KONTAN.CO.ID - Raksasa semikonduktor Nvidia memperkirakan peluang pendapatan dari bisnis chip kecerdasan buatan (AI) dapat mencapai sedikitnya US$1 triliun hingga 2027. Proyeksi ini disampaikan seiring strategi perusahaan untuk memperkuat posisi di pasar
inference computing yakni pemrosesan AI secara real-time. Chief Executive Officer Jensen Huang mengungkapkan, lonjakan permintaan AI kini mulai bergeser dari tahap pelatihan model (
training) menuju penggunaan langsung oleh pengguna (
inference).
“
The inference inflection has arrived, dan permintaan terus meningkat,” ujar Huang dalam konferensi tahunan GTC di San Jose, California Senin (16/3/2026)
Baca Juga: Pekerja Samsung Ancam Mogok, Pasokan Chip Global Berisiko Terganggu Dalam ajang tersebut, Nvidia memperkenalkan prosesor baru serta sistem AI berbasis teknologi dari startup chip Groq, yang sebelumnya dilisensikan Nvidia dalam kesepakatan senilai US$17 miliar pada Desember lalu. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Nvidia untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di segmen inference, di mana chip grafis (GPU) mulai bersaing dengan CPU dan prosesor kustom milik perusahaan teknologi seperti Google. Selama ini, Nvidia mendominasi pasar pelatihan model AI. Namun, seiring meningkatnya adopsi AI oleh perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, dan Meta Platforms, kebutuhan kini bergeser ke penyajian layanan AI kepada ratusan juta pengguna.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Sekitar 3% Senin (16/3), Meski Ketegangan Selat Hormuz Berlanjut Peluang Inference Kian Besar Huang menjelaskan, proses inference akan terbagi dalam dua tahap utama. Tahap pertama (prefill) akan ditangani oleh chip Nvidia generasi Vera Rubin, yang mengubah input pengguna menjadi format “token” yang dipahami mesin. Tahap berikutnya (
decode) akan ditangani oleh chip dari Groq, yang bertugas menghasilkan jawaban akhir untuk pengguna. Pergeseran ini juga mendorong peningkatan permintaan CPU, yang selama ini didominasi oleh Intel, dan mulai menjadi alternatif dalam menjalankan model AI. “Kami sudah menjual banyak CPU secara standalone, dan ini akan menjadi bisnis bernilai miliaran dolar bagi kami,” ujar Huang.
Baca Juga: Harga Emas Melemah, Kekhawatiran Inflasi Akibat Konflik Timur Tengah Tekan Pasar Redakan Kekhawatiran Investor Proyeksi peluang US$1 triliun ini meningkat dari estimasi sebelumnya sebesar US$500 miliar hingga 2026 untuk chip AI generasi Blackwell dan Rubin. Pengumuman tersebut sempat mendorong saham Nvidia naik, meski akhirnya ditutup menguat tipis sekitar 1,2%. Analis eMarketer Jacob Bourne menilai, langkah ini menegaskan kekuatan permintaan terhadap infrastruktur AI Nvidia di tengah kekhawatiran investor soal keberlanjutan pertumbuhan perusahaan. “Ini menunjukkan Nvidia mampu mempertahankan kepemimpinannya di pasar chip AI, seiring industri yang bergerak dari tahap eksperimen menuju implementasi skala besar,” ujarnya.
Baca Juga: Jalur Hormuz Kembali Normal: Dampak Besar Bagi Pasar Energi Global Ekspansi ke AI Agent
Selain itu, Nvidia juga memperkenalkan platform AI agent bernama NemoClaw, yang terintegrasi dengan OpenClaw. Teknologi ini memungkinkan sistem AI menjalankan berbagai tugas secara otonom dengan kontrol privasi dan keamanan yang lebih baik. Ke depan, Nvidia juga menyiapkan
roadmap teknologi “Feynman” yang dijadwalkan hadir pada 2028, sebagai kelanjutan dari arsitektur Rubin Ultra. Analis dari Technalysis Research, Bob O’Donnell, menilai pendekatan Nvidia kini telah berkembang dari sekadar menjual chip menjadi menyediakan sistem AI terintegrasi. “Dulu Nvidia hanya meluncurkan GPU baru. Sekarang mereka menghadirkan satu ekosistem lengkap dalam bentuk sistem,” ujarnya.