KONTAN.CO.ID - Harga obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor panjang melemah pada Jumat (30/1/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi akan menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai Ketua bank sentral AS berikutnya. Warsh dikenal mendorong “perubahan rezim” di The Fed, termasuk keinginannya untuk memperkecil neraca bank sentral. Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi kepemilikan obligasi oleh The Fed, sehingga menekan harga obligasi dan mendorong kenaikan imbal hasil, khususnya di tenor panjang.
Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat melonjak hingga 6 basis poin ke level tertinggi sesi di 4,914%.
Baca Juga: Exxon Cetak Laba US$ 1,71 per Saham di Kuartal IV-2025, Lampaui Proyeksi Analis Setelah konfirmasi penunjukan Warsh oleh Trump, yield 30 tahun berada di sekitar 4,88%, naik 3 basis poin dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun naik 2,4 basis poin ke 4,25% dan berada di jalur kenaikan sekitar 10 basis poin sepanjang Januari, seiring pelemahan harga obligasi. Sebelumnya, pasar sudah berspekulasi kuat bahwa Warsh akan menjadi pengganti Jerome Powell, yang kerap dikritik Trump karena dinilai terlalu lambat memangkas suku bunga dan dijadwalkan mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua The Fed pada Mei mendatang. “Dibandingkan sejumlah nama yang sebelumnya beredar dan dinilai sangat dovish serta sejalan dengan keinginan Gedung Putih untuk pemangkasan suku bunga agresif, pencalonan Warsh mencerminkan pergeseran yang relatif lebih hawkish dalam kepemimpinan The Fed,” kata analis senior Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan Menguat Usai Trump Tunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed Ia menilai langkah ini bukan sepenuhnya melegakan pasar, namun mencerminkan pendekatan yang lebih disiplin dan realistis. Warsh secara terbuka menyatakan preferensinya untuk memperkecil neraca The Fed, sebuah kebijakan yang berdampak cepat terhadap kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang. Segmen obligasi tenor panjang dinilai paling rentan terhadap penyusutan neraca The Fed karena mengisyaratkan berkurangnya peran bank sentral sebagai penopang likuiditas di pasar uang. Kondisi ini berpengaruh besar terhadap strategi hedge fund yang memanfaatkan “basis trade”, yakni arbitrase selisih kecil antara obligasi tunai dan derivatif Treasury dengan leverage tinggi.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Pasca Trump Isyaratkan Dialog dengan Iran Terkait Program Nuklir “Jika asumsi bahwa pasar uang akan selalu dilindungi mulai berubah karena The Fed tidak lagi siap menjadi penopang utama, maka strategi tersebut menjadi jauh kurang menarik dan lebih berisiko,” ujar Damien Boey, ahli strategi portofolio di Wilson Asset Management, Sydney.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun relatif stabil di level 3,54%. Pasar futures Fed funds masih memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini, yang diperkirakan dimulai pada Juni atau Juli, setelah Ketua The Fed yang baru resmi menjabat pada Mei.