat.

Selama ini, produsen aki bermerek NS ini mendapat sumbangan pendapatan cukup besar dari baterai otomotif yaitu sebesar 70,58% dari total pendapatan Rp 684,68 miliar. Sampai Kuartal III 2013, penjualan baterai mobil berkontribusi Rp 369,97 miliar dan baterai sepeda motor Rp 113,53 miliar. Sementara, dari baterai industri 198,09 miliar dan baterai lithium Rp 3,08 miliar.

Baterai industri biasanya digunakan untuk back up energi pada BTS, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), uninterruptible power supply (UPS), emergency light, server dan lain-lain. Dengan beragam produk baterai yang ditawarkan, Richard ingin, NIPS menjadi perusahaan energy storage solution.

Richard menambahkan, permintaan perangkat penyimpanan energi semakin membesar, serutama di sektor telekomunikasi. Dia mengatakan, di Indonesia ada ratusan ribu menara. Sedangkan setiap menara telekomunikasi biasanya digunakan bersama-sama untuk beberapa operator telepon seluler berbeda.

"Setiap satu BTS membutuhkan baterai sekitar 16-24 unit," papar Richard. Dus, kebutuhan baterai BTS sangat besar dan itu mayoritas dari produk impor.

Richard mengklaim, Nipress adalah satu-satunya perusahaan lokal yang memasok kebutuhan baterai BTS. Nipress selama ini hanya merakit produk tersebut dari bahan baku impor dalam bentuk completely knocked down.

Nah, pabrik baru NIPS kelak akan memproduksi baterai BTS secara penuh. Richard berharap, dengan memproduksi baterai BTS sendiri margin makin besar dan laba kian meningkat. Sampai kuartal III tahun ini, laba bersih Nipress sebesar Rp 31,24 miliar atau naik 97,59%. Selama ini, NIPS telah memasok 60% kebutuhan baterai BTS dari operator telepon seluler Telkomsel. Selain itu, NIPS tengah dalam proses kerjasama dengan operator lain seperti XL Axiata dan Indosat.

Richard menargetkan, bisa meningkatkan pendapatan dan laba bersih sebesar 27% di tahun depan. Pasca pabrik baru beroperasi di 2015, pendapatan dan laba bersih akan meningkat lebih tajam lagi. Namun, dia belum mau mengungkapkan, target kinerja dalam dua tahun ke depan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Avanty Nurdiana