KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kualitas pembiayaan industri multifinance masih relatif terjaga hingga pertengahan 2026. Meski rasio pembiayaan bermasalah secara tahunan meningkat, sejumlah perusahaan pembiayaan justru mampu menekan rasio NPF dan NPL sepanjang periode tersebut. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio non-performing financing (NPF) gross industri perusahaan pembiayaan atau multifinance sebesar 3,01% pada Juni 2026. Posisi tersebut turun tipis dibandingkan dengan Mei 2026 yang tercatat sebesar 3,06%. Namun, secara tahunan, NPF gross industri multifinance meningkat dibandingkan Juni 2025 yang berada di level 2,55%.
Di tengah kenaikan rasio NPF industri secara tahunan tersebut, sejumlah pemain multifinance masih mampu mempertahankan kualitas pembiayaan hingga semester I-2026. Salah satunya adalah PT Mandiri Utama Finance (MUF) yang mencatat perbaikan non-performing loan (NPL) pada semester I-2026. Plt. Direktur Utama MUF Dapot Parasian S. Sinaga menyampaikan, NPL MUF berada di level 1,36% pada Juni 2026. Angka tersebut membaik dibandingkan dengan posisi Juni 2025 sebesar 1,39%.
Baca Juga: Kualitas Kredit Konsumer Perbankan Bergerak Bervariasi, Ini Penyebabnya "Hal ini mencerminkan kualitas aset dan pengelolaan risiko MUF yang tetap terjaga," ujarnya kepada Kontan, Kamis (13/8/2026). Selain MUF, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) juga mencatat rasio NPF yang tetap terjaga di level 1,96% hingga Juni 2026. Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman menyebut, rasio tersebut masih berada jauh di bawah batas aman regulator sebesar 5%. Kondisi ini menunjukkan pentingnya disiplin perusahaan pembiayaan dalam menjaga kualitas aset di tengah upaya mendorong pertumbuhan bisnis. Menurut Ristiawan, kualitas pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan ekspansi perusahaan pembiayaan dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan. Sejalan dengan MUF dan CNAF, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) juga mencatat perbaikan kualitas pembiayaan. NPF BRI Finance turun 29 basis poin (bps) menjadi 1,82% secara tahunan pada Juli 2026. Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani menegaskan bahwa kualitas pembiayaan yang masih terjaga mencerminkan penerapan manajemen risiko yang kuat, penyaluran pembiayaan secara selektif, serta pemantauan kualitas aset yang dilakukan secara berkelanjutan.
Profil Risiko Multifinance Berbeda
Dalam industri multifinance, setiap segmen pembiayaan memiliki karakteristik dan profil risiko yang berbeda. Karena itu, strategi pengelolaan risiko perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing segmen pembiayaan.
Baca Juga: Literasi LKM Capai 12,44%, tapi Inklusi Cuma 3,01%, Ini Tantangan yang Dihadapi Ristiawan menyebut segmen pembiayaan fasilitas dana atau refinancing secara umum memiliki potensi profil risiko yang lebih tinggi. Hal tersebut lantaran kinerja segmen tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat. Untuk menjaga kualitas pembiayaan, perusahaan multifinance menerapkan prinsip pengelolaan portofolio secara hati-hati. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan risiko kredit.
Selain itu, perusahaan juga memperkuat proses underwriting atau analisis kelayakan calon debitur sebelum pembiayaan disalurkan. Strategi penagihan turut dilakukan secara cermat untuk menjaga kualitas portofolio dan mengantisipasi potensi pembiayaan bermasalah. Dengan langkah tersebut, perusahaan pembiayaan berupaya mengidentifikasi risiko sejak dini sekaligus menjaga rasio NPF dan NPL tetap berada pada level yang terkendali. Kondisi tersebut menjadi penting bagi industri multifinance, terutama ketika pertumbuhan pembiayaan perlu tetap berjalan di tengah tantangan daya beli masyarakat dan perubahan kondisi ekonomi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News