KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nvidia memproyeksikan lonjakan pendapatan sebesar 70% pada tahun fiskal berikutnya. Proyeksi tersebut menunjukkan permintaan komputasi untuk kecerdasan buatan (AI) masih sangat kuat, meski perusahaan memperingatkan keterbatasan pasokan komponen memori dapat membatasi laju ekspansi bisnis. Saham Nvidia (NVDA) naik hampir 5% dalam perdagangan setelah jam bursa pada Rabu (26/8/2026), setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 1%. Chief Executive Officer Nvidia Jensen Huang mengatakan perkembangan AI kini memasuki fase penting karena teknologi tersebut mulai menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata.
"AI telah mencapai titik infleksi. AI kini melakukan pekerjaan yang berguna. Token yang dihasilkan AI bersifat produktif dan menguntungkan. Sekarang, komputasi menjadi pendapatan," kata Jensen Huang. Proyeksi tersebut berpotensi meredakan kekhawatiran investor mengenai seberapa lama lonjakan belanja AI dapat terus berlangsung setelah pertumbuhan yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Aturan Baru Nuklir India Bisa Hambat Investasi Asing dan Teknologi Reaktor Dengan memperkirakan pertumbuhan pendapatan jauh di atas ekspektasi Wall Street serta mengungkapkan permintaan dari perusahaan teknologi terbesar dan laboratorium AI, Nvidia menegaskan bahwa pasar komputasi AI masih terus berkembang, bukan mencapai puncaknya. Namun, keterbatasan pasokan membuat Nvidia belum dapat sepenuhnya memenuhi besarnya permintaan tersebut. Manajemen Nvidia juga memaparkan peta jalan pertumbuhan perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. Salah satunya melalui peningkatan produksi prosesor generasi berikutnya, Vera Rubin, serta perluasan penjualan kepada laboratorium AI seperti OpenAI.
Nvidia Jarang Berikan Proyeksi Setahun ke Depan
Proyeksi pertumbuhan pendapatan sebesar 70% pada tahun fiskal berikutnya yang berakhir Januari 2028 menjadi langkah yang tidak biasa bagi Nvidia. Perusahaan biasanya tidak memberikan proyeksi kinerja sejauh satu tahun ke depan. "Kami belum pernah memberikan perkiraan atau panduan untuk satu tahun ke depan," ujar Huang. Sebelum laporan keuangan Nvidia dirilis, analis rata-rata memperkirakan pertumbuhan pendapatan perusahaan hanya sekitar 44% untuk periode yang sama. Chief Market Strategist Futurum Equities Shay Boloor menilai proyeksi Nvidia semakin kredibel karena sumber permintaan kini semakin beragam. "Hal yang membuat proyeksi tersebut semakin kredibel adalah permintaan yang meluas di luar hyperscaler awal. Cloud AI, perusahaan, pembeli berdaulat, dan pelanggan industri kini tumbuh secara material lebih cepat," kata Boloor. Nvidia mengatakan platform Vera Rubin yang mulai dikirimkan kepada pelanggan akan menyumbang sekitar seperlima dari total pendapatan pusat data perusahaan pada kuartal berjalan yang berakhir Oktober 2026. Pada kuartal fiskal kedua yang berakhir Juli, pendapatan Nvidia dari bisnis pusat data melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$89 miliar. Angka tersebut melampaui estimasi analis sebesar US$85,08 miliar berdasarkan data LSEG.
Baca Juga: Perang Iran Bikin OPEC+ Kehilangan Pengaruh, China Kini Jadi Penentu Harga Minyak Keterbatasan Pasokan Jadi Tantangan Nvidia
Meski prospek permintaan AI semakin kuat, Nvidia menghadapi tantangan dari sisi pasokan. Perusahaan memperkirakan permintaan dari laboratorium AI akan menyumbang sekitar seperempat dari total bisnis Nvidia pada tahun depan. Kondisi tersebut menunjukkan basis pelanggan perusahaan semakin terdiversifikasi. Nvidia juga menyebut perusahaan yang dikenal sebagai neo-cloud, termasuk Nebius dan CoreWeave, diperkirakan mengakhiri tahun ini dengan kapasitas GPU Nvidia lebih dari 8 gigawatt. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 3 gigawatt pada akhir tahun lalu. Nvidia juga memperluas kerja sama dengan Amazon Web Services (AWS), unit komputasi awan milik Amazon. Kedua perusahaan akan menempatkan tambahan 2 juta unit prosesor grafis Nvidia di infrastruktur global Amazon pada 2027 dan 2028. Chief Financial Officer Nvidia Colette Kress mengatakan permintaan terhadap produk perusahaan terus meningkat meski skala bisnis Nvidia sudah sangat besar. "Kami melihat percepatan permintaan bahkan pada skala kami saat ini. Proyeksi pelanggan menunjukkan pertumbuhan kami dapat berlipat ganda tahun depan. Namun, kami menghadapi keterbatasan pasokan," kata Kress dalam konferensi dengan analis. Kenaikan harga memori dan biaya komponen yang lebih tinggi juga akan terus memberikan tekanan terhadap margin Nvidia. Kress memperkirakan margin perusahaan akan mencapai titik terendah sekitar 71% hingga 72% pada kuartal keempat, turun dari sekitar 74% pada kuartal ketiga. Sementara itu, analis sebelumnya memperkirakan margin kuartal ketiga mencapai 74,77%.
Nvidia Ramal Pendapatan Kuartal III Capai US$108 Miliar
Nvidia memperkirakan pendapatan kuartal ketiga mencapai US$108 miliar, dengan kisaran plus atau minus 2%. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi rata-rata analis sebesar US$104,19 miliar berdasarkan data LSEG. Pada kuartal kedua, pendapatan Nvidia melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$96,22 miliar. Angka tersebut juga melampaui perkiraan analis sebesar US$92,17 miliar. Laba Nvidia yang telah disesuaikan mencapai US$2,22 per saham untuk tiga bulan yang berakhir pada 26 Juli. Angka tersebut berada di atas estimasi analis sebesar US$2,10 per saham.
Baca Juga: Banjir Bandang Nepal Diduga Dipicu Runtuhnya Gletser Penjualan Chip Nvidia ke China Masih Jadi Tanda Tanya
Di sisi lain, prospek bisnis Nvidia di China masih belum pasti. Pada Mei 2026, Washington memberikan izin kepada sekitar 10 perusahaan China, termasuk Alibaba, Tencent, dan ByteDance, untuk membeli salah satu chip AI Nvidia yang paling kuat, H200. Namun, pengiriman chip tersebut sempat tertunda selama berbulan-bulan.
Nvidia tidak memasukkan pendapatan pusat data dari China dalam proyeksinya. Pada Juni, Nvidia mulai menawarkan CPU Vera kepada pelanggan di China. Saat itu, perusahaan menyampaikan bahwa chip tersebut berpotensi tersedia mulai Agustus, sementara China secara terpisah mempertimbangkan izin pembelian H200 dalam jumlah terbatas oleh perusahaan AI terkemuka. Bulan lalu, seorang pejabat Departemen Perdagangan AS mengatakan pengiriman chip Nvidia ke China telah dimulai, tetapi jumlahnya masih "sangat sedikit". Ketidakpastian pasar China menjadi salah satu faktor yang masih membayangi prospek Nvidia. Namun, kuatnya permintaan dari perusahaan teknologi, laboratorium AI, penyedia cloud, perusahaan, dan pelanggan industri membuat Nvidia tetap optimistis terhadap pertumbuhan bisnis komputasi AI dalam beberapa tahun mendatang.