KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) segmen konstruksi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) masih menunjukkan kenaikan pada kuartal I-2026. Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo mengungkapkan, lonjakan ini lebih disebabkan oleh portofolio lama (legacy) yang tengah dalam proses penyelesaian. NPL konstruksi perseroan tercatat sebesar 17,4% pada kuartal I-2026. Angka ini meningkat dibandingkan posisi 2025 yang sebesar 16,4% serta periode yang sama tahun sebelumnya di level 14,5%.
“Dari sisi penyebab, NPL konstruksi saat ini terutama berasal dari legacy portfolio sebelum 2020, dengan kualitas yang memang lebih menantang,” ujarnya kepada kontan.co.id, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga: NPL Konstruksi Masih Tinggi, Bank Selektif Salurkan Kredit Meski demikian, ia menegaskan bahwa nilai kredit bermasalah tersebut terus menurun secara nominal karena sedang dalam proses penyelesaian. Di sisi lain, penyaluran kredit konstruksi BTN juga mengalami kontraksi. Hingga kuartal I-2026, outstanding kredit konstruksi tercatat sebesar Rp 14,70 triliun atau turun 9,3% secara tahunan (year on year/YoY). Setiyo menjelaskan, penurunan tersebut dipengaruhi oleh percepatan pelunasan kredit seiring penjualan rumah yang cukup baik, serta pendekatan penyaluran kredit yang lebih selektif. “Ke depan, penyaluran kredit konstruksi akan tetap selaras dengan program perumahan pemerintah seperti FLPP dan KPP,” jelasnya. Untuk tren ke depan, BTN memperkirakan rasio NPL konstruksi akan berangsur menurun hingga akhir tahun 2026, seiring percepatan penyelesaian portofolio bermasalah tersebut.
Baca Juga: Kredit Konstruksi Terus Menanjak, Analis Sebut Efek Program Pembangunan Adapun dalam menjaga kualitas aset sekaligus mendorong penyaluran kredit, BTN menerapkan sejumlah strategi. Di antaranya melalui penyelesaian NPL dengan skema investor replacement, penjualan aset secara bulk (bulk asset sales), serta pemanfaatan instrumen seperti DIRE/REITs.
Sementara itu, untuk penyaluran kredit baru, BTN menerapkan proses underwriting yang lebih ketat dengan fokus pada pengembang (developer) berkualitas serta proyek yang memiliki permintaan kuat di pasar. “Intinya, NPL konstruksi ini merupakan isu legacy yang sedang diselesaikan, dengan tren yang membaik. Ke depan, pertumbuhan kredit akan dijaga tetap prudent dan berkualitas,” tandasnya.
Baca Juga: Kredit Konstruksi Bank Tabungan Negara (BBTN) Turun pada Kuartal I-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News