KONTAN.CO.ID - Nvidia memproyeksikan pendapatan kuartal kedua di atas ekspektasi Wall Street serta mengumumkan program pembelian kembali saham (
share buyback) senilai US$80 miliar. Perusahaan teknologi paling bernilai di dunia itu memperkirakan pendapatan kuartal kedua mencapai US$91 miliar, plus minus 2%. Angka tersebut lebih tinggi dibanding estimasi analis sebesar US$86,84 miliar berdasarkan data LSEG.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil Kamis (21/5), Harapan Damai Iran Redam Kekhawatiran Inflasi Meski demikian, saham Nvidia turun tipis 0,2% dalam perdagangan
after-hours setelah laporan keuangan dirilis. Kinerja Nvidia selama ini dipandang sebagai barometer kesehatan industri kecerdasan buatan (AI) global karena chip perusahaan digunakan di hampir seluruh pusat data utama dunia untuk menjalankan model AI paling canggih. Analis eMarketer Jacob Bourne menilai, Nvidia kembali mencatatkan kinerja di atas ekspektasi, namun pasar kini mulai mempertanyakan keberlanjutan ekspansi AI hingga 2027 dan 2028. Menurutnya, fokus industri mulai bergeser menuju inference, yakni proses ketika AI merespons permintaan pengguna. Pasar inference dinilai jauh lebih besar dibanding pelatihan model AI.
Baca Juga: Reli Dolar AS Terhenti Kamis (21/5) karena Harapan Kesepakatan Iran Di segmen ini, Nvidia menghadapi persaingan yang semakin ketat dari raksasa teknologi seperti Google, Amazon, AMD, dan Intel yang mengembangkan chip AI internal mereka sendiri. Selain itu, pesaing tradisional seperti dan atau AMD juga agresif membidik peluang pasar inference. Untuk mempertahankan dominasinya, Nvidia terus memperluas portofolio produknya. Pada Maret lalu, perusahaan berbasis di Santa Clara, California, itu meluncurkan CPU dan sistem AI baru berbasis teknologi dari . Direktur Keuangan Nvidia, Colette Kress, mengatakan pasar CPU Nvidia diperkirakan bernilai sekitar US$200 miliar. Perusahaan juga memiliki visibilitas terhadap potensi pendapatan CPU hampir US$20 miliar pada tahun fiskal ini.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bangkit Lagi Kamis (21/5) Pagi, Perdamaian Iran Masih Abu-Abu Selain memperluas bisnis, Nvidia juga meningkatkan pengeluaran untuk mengamankan rantai pasok di tengah krisis chip memori global. Persediaan perusahaan naik menjadi US$119 miliar pada kuartal pertama fiskal dari sebelumnya US$95,2 miliar. Secara kinerja, Nvidia membukukan pendapatan kuartal pertama sebesar US$81,62 miliar, melampaui estimasi analis sebesar US$78,86 miliar. Pendapatan dari segmen pusat data mencapai US$75,2 miliar, lebih tinggi dibanding perkiraan pasar sebesar US$72,8 miliar. Secara adjusted, laba Nvidia tercatat sebesar US$1,87 per saham, di atas ekspektasi pasar sebesar US$1,76 per saham.
Nvidia juga mengumumkan kenaikan dividen tunai kuartalan menjadi 25 sen per saham dari sebelumnya 1 sen per saham.
Baca Juga: Gegara Paket Senjata Rp 247 Triliun untuk Taiwan, China Tahan Kunjungan Pentagon Di tengah lonjakan kebutuhan AI global, perusahaan teknologi besar AS diperkirakan menggelontorkan lebih dari US$700 miliar untuk infrastruktur AI sepanjang tahun ini, meningkat tajam dibanding sekitar US$400 miliar pada 2025. Selain itu, Nvidia mengungkapkan nilai kontrak cloud computing yang dimilikinya mencapai US$30 miliar, naik dari US$27 miliar pada kuartal sebelumnya. Dana tersebut disebut akan mendukung aktivitas riset dan pengembangan perusahaan.