KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasio kredit bermasalah (
non-performing loan/NPL) di segmen konstruksi perbankan masih tergolong tinggi, meski menunjukkan tren perbaikan secara bertahap. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), NPL kredit konstruksi perumahan tercatat 7,77% pada Januari 2026, naik dari 7,55% pada Desember 2025. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 8,31%.
Baca Juga: Perkuat Layanan Perbankan Segmen Institusi, BWS Perpanjang Kerjasama dengan TNI Dari sisi penyaluran, kredit konstruksi hingga Januari 2026 mencapai Rp 35,60 triliun, turun tipis 0,72% secara tahunan dari Rp 35,85 triliun. Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, tingginya NPL saat ini lebih banyak berasal dari kredit lama (
legacy loans) sebelum pandemi 2020 yang terdampak kenaikan biaya material dan penundaan proyek. “Ini lebih merupakan
legacy loans yang sedang dibersihkan, bukan indikasi kegagalan model bisnis sektor konstruksi,” ujarnya. Di sisi lain, pertumbuhan kredit konstruksi menunjukkan tren positif. Kredit sektor ini sempat tumbuh sekitar 8,14% YoY pada November 2025, sementara kredit investasi konstruksi melonjak hingga 38% YoY pada Januari 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh berbagai program pemerintah, seperti Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Baca Juga: Saham BMRI Menghijau Usai Rilis Kinerja Kuartal I-2026, Simak Rekomendasi Analis Myrdal memproyeksikan, NPL konstruksi akan terus membaik hingga akhir 2026, meski masih berada di atas rata-rata industri. Perbaikan ini ditopang oleh restrukturisasi kredit, penjualan aset bermasalah (NPL sales), serta masuknya kredit baru dengan kualitas lebih baik. Namun, sejumlah risiko tetap membayangi, mulai dari ketidakpastian geopolitik, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga kenaikan harga material konstruksi. Untuk menjaga kualitas aset, perbankan disarankan menerapkan strategi prudent growth, memperketat proses underwriting, serta memanfaatkan data analytics untuk memantau arus kas proyek secara real time. Selain itu, fokus pada subsektor prospektif dan kolaborasi pembiayaan juga menjadi kunci. Dari sisi perbankan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (
BBTN) atau BTN mencatat NPL konstruksi masih tinggi di level 17,4% pada kuartal I-2026, naik dari 16,4% pada 2025 dan 14,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Laba Bank Mandiri Naik 17%, Kinerja Bank Besar Lain Diproyeksi Tetap Mentereng Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menyebut NPL tersebut didominasi portofolio lama sebelum 2020 yang kini tengah dalam proses penyelesaian. Secara nominal, nilai kredit bermasalah disebut terus menurun. Penyaluran kredit konstruksi BTN tercatat Rp 14,70 triliun pada kuartal I-2026 atau turun 9,3% yoy, dipengaruhi percepatan pelunasan kredit serta pendekatan penyaluran yang lebih selektif. Ke depan, BTN akan tetap menyalurkan kredit sejalan dengan program perumahan pemerintah seperti FLPP dan KPP, sembari mempercepat penyelesaian NPL melalui berbagai skema seperti investor replacement, bulk asset sales, hingga pemanfaatan DIRE/REITs. Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) atau Bank Mandiri mencatat kredit konstruksi mencapai Rp 142 triliun pada kuartal I-2026 dengan rasio NPL yang sangat rendah di level 0,11%.
Baca Juga: Pembiayaan Bank Syariah Kompak Naik di Kuartal I-2026, Segmen Konsumer Jadi Penopang Adapun PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA) atau BCA mencatat kredit konstruksi sebesar Rp 43,7 triliun hingga akhir 2025 atau tumbuh 11,9% yoy. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn menegaskan, komitmen perseroan untuk tetap menyalurkan kredit secara pruden dengan mempertimbangkan dinamika makroekonomi.
“BCA akan terus menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dengan ekspansi kredit yang sehat, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar dan risiko,” ujarnya. Secara keseluruhan, meski rasio NPL konstruksi masih tinggi, industri perbankan menilai kondisi ini merupakan fase pembersihan portofolio lama. Dengan strategi yang lebih selektif dan manajemen risiko yang ketat, kualitas kredit di sektor ini diproyeksikan akan terus membaik ke depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News