KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kualitas aset perbankan Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, terlihat dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang mulai menurun di akhir 2025. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio NPL gross berada di level 2,21% per November 2025, turun dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 2,25%, meski masih sedikit lebih tinggi dibanding posisi tahun sebelumnya sebesar 2,19%. Sementara itu, NPL net tercatat di level 0,86%, turun dari bulan sebelumnya 0,90%, namun naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,75%.
Sejumlah bank besar yang telah merilis laporan keuangannya mencatat penurunan serupa pada rasio NPL di 2025. PT Bank Central Asia (BCA) misalnya, mencatatkan NPL gross sebesar 1,7%, turun dari 1,8% di 2024. PT Bank Negara Indonesia (BNI) juga melaporkan NPL gross sebesar 1,9%, turun dari 2,0% di 2024. Rasio NPL PT Bank Syariah Indonesia (BSI) turun dari 1,90% di 2024 menjadi 1,81% pada 2025. Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan, kualitas aset perseroan hingga kini tetap solid. "Rasio NPL perseroan terjaga di bawah 1%, sementara rasio pencadangan kredit bermasalah (NPL coverage ratio) mencapai sekitar 253%," ujarnya.
Baca Juga: BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah Riduan menambahkan, tingginya coverage ratio menjadi langkah antisipatif terhadap potensi penurunan kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi ke depan. Bank Mandiri juga tetap mewaspadai sektor-sektor yang sensitif terhadap pelemahan permintaan maupun volatilitas harga komoditas. "Karena itu, perseroan secara konsisten mengarahkan penyaluran kredit ke sektor-sektor yang dinilai prospektif dan memiliki ketahanan kuat. Strategi tersebut didukung disiplin underwriting serta pemantauan portofolio kredit yang ketat," jelas Riduan. Bank Mandiri juga disebut tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan prinsip kehati-hatian, dengan fokus utama pada pertumbuhan kredit berkualitas, penguatan manajemen risiko, serta optimalisasi ekosistem digital banking. “Dengan fundamental yang solid dan buffer risiko yang memadai, kami optimistis Bank Mandiri dapat tumbuh berkelanjutan sekaligus menjalankan peran sebagai agent of development dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Riduan saat paparan kinerja perseroan, Kamis (5/2). BCA menargetkan rasio NPL tetap terkendali pada kisaran 1,8%–2%. "Untuk NPL, kami akan menjaganya tetap stabil di kisaran 1,8% sampai 2%," kata Direktur BCA, Vera Eve Lim. Vera menambahkan, prospek pertumbuhan kredit BCA pada tahun ini lebih positif dibanding tahun sebelumnya. Perseroan meng-upgrade guidance pertumbuhan kredit menjadi 8%–10%, lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan kredit 2025 sebesar 7,7%. Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menyatakan bahwa perbaikan kualitas aset perseroan tercermin dari penurunan NPL. "Ini mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi," kata Paolo. BNI juga memiliki NPL coverage ratio sebesar 205,5% dan LaR coverage ratio sebesar 46,9%, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan. Paolo menekankan, pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali. Baca Juga:
Jamkrida Sumbar: Tingginya NPL UMKM Dapat Berdampak bagi Kinerja Penjaminan Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menambahkan, perbaikan kualitas NPL merupakan hasil strategi pengelolaan risiko yang tepat sesuai segmentasi bisnis dan nasabah. "Untuk memastikan menjaga sustainability pertumbuhan yang berkelanjutan, kualitas aset mungkin menjadi perhatian utama kita di konteks strategi," ujarnya. Meski demikian, Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai tren NPL perbankan pada 2026 masih menghadapi tantangan. Menurutnya, pergerakan NPL ke depan sangat bergantung pada perkembangan risiko kredit yang dipengaruhi daya beli masyarakat. “Tren NPL masih cukup challenging dan berpotensi meningkat, terutama jika daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya,” ujar Trioksa kepada kontan.co.id, Minggu (8/2). Trioksa menambahkan, sektor yang berisiko tinggi terhadap kenaikan kredit bermasalah adalah sektor yang berkaitan dengan pembelian barang bernilai besar, seperti perumahan dan otomotif. Sementara sektor kebutuhan pokok, perkebunan, pertanian, dan ritel diprediksi lebih stabil karena permintaannya relatif terjaga.
“Bank perlu tetap menjaga kualitas kredit sekaligus mendorong pertumbuhan dari sektor yang prospektif agar risiko tetap terkendali,” kata Trioksa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News