Obligasi Global Bangkit Setelah Buyback Pemerintah AS, Tapi Efeknya Bisa Singkat



KONTAN.CO.ID - Pasar obligasi global kembali menguat setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) atau US Treasury secara mengejutkan mengumumkan peningkatan program pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang.

Namun, kekhawatiran terhadap inflasi dan membengkaknya utang pemerintah masih membayangi pasar. Imbal hasil obligasi pun tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade.

Baca Juga: China Pertahankan Suku Bunga Acuan, LPR Tak Berubah 15 Bulan


Sehari setelah yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007, US Treasury merespons dengan menggandakan nilai buyback obligasi jangka panjang menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi.

Nilai tersebut sebenarnya relatif kecil dibandingkan dengan total pasar Treasury AS yang mencapai sekitar US$32,2 triliun.

Namun, langkah tersebut dinilai penting karena menunjukkan sensitivitas pemerintah AS terhadap kenaikan suku bunga jangka panjang.

"Pengumuman tersebut memberikan sedikit kelegaan segera terhadap biaya pinjaman," kata analis J.P. Morgan dalam catatan kepada klien.

Meski demikian, analis J.P. Morgan menilai kebijakan tersebut belum menyelesaikan persoalan struktural yang mendasari kenaikan yield.

"Seperti intervensi Jepang baru-baru ini, tindakan Treasury mencerminkan tantangan struktural yang mendasari dan tidak menyelesaikannya," tulis analis tersebut.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Bertahan di Level Tertinggi Dua Bulan, Didorong Pelemahan Dolar AS

Menurut mereka, kenaikan yield terutama didorong oleh defisit fiskal struktural yang tidak berkelanjutan serta meningkatnya ekspektasi inflasi.

Intervensi Treasury justru berpotensi meningkatkan premi risiko apabila pemerintah semakin aktif melakukan intervensi di pasar.

Yield Treasury AS tenor 30 tahun turun 9 basis poin menjadi 5,19% pada perdagangan Rabu malam waktu AS dan relatif stabil pada perdagangan Kamis (20/8) di Tokyo.

Yield obligasi pemerintah Jepang juga turun tajam menjelang lelang obligasi tenor 20 tahun yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Pergerakan serupa terjadi di pasar obligasi Australia dan Korea Selatan, meski dengan skala lebih kecil. Kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman dan Prancis juga menguat.

US Treasury menyatakan, peningkatan ukuran buyback ditujukan untuk memperkuat likuiditas pasar.

"Apa yang dilakukan ini adalah meredakan tekanan jangka pendek pada obligasi jangka panjang," ujar Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities.

Baca Juga: Vietnam Usulkan Penghapusan Hukuman Mati untuk Enam Jenis Tindak Pidana

Beban Utang Jadi Perhatian

Kenaikan biaya pinjaman jangka panjang telah terjadi di berbagai negara dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah di berbagai negara meningkatkan utang untuk membiayai belanja kesejahteraan sosial dan pertahanan.

Kenaikan yield obligasi jangka panjang menjadi perhatian karena meningkatkan beban pembayaran bunga pemerintah sekaligus memengaruhi pasar keuangan secara luas.

Yield obligasi pemerintah juga menjadi acuan dalam menentukan harga obligasi korporasi, saham, hingga aset properti.

Baca Juga: Tesla Bersiap Luncurkan Cybercab, Robotaxi Tanpa Setir di Austin

Di Jerman, biaya pinjaman pemerintah tenor 10 tahun dan 30 tahun sempat mencapai level tertinggi dalam 15 tahun pada Rabu sebelum kembali turun setelah pengumuman buyback Treasury AS.

Kementerian Keuangan Jerman mengatakan kepada Reuters bahwa agresi Rusia telah meningkatkan kebutuhan pembiayaan untuk investasi pertahanan dalam jumlah besar.

Sementara itu, kenaikan yield obligasi Jepang telah mendorong biaya pinjaman ke level tertinggi dalam tiga dekade, sehingga menambah tekanan terhadap keuangan pemerintah di tengah agenda belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di AS, total utang pemerintah telah menembus US$40 triliun. Nilai tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2017, ketika Donald Trump pertama kali dilantik sebagai Presiden AS.

Analis menilai, ketidakseimbangan fiskal tersebut masih akan membebani pasar dan berpotensi mendorong biaya pinjaman jangka panjang semakin tinggi.

Baca Juga: Kapal Kontainer Korea Selatan Akan Menjajal Rute Arktik Menuju Eropa

"Saya kira yang mengkhawatirkan adalah kenaikan yield Treasury AS bukan disebabkan atau diperburuk oleh kondisi pasar yang tidak rasional," kata Eric Robertsen, Global Head of Research sekaligus Chief Strategist Standard Chartered.

Menurut Robertsen, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pemerintah AS menilai level yield yang terbentuk di pasar sudah terlalu tinggi.

"Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah yield telah mencapai level yang tidak mereka sukai. Ini menunjukkan kesediaan untuk mencoba mengendalikan atau melakukan intervensi terhadap mekanisme penawaran dan permintaan alami," ujarnya.