KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Obligasi negara seri Fixed Rate (FR) masih dinilai menarik untuk dikoleksi investor ritel pada semester II-2026. Meski pasar obligasi masih dibayangi volatilitas akibat ketidakpastian arah suku bunga global dan tekanan terhadap rupiah, tingginya tingkat imbal hasil (yield) dinilai menjadi peluang bagi investor untuk mengunci kupon yang atraktif. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan dalam kondisi pasar saat ini, strategi yang lebih rasional bagi investor ritel adalah membeli obligasi FR untuk ditahan hingga jatuh tempo (hold to maturity), sembari tetap membuka peluang memperoleh capital gain apabila harga obligasi naik.
Menurutnya, strategi yang semata-mata mengejar capital gain masih cukup berisiko lantaran pasar obligasi belum sepenuhnya stabil. “BI sudah menaikkan BI-Rate menjadi 5,75% untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi, sementara pasar global masih dipengaruhi ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang ketat. Artinya, ruang keuntungan harga memang ada, tetapi belum cukup kuat untuk dijadikan satu-satunya alasan membeli FR,” ujar Josua kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Harga Timah Melesat, Begini Rekomendasi Saham Timah (TINS) Josua menjelaskan, prospek obligasi FR pada semester II-2026 masih cukup menarik meski dibayangi volatilitas. Hal itu didukung oleh level yield Surat Berharga Negara (SBN) yang masih tinggi sehingga investor dapat mengunci kupon dan imbal hasil pada level yang relatif menarik. Namun demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati, mulai dari arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang belum sepenuhnya longgar, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga tingginya pasokan SBN dari pemerintah. "Pada awal Juli, yield SBN tenor 10 tahun sempat berada di sekitar 7,13% menjelang lelang SBN, sementara target lelang diturunkan setelah permintaan pada dua lelang sebelumnya melemah. Ini menunjukkan pasar masih selektif terhadap risiko durasi dan pasokan," jelasnya. Sementara itu, di tengah lesunya pasar saham, Josua menilai obligasi FR tetap layak menjadi pilihan investasi karena menawarkan karakteristik yang lebih defensif. Menurutnya, meski saham berpotensi memberikan imbal hasil yang lebih tinggi, volatilitasnya juga jauh lebih besar. Sebaliknya, obligasi FR menawarkan kupon tetap, dapat diperdagangkan di pasar sekunder, serta didukung profil risiko pemerintah Indonesia yang masih relatif kuat. Ia menambahkan, keputusan Standard & Poor's (S&P) yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB/A-2 dengan outlook stabil turut menjaga persepsi investor terhadap surat utang pemerintah.
Baca Juga: Astra International (ASII) Dapat Restu Buyback Rp 8 Triliun, Cek Rekomendasi Sahamnya Meski demikian, S&P masih menyoroti sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain tekanan fiskal dan eksternal akibat tingginya harga energi, suku bunga global yang masih tinggi, pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang pemerintah.
Terakhir, Josua pun membeberkan sejumlah seri obligasi FR yang layak dicermati investor ritel konservatif, yakni seri tenor pendek-menengah seperti FR0101 yang jatuh tempo pada 2029 dengan kupon 6,875%, FR0104 yang jatuh tempo pada 2030 dengan kupon 6,50%, dan FR0109 yang jatuh tempo pada 2031 dengan kupon 5,875%. Untuk investor yang lebih moderat, FR0103 yang jatuh tempo pada 2035 dengan kupon 6,75% dan FR0108 yang jatuh tempo pada 2036 dengan kupon 6,50% bisa dicermati karena likuid dan tenornya masih berada di area yang wajar untuk mencari kombinasi kupon dan potensi kenaikan harga. Sementara itu, untuk investor agresif, FR0098 yang jatuh tempo pada 2038, FR0106 yang jatuh tempo pada 2040, dan FR0107 yang jatuh tempo pada 2045 memiliki kupon 7,125%. Namun, risikonya juga lebih tinggi karena harga obligasi bertenor panjang lebih sensitif terhadap kenaikan imbal hasil. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News