OCBC mulai siapkan bank umum syariah



JAKARTA. Memasuki usia lima tahun, Unit Usaha Syariah (UUS) OCBC NISP tengah menyiapkan diri untuk menjadi bank umum syariah (BUS). Bank milik investor Singapura tersebut sedang menggodok rencana kerja atau roadmap pemisahan bisnis (spin off) dari induk usaha.

Koko T. Rachmadi, Kepala Unit Usaha Syariah OCBC NISP mengatakan, pada tahap awal pihaknya bakal menyiapkan rencana spin off. Manajemen OCBC memperkirakan, setidaknya membutuhkan waktu selama tiga tahun, untuk menyiapkan spin off, yang dimulai pada tahun 2016 hingga 2019.

OCBC NISP selama masa tiga tahun tersebut, lanjut Koko, akan mengkaji pembentukan model bisnis, sumber daya manusia (SDM), dan teknologi informasi (IT). “Setelah itu, kami akan mengajukan izin ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” kata Koko, Senin (13/10).


Sekedar informasi, berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/10/PBI/2009, UUS wajib melakukan spin off dari sang induk, bank umum konvensional (BUK), apabila nilai asetnya mencapai 50% dari total aset induknya. Kewajiban tersebut berlaku, paling lambat 15 tahun sejak berlakunya UU Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah.

Saat ini, UUS milik OCBC NISP mencatatkan modal senilai Rp 200 miliar, dengan aset sebesar Rp 2,14 triliun. Namun nilai aset UUS itu masih jauh di bawah total aset OCBC yang mencapai Rp 100,59 triliun per Juni 2014.

Di tengah persiapan rencana pemisahan usaha, lanjut Koko, pihaknya akan meminta tambahan modal dari induk usaha. Hal ini akan dilakukan, jika rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) UUS menyusut karena masifnya penyaluran kredit. Hingga kini, posisi CAR UUS OCBC mencapai 15%.

Manajemen mematok target pertumbuhan pembiayaan pada tahun ini sebesar 40%. Target tersebut relatif stagnan dari perolehan tahun lalu yang juga tumbuh 40%. Sedangkan untuk pertumbuhan pendanaan, angkanya ditargetkan tumbuh 30%–35%.

Koko menambahkan, calon BUS OCBC NISP kelak akan memfokuskan diri pada bisnis konsumer dan ritel. Ia menggambarkan, bank umum syariah OCBC NISP bakal menyalurkan pembiayaan perumahan untuk kelas menengah. Sedangkan dari sisi pendanaan, perusahaan akan mengembangkan berbagai produk, seperti tabungan valuta asing (valas) dan tabungan komunitas.

“Kami sedang mengkaji dan membentuk izin produk ini. Harapannya sudah ada sebelum jadi BUS,” tambahnya. Andrae Krishnawan, Direktur Bank OCBC NISP bidang syariah menambahkan, pihaknya akan meningkatkan sinergi dengan berbagai pihak, tidak terkecuali dengan sang induk dalam menjalankan bisnis syariah. Sejumlah hal yang menjadi perhatian manajemen UUS OCBC adalah infrastruktur, informasi teknologi, sumber daya manusia dan standardisasi layanan kepada nasabah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie