KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Angka kredit macet atau
Non Performing Financing (NPF) neto industri modal ventura naik pada Juli 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada periode ini NPF neto modal ventura tercatat meningkat ke level 2,02% dibandingkan posisinya pada Juli 2025 yang tercatat sebesar 1,70%. Kendati kredit macet industri naik, Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) melihat kondisi ini sebagai siklus yang wajar dalam industri modal ventura. Hal ini sejalan dengan fase konsolidasi dan dinilai tidak mencerminkan pelemahan sistematik ekosistem
startup.
Baca Juga: Aplikasi ShopeePay Hadirkan Layanan Split Bill Apalagi, laba industri justru tercatat tumbuh positif sebesar 1,91% pada Juli 2026. "Laba industri yang positif membuktikan bahwa kualitas portofolio secara agregat masih sangat terjaga dan industri memiliki manajemen tangguh," ujar Ketua Umum Amvesindo Eddi Danusaputro kepada Kontan, Selasa (29/9/26). Meski demikian, ia tetap menyoroti sejumlah faktor yang menyebabkan kenaikan kredit macet pada industri modal ventura. Salah satunya adalah struktur industri yang terbagi ada dua model bisnis, yaitu pembiayaan ekuitas atau
Venture Capital Corporation (VVC) dan pembiayaan produktif atau
Venture Debt Corporation (VCD). Eddi mengatakan, kenaikan NPF yang terjadi di industri lebih merepresentasikan tekanan kualitas pada portofolio pembiayaan pasangan usaha di lini VDC. "Penyebab utama kenaikan NPF pada lini pembiayaan ini dipicu oleh dua hal spesifik pada sejumlah Pasangan Usaha (debitur) eksisting," katanya. Kondisi tersebut terjadi karena
cash flow mismatch dalam siklus keuangan pasangan usaha akibat keterlambatan pembayaran (
delay payment) dari pihak pemberi kerja (
bouwheer). Selain itu, terdapat indikasi
side-streaming, yakni sebagian dana modal kerja digunakan di luar peruntukan yang telah disepakati. Kondisi tersebut kemudian menghambat arus kas pasangan usaha sehingga realisasi pendapatan bagi hasil perusahaan modal ventura ikut menurun, lain, sedangkan biaya operasional tetap berjalan normal yang pada akhirnya memicu lonjakan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).
Baca Juga: BTN Tawarkan Obligasi Berwawasan Sosial Rp 2 Triliun, dengan Kupon hingga 7,25% Hal serupa disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman. Menurutnya, peningkatan kredit macet terjadi karena penurunan kemampuan bayar sebagian pasangan usaha.
Oleh karena itu, OJK mendorong industri modal ventura untuk melakukan sejumlah upaya guna menekan risiko kenaikan NPF ke depannya. "Industri modal ventura terus didorong memperkuat analisis kelayakan pasangan usaha, serta diversifikasi portofolio," ujarnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Senin (14/9). Selain itu, ia mendorong perusahaan modal ventura untuk tetap memperhatikan manajemen risiko, prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, dan perlindungan konsumen dalam menyalurkan pembiayaan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News