Obligasi Korporasi 2026 Masih Menjanjikan, Investor Diminta Lebih Selektif



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja obligasi korporasi diproyeksi tetap positif pada tahun 2026. Manajemen pemilihan obligasi korporasi dapat menjadi salah satu strategi yang bisa dilakukan investor obligasi korporasi.

Kepala Ekonom Bank Pertama Josua Pardede mengatakan, untuk mengoptimalkan imbal hasil obligasi korporasi tahun ini, strategi yang paling rasional adalah memadukan pemilihan rating dari penerbit, pengelolaan jatuh tempo, dan disiplin harga beli.

Pertama, fokuskan inti portofolio pada penerbit berperingkat sangat tinggi dan arus kas kuat agar sumber imbal hasil utama berasal dari kupon yang stabil. Sementara risiko gagal bayar dan risiko penurunan kualitas kredit tetap rendah. 


Kedua, menyusun portofolio obligasi dengan waktu pelunasan yang tersebar secara bertahap agar arus kas kupon dan pokok tersebar, sehingga investor punya ruang melakukan penyesuaian ketika suku bunga berubah tanpa harus menjual pada saat harga tidak menguntungkan,” ujar Josua kepada Kontan, Rabu (18/2/2026). 

Baca Juga: Pemegang Obligasi Restui Adhi Karya (ADHI) Longgarkan Rasio Keuangan

Ketiga, gunakan pendekatan masuk bertahap untuk mengurangi risiko salah timing, khususnya ketika pasar masih sensitif terhadap arah suku bunga dan nilai tukar.

Keempat, mencari nilai tambah dari perbedaan imbal hasil antar sektor dengan tetap menjaga kualitas. Misalnya pada lembaga pembiayaan dan infrastruktur yang umumnya likuid, namun tetap selektif pada struktur utang dan jadwal pelunasan. 

Kelima, perhatikan likuiditas pasar sekunder dan ukuran emisi karena ini menentukan kemudahan keluar masuk posisi, terutama saat volatilitas meningkat.

Dari sisi kondisi pasar, kepemilikan obligasi korporasi menunjukkan basis domestik yang dominan, yang biasanya membantu menahan gejolak ketika sentimen global memburuk, namun tetap perlu diimbangi pemilihan seri yang aktif diperdagangkan.  

Josua menjelaskan, sentimen yang mempengaruhi obligasi korporasi pada kuartal I – 2026 terutama datang dari tiga jalur. Yakni suku bunga, likuiditas, dan pasokan penerbitan.

Baca Juga: Penerbitan Obligasi ESG Melejit 146% di 2025 Tembus Rp 35,56 Triliun

Jalur suku bunga biasanya ditentukan oleh ekspektasi kebijakan bank sentral dan pergerakan imbal hasil surat utang negara. 

“Ketika pasar menilai peluang penurunan suku bunga menguat, harga obligasi cenderung naik dan imbal hasil turun. Akan tetapi bila risiko inflasi pangan dan tekanan nilai tukar meningkat, pasar akan meminta imbal hasil lebih tinggi,” ucap Josua. 

Lalu, jalur likuiditas dipengaruhi kebutuhan dana perbankan dan preferensi investor institusi di mana pada fase awal tahun, penataan portofolio dan kebutuhan kas dapat membuat pasar lebih selektif sehingga selisih imbal hasil antara obligasi korporasi dan surat utang negara bisa melebar sementara. 

Jalur pasokan terlihat dari kalender penerbitan dan penawaran umum berkelanjutan yakni pada Januari 2026 sudah ada beberapa rencana/efektif penerbitan obligasi dan sukuk dari penerbit besar.

Serta tambahan penerbit lain, yang berarti investor perlu lebih disiplin pada harga karena meningkatnya pasokan dapat menahan penurunan imbal hasil dalam jangka pendek.

Josua memproyeksi yield obligasi korporasi peringkat AAA tenor 3 tahun bergerak di kisaran 5,75% sampai 6,05%, dengan titik tengah sekitar 5,85% sampai 5,95%.

Baca Juga: AllianzGI Memandang Pasar Obligasi Indonesia Tetap Menarik

Alasan utamanya, level wajar imbal hasil berbagai seri obligasi korporasi berperingkat AAA dengan sisa jatuh tempo sekitar tiga tahun saat ini juga berada di sekitar angka tersebut. 

“Misalnya beberapa seri dengan sisa jatuh tempo sekitar 3,2 tahun sampai 3,7 tahun menunjukkan imbal hasil wajar sekitar 6%, sehingga ruang penurunan tajam cenderung terbatas kecuali terjadi penurunan imbal hasil surat utang negara yang cepat dan konsisten,” pungkas Josua.

Selanjutnya: Ada Kebutuhan Refinancing, Penerbitan Obligasi Korporasi Marak di Kuartal I 2026

Menarik Dibaca: Provinsi Ini Hujan Amat Lebat, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (19/2)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News