TOKYO. Angka kematian akibat serangan jantung di Jepang meningkat empat kali lipat di awal musim panas tahun ini. Temperatur udara yang meningkat pada musim panas seperti sekarang memicu serangan jantung warga. Pasalnya, pendingin udara alias air conditioner di nonaktifkan guna menghemat listrik. Untuk menghindari pemadaman lampu total, pemerintah mengimbau masyarakat Jepang khususnya di Yamagata untuk mematikan pendingin udara di rumah. Menurut Fire and Disaster Management Agency, sejak 1 Juni hingga 10 Juli 2011, tercatat 26 orang tewas karena serangan jantung. Angka ini meningkat empat kali lipat dari jumlah orang tewas di 2010 yang sebanyak enam orang.Sementara itu, jumlah orang-orang yang di bawa ke rumah sakit karena serangan jantung meningkat tiga kali lipat menjadi 12.973 orang. Sebanyak 48% pasien serangan jantung di musim panas ini adalah kelompok usia rawan yakni di atas 65 tahun. "Angka ini akan terus meningkat jika orang tetap tidak menggunakan pendingin ruangannya di rumah," ujar Yasufumi Miyake Associate Profesor di Showa University Hospital. Menurut Hajime Takayama anggota badan Meteorologi Jepang, temperatur udara di Jepang, termasuk Tokyo lebih panas 3,8 derajat daripada rata-rata temperatur di musim panas di Jepang selama 30 tahun terakhir dalam 10 hari terakhir ini. Rata-rata temperatur di Jepang dalam 10 hari terakhir ini mencapai 26,4 derajat celcius. Tentu saja Jepang kekurangan pasokan listrik, setelah krisis nuklir melanda Jepang akibat gempa dan tsunami Maret lalu. Jepang hingga kini telah mematikan 35 reaktor dari 54 reaktor nuklir yang ada. Langkah ini membuat kapasitas listrik Jepang berkurang 11%.
Nonaktifkan AC untuk hemat listrik, jumlah serangan jantung di Jepang melonjak
TOKYO. Angka kematian akibat serangan jantung di Jepang meningkat empat kali lipat di awal musim panas tahun ini. Temperatur udara yang meningkat pada musim panas seperti sekarang memicu serangan jantung warga. Pasalnya, pendingin udara alias air conditioner di nonaktifkan guna menghemat listrik. Untuk menghindari pemadaman lampu total, pemerintah mengimbau masyarakat Jepang khususnya di Yamagata untuk mematikan pendingin udara di rumah. Menurut Fire and Disaster Management Agency, sejak 1 Juni hingga 10 Juli 2011, tercatat 26 orang tewas karena serangan jantung. Angka ini meningkat empat kali lipat dari jumlah orang tewas di 2010 yang sebanyak enam orang.Sementara itu, jumlah orang-orang yang di bawa ke rumah sakit karena serangan jantung meningkat tiga kali lipat menjadi 12.973 orang. Sebanyak 48% pasien serangan jantung di musim panas ini adalah kelompok usia rawan yakni di atas 65 tahun. "Angka ini akan terus meningkat jika orang tetap tidak menggunakan pendingin ruangannya di rumah," ujar Yasufumi Miyake Associate Profesor di Showa University Hospital. Menurut Hajime Takayama anggota badan Meteorologi Jepang, temperatur udara di Jepang, termasuk Tokyo lebih panas 3,8 derajat daripada rata-rata temperatur di musim panas di Jepang selama 30 tahun terakhir dalam 10 hari terakhir ini. Rata-rata temperatur di Jepang dalam 10 hari terakhir ini mencapai 26,4 derajat celcius. Tentu saja Jepang kekurangan pasokan listrik, setelah krisis nuklir melanda Jepang akibat gempa dan tsunami Maret lalu. Jepang hingga kini telah mematikan 35 reaktor dari 54 reaktor nuklir yang ada. Langkah ini membuat kapasitas listrik Jepang berkurang 11%.