KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kedatangan dua emiten baru. Pengelola jaringan rumah sakit mata JEC Eye Hospitals & Clinics, PT Nitrasanata Dharma, dan PT Bach Multi Global yang bergerak di bisnis penjualan serta penyewaan infrastruktur telekomunikasi tengah bersiap melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO). PT Nitrasanata Dharma selaku calon emiten dengan kode saham JECX ini menawarkan maksimal sekitar 487,98 juta saham. Ini setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor pasca-IPO. Melalui aksi korporasi ini, JECX juga menawarkan 162,88 juta saham divestasi milik DR. Dr. Waldenius Girsang, SpM(K) yang mewakili 2% dari modal ditempatkan dan disetor pasca-penawaran umum saham.
Baca Juga: Wall Street Bergerak Datar di Awal Pekan Senin (22/6), Cermati Negosiasi AS–Iran Adapun saham baru dan saham divestasi tersebut akan ditawarkan dengan harga di kisaran Rp 1.200–Rp 1.400. Dus, JECX berpotensi meraup dana sebesar Rp 683,17 miliar, di mana sekitar Rp 455,45 miliar merupakan dana hasil dari penawaran umum atas saham baru. Sementara sekitar Rp 227,72 miliar merupakan hasil penawaran umum atas saham divestasi. Di sisi lain, PT Bach Multi Global sebagai calon emiten dengan kode saham BACH menawarkan maksimal 615 juta saham baru atau setara dengan 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. BACH mematok harga IPO di kisaran Rp 400–Rp 500 per saham. Dus, BACH berpotensi meraup dana segar Rp 246 miliar–Rp 307,50 miliar.
Penggunaan Dana
Dari sisi penggunaan dana, JECX mengalokasikan sebesar Rp 40 miliar untuk pembayaran lebih awal sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kemudian sebesar Rp 100 miliar digunakan untuk pembayaran lebih awal kepada PT Bank HSBC Indonesia atas sebagian pokok pinjaman. Selanjutnya, dana sebesar Rp 185 miliar akan disalurkan kepada perusahaan anak. Secara rinci, dana Rp 50 miliar disalurkan kepada PT Nitra Sanata Bali, Rp 100 miliar diberikan sebagai pinjaman kepada PT Orbita, dan Rp 35 miliar akan dijadikan pinjaman kepada PT JEC Candi Sejahtera. Sementara itu, BACH berencana menggunakan Rp 91,02 miliar dari dana IPO setelah dikurangi berbagai biaya emisi untuk pembayaran sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk atas fasilitas pinjaman jangka pendek. Sisanya sekitar Rp 213,48 miliar akan digunakan sebagai modal kerja oleh BACH, yaitu dalam rangka pembelian genset untuk dijual maupun disewakan.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Rawan Terkoreksi pada Selasa (23/6), Ini Kata Analis Kinerja Keuangan
Manajemen JECX menjelaskan kinerja operasional grup perusahaan dalam kurun dua tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan, tercermin dari peningkatan jumlah kunjungan pasien dan volume tindakan medis. Sejalan dengan pertumbuhan volume tersebut, kondisi pendapatan perusahaan ikut meningkat. Pada tahun 2025, JECX mengantongi pendapatan sebesar Rp 926,76 miliar atau tumbuh 7,59% dari periode tahun 2024 sebesar Rp 887,71 miliar. "Peningkatan pendapatan tersebut mencerminkan pertumbuhan aktivitas layanan kesehatan mata yang dilakukan oleh grup perseroan selama periode tersebut," ujar Manajemen JECX dalam prospektusnya, Senin (22/6/2026). Pertumbuhan kinerja operasional ini didukung oleh penguatan strategi pemasaran, pengembangan layanan subspesialistik, adopsi teknologi medis, serta optimalisasi kapasitas operasional dan perluasan jaringan layanan. Perusahaan juga meyakini bahwa kombinasi faktor-faktor tersebut berkontribusi terhadap pertumbuhan volume layanan dan kinerja keuangan secara berkelanjutan. Adapun BACH melaporkan pendapatan sebesar Rp 1,73 triliun pada tahun 2025, meningkat 39,66% dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,24 triliun. Manajemen BACH menerangkan, kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya pendapatan segmen usaha penjualan dan penyewaan genset perusahaan. Selain itu, perusahaan juga memperoleh tambahan kontrak penyewaan baru yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan dari penyewaan genset. Untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan pendapatan, manajemen perseroan menerapkan kebijakan perluasan basis dan jaringan pelanggan, peningkatan kualitas layanan, optimalisasi utilisasi armada genset, serta pengembangan segmen usaha yang memiliki margin lebih baik.
Prospek Calon Emiten
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan untuk menilai prospek kinerja BACH, investor perlu mengamati perkembangan belanja modal (capital expenditure/capex) operator telekomunikasi serta pergerakan harga komoditas. Pasalnya, permintaan genset yang menjadi salah satu lini bisnis perusahaan erat kaitannya dengan aktivitas di sektor industri dan pertambangan.
Baca Juga: Dampak Refocusing Anggaran MBG ke Emiten Konsumer & Poultry, Serta Rekomendasi Analis Sementara itu, untuk JECX, faktor yang perlu diperhatikan adalah kondisi daya beli masyarakat, khususnya pada kelompok menengah ke atas, serta arah kebijakan dan regulasi di sektor kesehatan nasional yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan. Nafan juga menjelaskan rentang harga penawaran awal BACH di level Rp 400–Rp 500 dan JECX Rp 1.200–Rp 1.400 perlu diukur menggunakan rasio valuasi seperti P/E dan PBV relatif terhadap rata-rata industri sejenis. Pastikan harga yang ditawarkan mencerminkan nilai wajar atau menawarkan diskon yang menarik bagi investor publik.
Investor juga harus melihat seberapa besar porsi dana IPO yang dialokasikan untuk belanja modal demi ekspansi bisnis dibandingkan dengan porsi untuk membayar utang atau modal kerja operasional harian. "Perhatikan juga jika ada porsi saham divestasi dari pemegang saham lama yang dijual ke publik, seperti pada skema JECX, karena dana dari porsi divestasi tersebut mengalir ke pemegang saham penjual, bukan masuk ke kas perusahaan untuk ekspansi," jelas Nafan kepada Kontan, Senin (22/6/2026). Di sisi lain, porsi saham baru yang dilepas ke publik, seperti BACH sekitar 15,06% dan JECX sekitar 10%, perlu dicermati. Porsi free float yang relatif kecil berpotensi membuat pergerakan saham menjadi kurang likuid pasca-melantai di bursa, meskipun dapat memicu volatilitas harga yang tinggi pada awal perdagangan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News