KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pasar pusat data (data center) Jakarta diproyeksikan mencapai US$ 856 juta pada 2030, tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 11% sepanjang 2025–2030. Lonjakan kebutuhan hyperscale, enterprise cloud, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong pertumbuhan pasar tersebut. Managing Director Japan and APAC NTT Global Data Centers, Yasuhiro Kajiki mengatakan, perkembangan AI telah mengubah kebutuhan industri pusat data, terutama dari sisi kapasitas komputasi dan kecepatan penyediaan fasilitas. “Inovasi AI ini terus hadir dan pertumbuhannya mencapai lebih dari 50% dari CAGR saat ini. Ini adalah lompatan besar yang mengubah dinamika pasar sekarang,” ujar Kajiki dalam konferensi pers NTT Data di Jakarta, Selasa (3/11/2026). Baca Juga: DPR Dorong Ekspor SDA Indonesia Langsung ke Negara Tujuan Berdasarkan presentasi NTT yang mengacu pada Jakarta Data Center Market Report 2025 dari Structure Research, nilai pasar colocation Jakarta meningkat dari US$ 348,9 juta pada 2023 menjadi US$ 454 juta pada 2024. Pada 2025, nilainya mencapai US$ 507,2 juta dan diproyeksikan terus meningkat hingga US$ 570,3 juta pada 2026. Segmen hyperscale diperkirakan menyumbang 45% dari total pasar pada 2030. Adapun segmen AI, GPU as a Service (GPUaaS), dan sovereign cloud diproyeksikan mencatatkan CAGR lebih dari 50%. Dari sisi operasional, pelanggan AI juga dinilai lebih mengutamakan kapasitas dan kecepatan dibandingkan tingkat ketersediaan layanan yang sangat tinggi. “Pemain AI tidak terlalu memusingkan kualitas layanan yang super tinggi tersebut. Mereka lebih membutuhkan skala besar dan kecepatan yang lebih tinggi; ketersediaan 99,9% sudah cukup bagi mereka,” ujar Kajiki. Untuk menangkap kebutuhan tersebut, NTT meresmikan JKT2A di kawasan Kuningan, Jakarta. Fasilitas yang berada di sebelah gedung Jakarta 2 ini difokuskan sebagai network edge data center untuk mendukung pertukaran lalu lintas data dan interkoneksi jaringan. JKT2A memiliki 240 operator telekomunikasi, delapan internet exchange (IX), serta konektivitas dengan tiga pendaratan kabel bawah laut. Fasilitas ini juga mendukung edge hyperscaler, content delivery network (CDN), payment gateway, dan komputasi AI melalui dukungan GPU, high-density power, beban lantai tinggi, serta liquid cooling. Kajiki menjelaskan, JKT2A melengkapi Jakarta 3 Data Center (JKT3) di Bekasi yang berjarak sekitar 35 kilometer dari pusat Jakarta. Kedua fasilitas tersebut memiliki fungsi dan karakteristik pelanggan yang berbeda. “JKT2 Annex berfungsi sebagai network edge data center tempat berkumpulnya berbagai operator penyedia jasa internet (ISP) untuk saling bertukar data atau terhubung ke konten hyperscaler dan streaming video,” jelasnya. Sementara JKT3 diarahkan untuk kebutuhan penyimpanan cloud hyperscaler berskala besar. Perbedaan tersebut tercermin dari pola penyewaan pelanggan. “JKT2 dan JKT2 Annex memiliki jumlah pelanggan yang lebih banyak. Sebaliknya, JKT3 di Bekasi dirancang untuk penyimpanan cloud hyperscaler skala besar. Jumlah pelanggannya lebih sedikit, tetapi kapasitas penyewaan per pelanggan jauh lebih raksasa,” kata Kajiki. Di sisi teknologi, NTT mengandalkan Innovative Optical and Wireless Network (IOWN) untuk mengoptimalkan konektivitas dan konsumsi energi antarpusat data. Baca Juga: Waskita Karya Kebut Revitalisasi Bandara Minangkabau, Progres Capai 78,83%
NTT Bidik Pertumbuhan Pasar Data Center Jakarta di Tengah Lonjakan Kebutuhan AI
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pasar pusat data (data center) Jakarta diproyeksikan mencapai US$ 856 juta pada 2030, tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 11% sepanjang 2025–2030. Lonjakan kebutuhan hyperscale, enterprise cloud, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong pertumbuhan pasar tersebut. Managing Director Japan and APAC NTT Global Data Centers, Yasuhiro Kajiki mengatakan, perkembangan AI telah mengubah kebutuhan industri pusat data, terutama dari sisi kapasitas komputasi dan kecepatan penyediaan fasilitas. “Inovasi AI ini terus hadir dan pertumbuhannya mencapai lebih dari 50% dari CAGR saat ini. Ini adalah lompatan besar yang mengubah dinamika pasar sekarang,” ujar Kajiki dalam konferensi pers NTT Data di Jakarta, Selasa (3/11/2026). Baca Juga: DPR Dorong Ekspor SDA Indonesia Langsung ke Negara Tujuan Berdasarkan presentasi NTT yang mengacu pada Jakarta Data Center Market Report 2025 dari Structure Research, nilai pasar colocation Jakarta meningkat dari US$ 348,9 juta pada 2023 menjadi US$ 454 juta pada 2024. Pada 2025, nilainya mencapai US$ 507,2 juta dan diproyeksikan terus meningkat hingga US$ 570,3 juta pada 2026. Segmen hyperscale diperkirakan menyumbang 45% dari total pasar pada 2030. Adapun segmen AI, GPU as a Service (GPUaaS), dan sovereign cloud diproyeksikan mencatatkan CAGR lebih dari 50%. Dari sisi operasional, pelanggan AI juga dinilai lebih mengutamakan kapasitas dan kecepatan dibandingkan tingkat ketersediaan layanan yang sangat tinggi. “Pemain AI tidak terlalu memusingkan kualitas layanan yang super tinggi tersebut. Mereka lebih membutuhkan skala besar dan kecepatan yang lebih tinggi; ketersediaan 99,9% sudah cukup bagi mereka,” ujar Kajiki. Untuk menangkap kebutuhan tersebut, NTT meresmikan JKT2A di kawasan Kuningan, Jakarta. Fasilitas yang berada di sebelah gedung Jakarta 2 ini difokuskan sebagai network edge data center untuk mendukung pertukaran lalu lintas data dan interkoneksi jaringan. JKT2A memiliki 240 operator telekomunikasi, delapan internet exchange (IX), serta konektivitas dengan tiga pendaratan kabel bawah laut. Fasilitas ini juga mendukung edge hyperscaler, content delivery network (CDN), payment gateway, dan komputasi AI melalui dukungan GPU, high-density power, beban lantai tinggi, serta liquid cooling. Kajiki menjelaskan, JKT2A melengkapi Jakarta 3 Data Center (JKT3) di Bekasi yang berjarak sekitar 35 kilometer dari pusat Jakarta. Kedua fasilitas tersebut memiliki fungsi dan karakteristik pelanggan yang berbeda. “JKT2 Annex berfungsi sebagai network edge data center tempat berkumpulnya berbagai operator penyedia jasa internet (ISP) untuk saling bertukar data atau terhubung ke konten hyperscaler dan streaming video,” jelasnya. Sementara JKT3 diarahkan untuk kebutuhan penyimpanan cloud hyperscaler berskala besar. Perbedaan tersebut tercermin dari pola penyewaan pelanggan. “JKT2 dan JKT2 Annex memiliki jumlah pelanggan yang lebih banyak. Sebaliknya, JKT3 di Bekasi dirancang untuk penyimpanan cloud hyperscaler skala besar. Jumlah pelanggannya lebih sedikit, tetapi kapasitas penyewaan per pelanggan jauh lebih raksasa,” kata Kajiki. Di sisi teknologi, NTT mengandalkan Innovative Optical and Wireless Network (IOWN) untuk mengoptimalkan konektivitas dan konsumsi energi antarpusat data. Baca Juga: Waskita Karya Kebut Revitalisasi Bandara Minangkabau, Progres Capai 78,83%