Obligasi masih akan dilirik tahun depan, tapi transaksi tak setinggi tahun ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Obligasi diyakini masih akan dilirik investor pada tahun depan. Meski begitu, transaksi rata-rata obligasi harian di pasar obligasi Tanah Air tahun depan, diprediksi tidak akan setinggi 2020. Ini mengingat, kemungkinan penurunan suku bunga acuan di tahun depan tidak akan sesignifikan tahun pandemi Covid-19.

Sebagaimana diketahui, semakin rendahnya suku bunga acuan bakal mendorong imbal hasil atau yield surat utang lebih rendah. Saat yield rendah maka harga obligasi bakal bergerak naik dan mendorong transaksi atau aksi jual di pasar obligasi.

Head of Investment Research Infovesta Wawan Hendrayana memprediksi, aktifitas rata-rata transaksi harian obligasi di tahun depan kemungkinan berkisar di Rp 29 triliun hingga Rp 42 triliun. Dengan perkiraan, yield untuk surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun berada di bawah 6%.


"Tahun ini suku bunga turun drastis, tahun depan enggak akan signifikan turunnya. Ditambah lagi, tahun ini valuasi obligasi murah sekali karena harga yang tertekan dalam," kata Wawan kepada Kontan.co.id, Rabu (10/11).

Ditambah lagi, tahun depan Wawan tidak melihat adanya potensi kenaikan suku bunga acuan, bahkan yang tampak justru ruang penurunan lagi. Berkaca dari inflasi Tanah Air yang masih di bawah 2%, dan tahun depan diprediksi 2% - 2,5% maka Wawan menilai level suku bunga yang berada di kisaran 3,5% hingga 3,75%.

Baca Juga: Transaksi pasar obligasi tahun depan diyakini masih ramai

Dengan menghitung risiko kenaikan suku bunga yang kecil di tahun depan, Wawan kian optimistis pada prospek pasar obligasi tahun depan. Maka, hal wajar jika BEI bakal mereview naik transaksi rata-rata harian obligasi di tahun depan, karen masa pandemi penuh ketidakpastian dan instrumen investasi seperti saham masih sangat volatile.

"Investor butuh aset yang kasih cashflow, terutama obligasi pemerintah. dengan begitu tahun depan obligasi masih akan dicari, dengan yield di bisa di 5,5% hingga 6% di kuartal I-2021. Kalau beli sekarang akan lebih menarik lagi return ke depan," jelasnya.

Untuk itu, Wawan mengungkapkan di tahun depan prospek obligasi lebih untuk memberikan rasa aman kepada investor, khususnya mereka yang mengincar yield 5% hingga 5% dalam setahun. Sedangkan untuk trading obligasi, dinilai tidak akan sebesar 2020 yang memiliki tingkat volatilitas tinggi.

Wawan juga mengingatkan, beberapa risiko bisa muncul ke depan dan berpotensi membuat gejolak di pasar obligasi. Di antaranya risiko jika pandemi Covid-19 berlanjut, atau vaksin yang tidak efektif dan risiko distribusi yang terhambat.

Di sisi lain, terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) yang baru, dinilai masih berpotensi menciptakan ketidakpastian.  Prediksinya, kebijakan Biden ke depan cenderung bersifat sosial termasuk untuk menggelontorkan stimulus dan melanjutkan program Obama Care, yang mana semuanya membutuhkan dana lewat surat utang dan berpotensi membuat dollar AS kembali tertekan.

Selanjutnya: Inilah Surat Berharga Negara Ritel yang Telah Diterbitkan di Tahun Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi