KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar obligasi domestik menghadapi tekanan sepanjang Juni 2026. Sejumlah faktor eksternal dan domestik, mulai dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), penguatan dolar Amerika Serikat (AS), hingga tingginya imbal hasil obligasi global, mendorong investor meminta premi risiko yang lebih besar untuk berinvestasi pada instrumen berdenominasi rupiah. Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang berujung pada penurunan harga obligasi. Di saat yang sama, kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga membuat sebagian investor lebih memilih instrumen jangka pendek yang menawarkan return lebih tinggi dengan risiko durasi yang lebih rendah.
Fixed Income Analyst PEFINDO, Ahmad Nasrudin, menjelaskan bahwa pelemahan pasar obligasi merupakan konsekuensi dari penyesuaian tingkat imbal hasil di pasar rupiah. Selain kenaikan BI Rate, sentimen negatif juga dipicu oleh kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, stabilitas nilai tukar rupiah, serta masih tingginya yield obligasi global.
Baca Juga: Indocement (INTP) Dibayangi Oversupply dan Biaya Energi, Cek Rekomendasi Sahamnya "BI Rate naik dari 5,25% pada akhir Mei menjadi 5,75% pada akhir Juni. Dalam periode yang sama, indeks dolar AS (DXY) juga menguat dari 98,94 menjadi 101,26, sehingga investor tetap meminta kompensasi imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang aset rupiah," ujar Ahmad kepada Kontan, Kamis (2/7). Menurut Ahmad, tekanan paling nyata terlihat dari kenaikan yield SBN di hampir seluruh tenor. Sepanjang Juni, yield SBN tenor dua tahun meningkat sekitar 47 basis poin (bps), tenor tiga tahun naik 49 bps, tenor lima tahun bertambah 33 bps, sedangkan tenor 10 tahun melonjak sekitar 43 bps. Kenaikan yield tersebut otomatis menekan harga obligasi karena keduanya memiliki hubungan yang berlawanan arah. Akibatnya, Indobex Government Bond Total Return Index terkoreksi sekitar 1,8% sepanjang Juni, lebih dalam dibandingkan Indobex Corporate Bond Total Return Index yang hanya melemah sekitar 0,4%. Selain tekanan dari kenaikan suku bunga, meningkatnya daya tarik SRBI turut memengaruhi pergerakan pasar obligasi. Yield SRBI tenor 12 bulan naik dari sekitar 6,92% pada akhir Mei menjadi 7,70% pada akhir Juni. Ahmad menilai kondisi tersebut mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen jangka pendek yang menawarkan tingkat pengembalian lebih menarik dengan risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan obligasi pemerintah tenor menengah hingga panjang. "Pasar sedang memasuki fase yield yang lebih tinggi, tetapi belum memasuki fase pemulihan yang solid karena stabilitas rupiah, perkembangan SRBI, arus dana asing, likuiditas, dan suplai obligasi masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan," kata Ahmad.
Obligasi Korporasi Lebih Tahan Tekanan
Di tengah pelemahan pasar obligasi, Ahmad melihat koreksi pada obligasi korporasi relatif lebih terbatas dibandingkan SBN. Menurutnya, pelemahan tersebut lebih dipengaruhi oleh kenaikan yield SBN sebagai acuan (benchmark), bukan karena meningkatnya risiko kredit emiten. Ia menjelaskan bahwa meskipun yield obligasi korporasi mengalami kenaikan, spread kredit di berbagai peringkat tidak mengalami pelebaran yang signifikan. Bahkan, pada obligasi dengan peringkat A dan BBB, spread justru cenderung menyempit sehingga pasar belum memandang adanya peningkatan risiko kredit secara sistemik. Sebaliknya, obligasi pemerintah mengalami tekanan lebih besar karena memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap perubahan suku bunga, pergerakan yield global, nilai tukar rupiah, serta ekspektasi penerbitan surat utang pemerintah.
Baca Juga: Harga Anjlok 48%, Yield Dividen Saham Konstruksi Ini 7,5%, Cek Jadwal Pembayaran! "Ketika investor meminta premi risiko yang lebih tinggi, penyesuaian harga pertama biasanya terjadi pada SBN karena menjadi benchmark utama kurva imbal hasil rupiah," kata Ahmad. Ia menambahkan, koreksi SBN juga dipengaruhi faktor teknikal. Permintaan dalam lelang SBN dinilai belum cukup kuat di tengah kebutuhan pembiayaan pemerintah yang masih tinggi. Investor tidak hanya mempertimbangkan level yield yang ditawarkan, tetapi juga kemampuan pasar dalam menyerap tambahan pasokan obligasi tanpa harus meminta premi risiko yang lebih besar.
Di sisi lain, karakteristik pasar obligasi korporasi yang lebih didominasi investor dengan strategi buy and hold membuat pergerakan harganya cenderung lebih stabil. Likuiditas yang lebih rendah juga menyebabkan proses repricing tidak berlangsung secepat obligasi pemerintah. Data PEFINDO menunjukkan bahwa pada Juni 2026, yield efektif obligasi korporasi berperingkat AAA tenor tiga tahun meningkat sekitar 59 bps. Namun, spread kredit AAA hanya melebar sekitar 11 bps. Sementara itu, pada obligasi berperingkat A dan BBB, kenaikan yield sebagian besar diimbangi oleh penyempitan spread kredit. "Kondisi ini menunjukkan penurunan indeks obligasi korporasi lebih banyak mengikuti kenaikan yield SBN, bukan karena investor secara luas menaikkan premi risiko kredit," kata Ahmad. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News