KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebutuhan refinancing utang diperkirakan menjadi motor utama pasar obligasi korporasi pada kuartal IV 2026. Di tengah tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi, emiten diproyeksikan tetap memanfaatkan pasar surat utang untuk memenuhi kewajiban jatuh tempo sekaligus membiayai kebutuhan operasional dan investasi. Pasar obligasi korporasi pun dinilai masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun, meski penerbitan surat utang sempat mengalami perlambatan pada pertengahan 2026. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, total penerbitan surat utang korporasi hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp 120,18 triliun. Angka tersebut turun 14,54% secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan Rp 140,64 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, karakter pasar obligasi korporasi pada kuartal IV 2026 akan berbeda dibandingkan dengan awal tahun. Menurut dia, emiten kini tidak semata-mata masuk ke pasar dengan ekspektasi bahwa suku bunga akan segera turun.
Baca Juga: BUMA Internasional (DOID) Berpotensi Kantongi Dividen Khusus Asiamet US$ 41 Juta Dengan Bank Indonesia (BI) Rate di level 5,75% dan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sekitar 7,09%, biaya pendanaan masih relatif tinggi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan refinancing menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penerbitan obligasi hingga akhir tahun. "Karena itu, penerbitan lebih banyak didorong oleh kebutuhan jatuh tempo utang, terutama pada Oktober sampai Desember yang nilainya sekitar Rp 43 triliun, serta kebutuhan modal kerja dan belanja modal yang sebelumnya tertunda," ujar Yusuf kepada Kontan, Jumat (11/9/2026). Selain refinancing, kebutuhan modal kerja dan belanja modal yang sebelumnya tertunda juga berpotensi mendorong aktivitas penerbitan obligasi korporasi pada kuartal IV. Yusuf melihat penerbitan obligasi korporasi pada kuartal IV 2026 berpotensi lebih ramai dibandingkan kuartal II. Kendati demikian, investor diperkirakan tetap selektif dalam menyerap surat utang yang diterbitkan korporasi. Lembaga pembiayaan infrastruktur dengan kualitas kredit tinggi seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI, perbankan dengan neraca kuat, serta emiten pulp dan kertas maupun energi dengan arus kas yang relatif solid dinilai masih memiliki daya tarik. Multifinance juga diperkirakan tetap menjadi salah satu kelompok penerbit penting. Hal ini tidak terlepas dari karakter bisnis multifinance yang membutuhkan refinancing secara berkala. Namun, volume penerbitan dari sektor multifinance telah turun cukup tajam secara tahunan dan semakin terkonsentrasi pada pemain-pemain besar.
Baca Juga: Suku Bunga ECB dan Yield US Treasury Naik, Dana Asing ke Indonesia Diprediksi Volatil Sebaliknya, Yusuf menyarankan investor untuk lebih berhati-hati terhadap emiten konstruksi BUMN yang masih menjalani proses penyehatan. Menurutnya, pasar saat ini semakin mampu membedakan antara kebutuhan refinancing normal dan kebutuhan pendanaan yang berkaitan dengan restrukturisasi.
Prospek Kupon Obligasi Korporasi
Dari sisi kupon, Yusuf menilai SBN masih menjadi acuan utama bagi investor sebelum menghitung premi risiko kredit dari masing-masing penerbit obligasi korporasi. Saat ini, yield SBN tenor tiga tahun berada di sekitar 6,81%, sedangkan tenor 10 tahun sekitar 7,09%. Sementara itu, yield obligasi korporasi AAA tenor tiga tahun berada di sekitar 7,41%, AA sekitar 7,64%, dan A sekitar 8,46%. Dengan kondisi tersebut, Yusuf memperkirakan kupon penerbitan baru untuk obligasi berperingkat AAA hingga AA dengan tenor tiga sampai lima tahun berada di kisaran 7,3%-7,8%. Sementara untuk obligasi berperingkat A, kupon sekitar 8,2%-8,8% masih realistis, tergantung tenor dan kualitas masing-masing penerbit. Adapun untuk obligasi berperingkat BBB, investor diperkirakan akan meminta premi yang lebih tinggi seiring dengan meningkatnya risiko kredit.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Volatil Pekan Depan, Pasar Menanti Data Inflasi AS Strategi Investasi Obligasi bagi Investor Ritel
Bagi investor ritel, Yusuf menyarankan strategi investasi pada obligasi dengan tenor pendek hingga menengah, yakni sekitar satu sampai tiga tahun dan maksimal lima tahun. "Di tengah suku bunga yang masih tinggi dan arah kebijakan moneter yang belum sepenuhnya jelas, strategi ini memberikan kupon yang cukup kompetitif sekaligus membatasi risiko durasi," jelasnya. Menurut Yusuf, tenor panjang lebih sesuai bagi investor yang memang ingin mengunci arus kas dan memiliki kesiapan untuk menahan obligasi hingga jatuh tempo. Investor juga diingatkan agar tidak hanya mempertimbangkan besaran kupon ketika memilih obligasi korporasi. Kualitas penerbit, tujuan penggunaan dana, kemampuan membayar utang, serta jadwal jatuh tempo utang berikutnya perlu menjadi pertimbangan utama.
"Kupon dua digit pada obligasi berperingkat BBB memang terlihat menarik, tetapi risikonya juga jauh lebih besar," katanya. Yusuf menilai strategi yang lebih sehat bagi investor adalah membangun tangga jatuh tempo atau laddering, sehingga dana dapat kembali secara bertahap. Selain itu, investor perlu membandingkan setiap penerbitan obligasi korporasi dengan instrumen investasi lain, seperti SBN maupun deposito, sebelum mengambil keputusan investasi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News