KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri perbankan Indonesia mulai menghadapi tekanan pada kualitas kredit konsumer seiring meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) dan laju inflasi yang terus naik. Kondisi ini mendorong bank untuk lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan baru, terutama pada segmen konsumtif seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan Kredit Tanpa Agunan (KTA).
NPL Perbankan Naik ke Level 2,17%
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) per April 2026 tercatat sebesar 2,17%, naik dari 2,14% pada Maret 2026 dan 2,05% pada akhir 2025.Tekanan Daya Beli Jadi Faktor Utama
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurrahman, menilai kenaikan harga BBM akan menekan kemampuan konsumsi masyarakat karena meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk transportasi dan kebutuhan pokok. Baca Juga: Bank Digital Tetap Menahan Suku Bunga Deposito Saat BI Rate Naik, Ini Alasannya Hal ini berdampak langsung pada kemampuan membayar cicilan kredit masyarakat, khususnya kelas menengah. “Dalam kondisi seperti ini, bank cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit baru dengan memperketat penilaian kemampuan bayar debitur,” ujar Rizal. Ia juga memperkirakan potensi kenaikan NPL kredit konsumer masih terbatas, namun bisa meningkat ke kisaran 2,3% hingga 2,5% jika tekanan inflasi berlanjut. “Dengan fundamental perbankan yang masih kuat, kenaikan NPL konsumer diperkirakan tetap terbatas, namun berpotensi naik dari kisaran sekitar 2% menuju 2,3% hingga 2,5% pada akhir tahun apabila tekanan inflasi dan biaya hidup terus berlanjut,” katanya.Bank Perketat Underwriting Kredit
Chief Economist BTN Myrdal Gunarto menilai kenaikan BBM non-subsidi dan pelemahan rupiah turut menekan permintaan kredit konsumer, terutama kredit kendaraan bermotor. “Bank otomatis akan mengadopsi postur yang lebih risk-averse. Proses underwriting akan diperketat sehingga approval rate kredit baru cenderung menurun,” ujar Myrdal. Ia menyoroti segmen KTA dan KKB sebagai yang paling rentan terhadap tekanan ekonomi. Sementara itu, kredit korporasi relatif lebih stabil karena masih banyak sektor yang menggunakan BBM subsidi. Baca Juga: MI Bentuk DPLK, Ini Langkah yang Perlu Dilakukan DPLK Eksisting Myrdal juga menekankan bahwa tekanan biaya hidup membuat rasio kemampuan bayar atau debt service ratio (DSR) kelas menengah semakin ketat. “Debt service ratio (DSR) kelas menengah akan bergeser mendekati batas maksimal,” katanya.Strategi Perbankan: Lebih Selektif dan Adaptif
Dari sisi industri, bank-bank besar mulai menunjukkan sikap lebih konservatif. Beberapa di antaranya adalah:- Bank Central Asia (BCA)
- Bank Mandiri
- Bank Negara Indonesia (BNI)
- Bank Rakyat Indonesia (BRI)
- Allo Bank
Pertumbuhan Kredit Konsumer Mulai Melambat
Sejumlah bank besar juga melaporkan perlambatan pada segmen kredit konsumer:- BCA mencatat penyaluran kredit konsumer sebesar Rp 221,4 triliun, turun 2% YoY
- Bank Mandiri mencatat Rp 124 triliun, tumbuh tipis 1,78% YoY
- BNI mencatat Rp 158 triliun, tumbuh 9,1% YoY namun melambat secara kuartalan
- BRI mencatat Rp 227,8 triliun, tumbuh 9,5% YoY namun NPL naik ke 2,41%