Norwegia Bakal Rombak Aturan Investasi Dana Jumbo US$ 2,3 Triliun



KONTAN.CO.ID - OSLO. Norwegia bersiap merombak aturan etika investasi dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) senilai US$ 2,3 triliun. Langkah ini menyusul polemik divestasi saham perusahaan Amerika Serikat (AS) yang sempat memicu protes pemerintahan Presiden Donald Trump.

Mengutip Reuters (15/10), perubahan aturan tersebut akan mengacu pada hasil kajian komisi bentukan pemerintah yang dijadwalkan diumumkan pada hari ini. Evaluasi dilakukan setelah parlemen Norwegia menangguhkan kebijakan divestasi berbasis etika sekitar setahun lalu.

Polemik bermula ketika dana investasi negara terbesar di dunia itu memutuskan melepas saham Caterpillar, produsen alat berat asal AS. Keputusan tersebut berkaitan dengan penggunaan buldoser Caterpillar di Gaza dan wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel.


Langkah itu menuai keberatan dari pemerintahan Trump. Beberapa pekan kemudian, parlemen Norwegia memutuskan menghentikan sementara divestasi berbasis pertimbangan etika hingga proses evaluasi rampung.

Meski demikian, pemerintah Norwegia membantah bahwa penangguhan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap tekanan Washington. Padahal, lebih dari separuh aset dana kekayaan negara Norwegia ditempatkan di pasar AS.

Sebelumnya, keputusan divestasi mengacu pada rekomendasi Council on Ethics atau Dewan Etika, lembaga independen yang mengawasi kepatuhan investasi terhadap prinsip etika. Rekomendasi tersebut kemudian diputuskan oleh dewan bank sentral Norwegia, yang umumnya mengikuti pandangan Dewan Etika.

Namun, sejak kebijakan ditangguhkan, seluruh rekomendasi dialihkan kepada Norges Bank Investment Management (NBIM) selaku pengelola dana. Selama periode tersebut, tidak ada divestasi berbasis etika yang dilakukan.

Baca Juga: Kian Agresif, Chery Perluas Pasar Mobil Listrik di Inggris

Menteri Keuangan Norwegia Jens Stoltenberg menegaskan, menjaga keberlangsungan dana investasi negara menjadi prioritas pemerintah. Maklum, hasil pengelolaan dana tersebut menopang sekitar seperempat belanja publik Norwegia.

"Dunia terus berubah dan rantai nilai semakin terintegrasi. Kini semakin sulit membedakan antara produk sipil dan produk militer," ujar Stoltenberg kepada Reuters, Rabu (14/10/2026).

Selain persoalan etika, pemerintah juga mencermati meningkatnya konsentrasi investasi pada sejumlah perusahaan teknologi raksasa AS, seperti Nvidia, Apple, dan Amazon.

Saat ini, hanya 10 perusahaan yang menguasai lebih dari 20% nilai portofolio saham dana tersebut. Kondisi ini membuat setiap keputusan investasi berpotensi membawa dampak yang semakin besar.

"Konsentrasi semacam ini berarti keputusan terhadap satu perusahaan dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," kata Stoltenberg.

Mantan Sekretaris Jenderal NATO itu menekankan pentingnya menjaga diversifikasi investasi agar dana kekayaan negara Norwegia tetap tersebar luas.

Dengan demikian, perubahan aturan etika investasi menjadi persoalan sensitif bagi Norwegia. Pemerintah harus menyeimbangkan komitmen terhadap prinsip etika dengan kebutuhan menjaga stabilitas portofolio jumbo yang menjadi salah satu penopang utama keuangan negara.

Baca Juga: Aturan Modal Diperketat, UBS Ancam Angkat Kaki dari Swiss