KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mengacu pada visi Indonesia Emas 2045, Indonesia berambisi untuk menjadi negara berpendapatan tinggi yang berdaya saing global. Peluang kecerdasan buatan (AI) terbesar di Indonesia tidak terletak pada sekadar adopsi teknologi saja, melainkan pada
"human dividend" atau sumber daya manusia (SDM) unggul yang memiliki keahlian, pertimbangan matang, serta dukungan dari institusi untuk mengonversi AI menjadi produktivitas, inovasi, dan nilai ekonomi. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Tan Hong Ming, Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore (NUS) Business School, dalam sebuah sesi diskusi dengan media di Jakarta. Menurutnya, jika selama ini bonus demografi Indonesia dipandang sebagai salah satu keunggulan utama, AI kini menggeser fokus sumber daya manusia pada peningkatan kemampuan dan kapabilitasnya.
Baca Juga: Dorong Transformasi SDM di Era AI, IHCBS 2026 Usung Konsep Interaktif "Selama puluhan tahun, “bonus” tersebut selalu diukur dari jumlah tenaga kerja. Keberadaan AI mengubah hal tersebut. Contohnya seorang karyawan yang dibekali keterampilan dalam AI, kini bisa lebih melakukan banyak hal. Alhasil, produktivitas kian ditentukan oleh kapabilitas tenaga kerja, bukan lagi jumlahnya. Teknologinya sudah ada. Pertanyaan besarnya kini: siapkah SDM kita mencetak nilai tambah dari AI?” ujar Dr. Tan, Selasa (18/8/2026). Keberhasilan AI Terletak pada Manusia, Bukan Teknologi Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa dan merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan nilai ekonomi digital mencapai hampir USD 100 miliar pada 2025, yang menjadikannya pasar digital terbesar di ASEAN. Di saat yang sama, Indonesia ditopang oleh sekitar 65 juta UMKM yang menyumbang 60 persen PDB serta meneyrap 97 persen tenaga kerja Potensi ini membuka ruang produktivitas serta inovasi berbasis AI secara masif. "Saat ini, pembahasan masih berkutat pada pekerjaan yang akan tergantikan oleh AI. Saya rasa ini kurang tepat. Tujuan AI tak boleh cuma sebatas otomatisasi, melainkan peningkatan kapasitas. AI harusnya membantu kita memecahkan masalah yang lebih besar, membuat keputusan yang lebih tepat, dan melahirkan nilai-nilai baru. Perusahaan yang memakai AI hanya untuk mengotomatisasi tugas mungkin bisa menghemat biaya dalam jangka pendek. Namun, entitas yang memakai AI untuk memberdayakan manusianya justru akan memetik nilai jangka panjang yang jauh lebih besar," tegas Dr. Tan. Alih-alih menganggap AI sebagai ancaman bagi manusia, Dr. Tan menekankan bahwa sebuah entitas (perusahaan) untuk merestrukturisasi pola kerja mereka, mempertajam daya pikir, meningkatkan kapasitas SDM, dan mendorong karyawan untuk lebih berkembang, sembari hal-hal krusial tetap berada di tangan manusia. Namun, membangun bonus SDM menjadi SDM unggulan, bukanlah perkara mudah. Kendati adopsi AI terbukti kian pesat di sektor manufaktur, jasa keuangan, kesehatan, logistik, hingga konsumsi di Indonesia, banyak perusahaan masih menemui kendala untuk mengukur dan memperluas adopsi AI hingga membuahkan hasil. Kelangkaan pegawai, infrastruktur digital yang belum merata, serta tingkat kesiapan AI yang berbeda-beda, masih menjadi hambatan utama khususnya bagi bisnis skala kecil. Dr. Tan menambahkan bahwa
human dividend membutuhkan tiga tahap investasi agar dapat berkembang. “Pertama, setiap entitas memerlukan literasi AI agar karyawan memahami cara menggunakannya secara efektif. Kedua, jajaran pimpinan harus memiliki kapabilitas untuk merancang ulang pola kerja agar AI dapat memperkuat peran manusia, bukan sekadar otomatisasi. Tujuannya adalah memungkinkan orang-orang mencapai hasil yang sebelumnya sulit atau mustahil diraih. Ketiga, setiap entitas harus membangun budaya belajar berkelanjutan seiring dengan perkembangan AI yang dinamis," ujarnya. Mencipta SDM Siap AI bagi Indonesia Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk mengoptimalkan potensi
human dividend. Berdasarkan data Microsoft Work Trend Incex 2026, sebanyak 33% kalangan profesional di Indonesia masuk dalam kategori pengguna AI tingkat mahir (
advanced), angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 16%. Hal ini tidak lepas dari penetrasi internet yang mencapai sekitar 81%. Selain itu, ekosistem kewirausahaan yang dinamis, menjadikannya pondasi yang kokoh untuk memperluas adopsi AI di berbagai sektor ekonomi Indonesia. Sementara itu, Profesor Teo Chung Piaw, Dekan NUS Business School, menilai bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan adopsi AI berjalan selaras dengan pengembangan kualitas SDM/tenaga kerja. "Setiap proyek AI wajib menyertakan rencana pengembangan SDM di samping rencana implementasi teknologinya. Perusahaan jangan lagi memandang adopsi AI dan pengembangan SDM sebagai dua hal terpisah. Keduanya harus berjalan beriringan," ungkap Prof. Teo. Selain itu, Prof. Teo juga mematahkan anggapan bahwa UMKM di Indonesia hanya menjadi pengguna AI. Ia justru optimistis bahwa sektor UMKM berpotensi menjadi salah satu kisah sukses adopsi AI di tanah air. "UMKM itu dinamis. Mereka mampu bereksperimen dengan cepat, beradaptasi lebih lincah dibandingkan dengan korporasi besar, dan memanfaatkan AI untuk menjangkau lebih banyak pelanggan tanpa biaya operasional yang membengkak. AI memberikan kesempatan bagi bisnis skala kecil untuk menghasilkan dampak besar dengan sumber daya yang efisien," kata Prof. Teo. Kolaborasi dan Kesiapan SDM Selain mendongkrak produktivitas bisnis, Prof. Teo menyampaikan bahwa keberadaan AI juga harus mampu membantu Indonesia menjawab berbagai tantangan nasional yang lebih luas. Sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 dan Strategi Nasional AI milik pemerintah, teknologi kecerdasan buatan ini diharapkan dapat menjadi kunci penyelesaian masalah di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, inklusi keuangan, hingga pelayanan publik. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, ia menekankan pentingnya kolaborasi yang lebih erat antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah. "Sekolah bisnis memiliki tanggung jawab yang lebih luas dari sekadar mencetak lulusan. Kami memiliki tanggung jawab dalam melahirkan pemimpin yang paham cara mengintegrasikan AI ke dalam strategi bisnis, memimpin transformasi dalam perusahaan, serta menerjemahkan hasil riset menjadi solusi yang berdampak bagi ekonomi dan sosial," jelas Prof. Teo. Sebagai sekolah bisnis terkemuka di Asia, NUS Business School bekerja sama secara erat dengan para pelaku usaha dan pemangku kebijakan melalui riset, pendidikan eksekutif, serta kemitraan industri. Langkah ini bertujuan membantu berbagai entitas menavigasi transformasi digital sekaligus membangun kapabilitas pemimpin masa depan. Lebih dari sekadar forum diskusi media, kunjungan NUS Business School ke Jakarta diikuti agenda besar lainnya. Sebanyak 55 peserta Executive MBA dari 15 negara dan 15 sektor industri, turut hadir langsung dalam rangkaian
overseas learning. Momentum ini makin lengkap dengan digelarnya malam keakraban alumni dan mahasiswa aktif NUS Business School, sekaligus meresmikan
Alumni Founders Business Showcase pertama yang memamerkan berbagai unit bisnis serta
startup karya alumni di Jakarta dan Singapura. Sebagai informasi, pendaftaran mahasiswa asal Indonesia di berbagai program NUS Business School pun sangat stabil dari tahun ke tahun. Hal ini mencerminkan besarnya minat pelajar maupun profesional asal Indonesia untuk mengasah potensi mereka di tingkat regional. di NUS Business School. Program MSc in Sustainable and Green Finance serta MSc in Strategic Analysis and Innovation menjadi pilihan favorit mahasiswa Indonesia. Hal ini sejalan dengan meningkatnya antusiasme untuk memperdalam keahlian sektor keuangan dan keberlanjutan, sejalan dengan ambisi Indonesia di bidang investasi hijau, transisi energi, hingga pertumbuhan berkelanjutan.
Di sisi lain, Dr. Tan mendorong Indonesia untuk mengukir jalurnya sendiri dalam pengembangan AI, alih-alih sekadar mengikuti pendekatan yang diterapkan negara lain. Ia meyakini bahwa entitas yang akan sukses (dalam pemanfaatan AI) bukanlah mereka yang memiliki sistem paling canggih, melainkan mereka yang secara konsisten berinvestasi pada pengembangan SDM. Bagi Indonesia,
human dividend atau bonus SDM unggul, merupakan hal diperoleh secara alami. SDM unggul harus diciptakan melalui investasi terus-menerus di bidang keterampilan, kepemimpinan, dan kapasitas lembaga. "AI dan teknologi akan terus berkembang. Keunggulan bersaing jangka panjang akan tercipta dengan terus meningkatkan kapabilitas SDM lewat AI. Peluang AI terbesar bagi Indonesia adalah memperkuat
human dividend yang dimilikinya," ujar Dr. Tan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News