KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kualitas kredit konsumer perbankan menunjukkan perkembangan yang beragam pada Semester I 2026. Sejumlah bank mencatat kenaikan Non-Performing Loan (NPL) konsumer, sementara bank lainnya justru membukukan perbaikan kualitas kredit. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat NPL mencapai Rp 18,8 triliun pada Juni 2026 atau sekitar 1,8% terhadap total kredit. Dari jumlah tersebut, NPL kredit konsumer menyumbang 24,9%, relatif meningkat dari 24,1% pada Juni 2025. Adapun kredit konsumer BCA justru turun 2,4% yoy menjadi Rp 221 triliun pada Juni 2026. Baca Juga: BI Tegaskan Kartu Kredit Indonesia Tak Gantikan Visa dan Mastercard, Ini Alasannya EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan penyaluran kredit konsumer tetap dilakukan secara pruden dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan kemampuan debitur dalam menghadapi perubahan kebijakan maupun kondisi ekonomi. "BCA senantiasa monitoring risiko konsentrasi kredit termasuk penggunaan limit kredit dan kualitas portofolionya, serta menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang diperkirakan bisnisnya terkena dampak," kata Hera kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Adapun, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat NPL stabil di 1,9% pada Juni 2026, sama seperti periode yang sama tahun lalu. Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, kualitas aset yang terjaga merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten pada seluruh tahapan proses bisnis perseroan. "Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pasca penyaluran kredit," ujar David dalam keterangan resminya, Rabu (5/8/2026). Meski mencatat kestabilan pada NPL total, per Juni 2026 NPL kredit konsumer BNI meningkat menjadi 3% dari 2,1% pada periode sebelumnya. Berdasarkan produk, NPL kartu kredit meningkat menjadi 4,3% dari 2,5% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, NPL mortgage naik menjadi 3,9% dari 3%, sedangkan NPL personal loan meningkat menjadi 1,6% dari 1%. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kredit konsumer BNI yang masih tumbuh 9,4% secara tahunan menjadi Rp 160,8 triliun, dari Rp 147 triliun pada periode sebelumnya. PT Bank Mandiri Tbk mencatat NPL secara keseluruhan membaik menjadi 0,98% pada Juni 2026 dari 1,08% pada periode yang sama tahun lalu. Namun, kualitas kredit konsumer justru tertekan, dengan NPL konsumer naik menjadi 3,20% dari 2,51%. Secara nominal, pada Juni 2026 NPL konsumer Mandiri meningkat menjadi Rp 3,99 triliun dari Rp 3,06 triliun tahun lalu. Di sisi lain, kredit konsumer Mandiri mencapai sekitar Rp 125 triliun pada Juni 2026, tumbuh 1,39% secara tahunan dari sekitar Rp 123 triliun. Portofolio tersebut didominasi KPR sebesar Rp 70,7 triliun, disusul auto loan Rp 25,4 triliun dan kartu kredit Rp 22 triliun. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk mencatat perbaikan kualitas kredit. NPL gross BTN turun menjadi 3% pada Juni 2026 dari 3,3% pada Juni 2025. NPL consumer loan BTN juga turun menjadi 0,4% dari 1,2% pada periode yang sama. Penurunan NPL tersebut terjadi di tengah outstanding consumer loan yang meningkat menjadi Rp19,62 triliun, tumbuh 160,9% secara tahunan dari Rp7,52 triliun. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai kenaikan NPL kredit konsumer di sejumlah bank menjadi sinyal adanya kesulitan nasabah dalam membayar cicilan, terutama untuk kredit yang bersifat konsumtif. "Kalau itu sudah mulai naik NPL-nya, berarti ada persoalan yang cukup serius dari sisi pendapatan," ujar Bhima kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Bhima menambahkan, tekanan tersebut juga sejalan dengan meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, tekanan daya beli juga berasal dari kenaikan pengeluaran masyarakat, termasuk harga BBM nonsubsidi dan potensi kenaikan tingkat suku bunga. Baca Juga: Likuiditas Bank Mengetat Jelang Penarikan SAL, Ini Strategi Bank Besar
NPL Kredit Konsumer Bank Bergerak Variatif pada Semester I 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kualitas kredit konsumer perbankan menunjukkan perkembangan yang beragam pada Semester I 2026. Sejumlah bank mencatat kenaikan Non-Performing Loan (NPL) konsumer, sementara bank lainnya justru membukukan perbaikan kualitas kredit. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat NPL mencapai Rp 18,8 triliun pada Juni 2026 atau sekitar 1,8% terhadap total kredit. Dari jumlah tersebut, NPL kredit konsumer menyumbang 24,9%, relatif meningkat dari 24,1% pada Juni 2025. Adapun kredit konsumer BCA justru turun 2,4% yoy menjadi Rp 221 triliun pada Juni 2026. Baca Juga: BI Tegaskan Kartu Kredit Indonesia Tak Gantikan Visa dan Mastercard, Ini Alasannya EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan penyaluran kredit konsumer tetap dilakukan secara pruden dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan kemampuan debitur dalam menghadapi perubahan kebijakan maupun kondisi ekonomi. "BCA senantiasa monitoring risiko konsentrasi kredit termasuk penggunaan limit kredit dan kualitas portofolionya, serta menjaga komunikasi dan koordinasi dengan debitur yang diperkirakan bisnisnya terkena dampak," kata Hera kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Adapun, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat NPL stabil di 1,9% pada Juni 2026, sama seperti periode yang sama tahun lalu. Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, kualitas aset yang terjaga merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten pada seluruh tahapan proses bisnis perseroan. "Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pasca penyaluran kredit," ujar David dalam keterangan resminya, Rabu (5/8/2026). Meski mencatat kestabilan pada NPL total, per Juni 2026 NPL kredit konsumer BNI meningkat menjadi 3% dari 2,1% pada periode sebelumnya. Berdasarkan produk, NPL kartu kredit meningkat menjadi 4,3% dari 2,5% pada tahun sebelumnya. Sementara itu, NPL mortgage naik menjadi 3,9% dari 3%, sedangkan NPL personal loan meningkat menjadi 1,6% dari 1%. Kenaikan tersebut terjadi di tengah kredit konsumer BNI yang masih tumbuh 9,4% secara tahunan menjadi Rp 160,8 triliun, dari Rp 147 triliun pada periode sebelumnya. PT Bank Mandiri Tbk mencatat NPL secara keseluruhan membaik menjadi 0,98% pada Juni 2026 dari 1,08% pada periode yang sama tahun lalu. Namun, kualitas kredit konsumer justru tertekan, dengan NPL konsumer naik menjadi 3,20% dari 2,51%. Secara nominal, pada Juni 2026 NPL konsumer Mandiri meningkat menjadi Rp 3,99 triliun dari Rp 3,06 triliun tahun lalu. Di sisi lain, kredit konsumer Mandiri mencapai sekitar Rp 125 triliun pada Juni 2026, tumbuh 1,39% secara tahunan dari sekitar Rp 123 triliun. Portofolio tersebut didominasi KPR sebesar Rp 70,7 triliun, disusul auto loan Rp 25,4 triliun dan kartu kredit Rp 22 triliun. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk mencatat perbaikan kualitas kredit. NPL gross BTN turun menjadi 3% pada Juni 2026 dari 3,3% pada Juni 2025. NPL consumer loan BTN juga turun menjadi 0,4% dari 1,2% pada periode yang sama. Penurunan NPL tersebut terjadi di tengah outstanding consumer loan yang meningkat menjadi Rp19,62 triliun, tumbuh 160,9% secara tahunan dari Rp7,52 triliun. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai kenaikan NPL kredit konsumer di sejumlah bank menjadi sinyal adanya kesulitan nasabah dalam membayar cicilan, terutama untuk kredit yang bersifat konsumtif. "Kalau itu sudah mulai naik NPL-nya, berarti ada persoalan yang cukup serius dari sisi pendapatan," ujar Bhima kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Bhima menambahkan, tekanan tersebut juga sejalan dengan meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, tekanan daya beli juga berasal dari kenaikan pengeluaran masyarakat, termasuk harga BBM nonsubsidi dan potensi kenaikan tingkat suku bunga. Baca Juga: Likuiditas Bank Mengetat Jelang Penarikan SAL, Ini Strategi Bank Besar