Obat herbal memupuk margin INAF



JAKARTA. PT Indofarma Tbk membidik margin laba yang lebih tebal. Target tersebut mampu terpenuhi kalau bisnis obat herbal yang digarap perusahaan plat merah ini sudah berjalan.

Tak cuma margin, Indofarma memprediksi, bisnis obat herbal mampu menopang sekitar 20% terhadap total penjualan pada tahun depan. Perusahaan pelat merah itu akan menjajakan produk herbal ke pasar dalam negeri dan luar negeri.

Namun, niat mewujudkan bisnis obat herbal tak gampang. Sebelum berproduksi, produk Indofarma harus mengantongi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) lebih dahulu. Sejauh ini, perusahaan itu masih menunggu izin tersebut.


Persoalan lain, suplai bahan baku obat herbal tergantung musim tanam. "Produk herbal itu sangat bergantung pada sustainability, terkait musim tanam dan kualitas bahan mentah dari pertanian," ujar Yasser Arafat, Sekretaris Perusahaan PT Indofarma Tbk, saat paparan publik yang digelar awal pekan ini.

Sejatinya bukan cuma obat herbal saja yang tengah menunggu restu BPOM. Produk non obat seperti suplemen dan susu kemasan pun demikian. Manajemen Indofarma bilang, ada 17 produk non obat yang tak bisa mereka pasarkan karena sertifikat BPOM belum turun.

Kalau izin-izin BPOM tadi keluar, Infofarma memiliki peluang besar untuk menggenjot bisnis di luar produk utama yaitu obat resep dan obat bebas. Informasi saja, per 30 September 2016 penjualan obat resep (ethical) dan obat bebas (over the counter) tercatat Rp 568 miliar atau 65,39% terhadap total penjualan. (lihat infografis)

Di samping mengulik potensi cuan dari variasi produk, Indofarma akan memperbesar ekspor. Meskipun margin penjualan ekspor tak terlalu besar, Indofarma menikmati keuntungan berupa pembayaran di muka.

Sasaran Indofarma adalah negara-negara di Afrika. Pilihan mereka, adalah negara dengan kondisi dan lingkungan medis yang tak jauh berbeda dengan Indonesia.

Sejauh ini, Indofarma sudah menjangkau 11 negara tujuan ekspor. Beberapa di antaranya adalah Afganistan, Irak, Yordania, Filipina dan Myanmar. "Ekspor ke negara seperti Afghanistan dan Irak menopang sekitar 80% terhadap pendapatan ekspor," terang Arief Budiman, Direktur Utama PT Indofarma Tbk.

Dalam setahun, Indofarma mengekspor empat kali obat batuk. Masing-masing fase pengiriman terdiri dari dua kontainer. Khusus untuk wilayah Timur Tengah, biasanya pesanan obat batuk membesar pada saat musim dingin berlangsung.

Capex Rp 120 miliar

Manajemen Indofarma memprediksi, kontribusi penjualan ekspor sepanjang tahun ini 5% terhadap total penjualan. Tahun depan, perusahaan berkode saham INAF di Bursa Efek Indonesia itu ingin kontribusi ekspor naik tipis menjadi 7%. "Namun dengan syarat negara pembeli tersebut mau menaikkan harga, tentu kami berani menaikkan produksi," kata Arief.

Sementara secara keseluruhan, Indofarma mematok target penjualan Rp 2,1 triliun pada tahun 2017. Asal tahu, proyeksi penjualan tahun 2016 adalah Rp 1,68 triliun. Lantas, target minimal perolehan tender obat dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2017 sebesar Rp 300 miliar. Tahun ini, mereka mendekap tender obat JKN sekitar Rp 250 miliar.

Untuk mendukung kinerja tahun 2017, Indofarma menyiapkan dana belanja modal alias capital expenditure (capex) Rp 120 miliar. Dana tersebut untuk membangun fasilitas di pabrik dan peningkatan utilitas.

Alih-alih menambah pabrik anyar, Indofarma memang lebih memilih memperluas fasilitas pabrik. "Soalnya tren sekarang bukan punya pabrik gede tapi minimalis dengan alat produksi yang canggih sehingga lebih efisien," jelas Yasser.

Sampai akhir tahun nanti, utilitas pabrik Indofarma melebihi 70%. Sementara target utilitas pabrik tahun depan bisa mencapai 85%. Tahun depan, Indofarma akan menambah dua cabang di Jawa dan satu cabang di luar Jawa. Total cabang perusahaan ini mencapai 31.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini